Menelusuri Jejak Maospati, Dari Obrolan Hingga Menggali Identitas Sejarah
- 25 Jul 2026 07:13 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Magetan - Berawal dari obrolan sederhana di warung kopi, sekelompok pemuda GP Ansor Maospati justru menemukan pertanyaan besar: bagaimana sebenarnya sejarah Maospati?
Rasa penasaran itu kemudian diwujudkan dalam sebuah Sarasehan Sejarah bertema "Menggali Jejak Sejarah Maospati untuk Memperkuat Identitas Kebangsaan dan Kearifan Lokal" yang digelar di Pendopo Distrik Maospati, Selasa (21/7/2026) malam. Forum yang menghadirkan tokoh Magetan Suprawoto dan akademisi sekaligus sejarawan Madiun Raya, Akhlis Syamsal Qomar, itu menjadi ruang untuk membuka kembali lembaran sejarah salah satu kawasan tertua dan paling strategis di Kabupaten Magetan.
Ketua PAC GP Ansor Maospati, Zulfar Basunjaya Putra, mengatakan ide penyelenggaraan sarasehan muncul dari diskusi ringan para anggota Ansor dan Banser.
Menurut Zulfar, kegiatan tersebut menjadi langkah awal. Ke depan, pihaknya ingin melanjutkan kajian sejarah, mendokumentasikan berbagai temuan, hingga melakukan penelusuran langsung ke situs-situs bersejarah di Maospati.
"Tujuan akhirnya bukan sekadar mengetahui sejarah, tetapi menumbuhkan rasa bangga terhadap daerah sendiri dan memperkuat jiwa kebangsaan," katanya.
Bagi Suprawoto, Maospati bukan sekadar kampung halaman. Ia tumbuh di kawasan itu dan menyaksikan langsung berbagai perubahan yang terjadi selama puluhan tahun.
Saat diminta menjadi narasumber, mantan Bupati Magetan tersebut mengaku kembali membuka berbagai referensi sejarah yang dimilikinya untuk memastikan setiap informasi yang disampaikan memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
"Saya tidak ingin hanya menyampaikan cerita yang sifatnya 'katanya'. Apa yang saya sampaikan harus berdasarkan referensi, kemudian dipadukan dengan pengalaman saya selama hidup di Maospati," ujarnya.
Dari berbagai referensi itu, Suprawoto menilai Maospati sejak dahulu memiliki posisi penting. Berdasarkan kajian Universitas Negeri Surabaya (UNESA), kawasan tersebut merupakan titik pertemuan berbagai jalur atau melting point. Letak geografis itu pula yang membuat Maospati berkembang sebagai pusat politik maupun ekonomi sejak masa lampau.
Ia juga menjelaskan bahwa perkembangan Maospati tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Lanud Iswahjudi. Perluasan landasan pacu pada masanya bahkan menyebabkan sejumlah permukiman harus direlokasi karena kebutuhan operasional pesawat tempur yang semakin berkembang.
Suprawoto juga mengungkapkan alasan strategis mengapa kawasan itu dipilih sebagai lokasi pangkalan udara. Selain berada di tengah Pulau Jawa, Maospati dinilai memiliki posisi yang menguntungkan dari sisi mobilitas maupun pertahanan. Bahkan pada masa Presiden Soekarno, Lanud Iswahjudi pernah menjadi pangkalan utama pesawat jet di Indonesia sebelum kemudian pembangunan pangkalan serupa dilakukan di berbagai daerah lain.
Pandangan serupa disampaikan akademisi dan sejarawan Madiun Raya, Akhlis Syamsal Qomar. Menurutnya, sejarah Maospati menyimpan banyak lapisan yang masih layak dikaji.
Ia menyebut perjalanan Maospati memang mengalami pasang surut, tetapi sejak berabad-abad lalu kawasan tersebut telah memegang peran strategis. Bahkan jejak sejarahnya sudah dapat ditelusuri sejak masa sebelum Islam dan era Kerajaan Dharmawangsa.
"Setiap daerah memiliki memori kolektif dan identitas sejarah. Itu yang harus dipahami bersama agar sejarah tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi juga menjadi pijakan dalam merumuskan masa depan," katanya.
Akhlis juga menilai pemilihan Maospati sebagai lokasi pangkalan udara bukanlah keputusan tanpa pertimbangan. Posisinya di antara Gunung Lawu dan Gunung Wilis menjadikan kawasan Madiun Raya sebagai wilayah yang strategis dari sisi pertahanan maupun mobilitas.
Secara historis, lanjutnya, Maospati dapat dikategorikan sebagai kawasan dengan karakter kota garnisun atau kota militer karena memiliki fungsi penting dalam sistem pertahanan negara. Lembah Sungai Madiun sendiri sejak dahulu kerap menjadi arena pertempuran sekaligus titik berkembangnya berbagai pusat kekuasaan.
Di penghujung sarasehan, pesan yang disampaikan memiliki benang merah yang sama. Sejarah bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan bekal untuk menentukan arah masa depan.
Suprawoto mengingatkan pesan Presiden Soekarno tentang Jas Merah—jangan sekali-kali melupakan sejarah.
"Sejarah yang baik harus diteladani, sedangkan sejarah yang buruk jangan sampai terulang kembali. Kita sudah memiliki banyak catatan sejarah, tinggal bagaimana menjadikannya sebagai pelajaran," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....