Durian Saman Lereng Lawu Magetan, Harapan Baru Plangkrongan Jadi Desa Agropolitan

  • 21 Jul 2026 17:12 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Magetan - Sejuknya Lereng Gunung Lawu Desa Plangkrongan, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, Jawa Timur tersimpan harapan besar masyarakatnya untuk menjadikan durian lokal sebagai penggerak ekonomi desa.

Harapan itu mengemuka dalam kegiatan Pengukuhan Taruna Tani "Tunas Agro Sejahtera" yang dirangkai dengan Sarasehan Desa Agro Wisata bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pemerintah desa, petani, komunitas pecinta durian belum lama ini

Bagi warga Pelangkrongan, durian bukan sekadar komoditas musiman. namun telah menjadi identitas desa yang perlahan dibangun selama lebih dari satu dekade. Salah satu varietas andalannya, Durian Saman, bahkan telah ditetapkan sebagai varietas unggul nasional melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian pada 2026.

Peneliti Pusat Riset Hortikultura Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Cipto Nugroho, mengatakan pengakuan tersebut merupakan langkah awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan varietas lokal itu terus berkembang dan tidak tergeser oleh durian introduksi dari luar negeri.

"Status varietas unggul nasional bukan akhir, tetapi awal pengembangan. Kalau tidak segera diperbanyak, varietas lokal bisa kalah dengan varietas introduksi seperti Musang King atau Montong. Padahal kualitas Durian Saman tidak kalah bersaing," ujarnya.

Menurut Cipto, permintaan terhadap Durian Saman mulai meningkat, tetapi jumlah pohonnya masih terbatas. Dari hasil pendampingan BRIN, populasi yang terdata baru sekitar 350 pohon sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Karena itu, BRIN mendorong masyarakat memperbanyak populasi melalui teknik top working, sambung pucuk, maupun okulasi. Cara tersebut dinilai lebih cepat menghasilkan tanaman unggul dibanding memulai dari bibit baru.

"Langkah pertama adalah memperbanyak populasi. Setelah jumlah pohon mencukupi, baru produktivitas per pohon ditingkatkan melalui perbaikan teknik budidaya," katanya.

Selain jumlah pohon yang masih terbatas, perubahan pola cuaca juga menjadi tantangan. Curah hujan yang tinggi dalam dua tahun terakhir menyebabkan proses pembungaan durian terganggu sehingga hasil panen menurun. Meski demikian, optimisme masyarakat tetap tinggi.

Kepala Desa Pelangkongan, Wawan Setiyo Budi, menceritakan pengembangan durian di desanya berawal dari komunitas kecil pecinta durian yang terbentuk sekitar 2022. Awalnya mereka hanya berdiskusi dan saling berbagi pengalaman mengenai budidaya.

Pemerintah desa kemudian melihat potensi tersebut sebagai peluang pengembangan ekonomi. Berbagai kegiatan mulai digelar, mulai kenduri durian hingga menjalin kerja sama dengan Universitas Brawijaya melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN).

"Harapan kami ketika orang datang ke Pelangkongan, yang pertama diingat adalah duriannya. Namun cita-cita besarnya bukan hanya menjadi desa durian, melainkan kawasan agropolitan yang mengembangkan berbagai komoditas pertanian," kata Wawan.

Ia menyebut desa memiliki sekitar 2.000 hingga 3.000 pohon durian dengan lebih dari seribu pohon telah memasuki masa produktif. Selain Durian Saman, masyarakat juga mengembangkan varietas Rawuh, Montong, dan sejumlah durian lokal.

Menurut Wawan, tantangan terbesar saat ini justru berada pada perawatan tanaman.

"Durian tidak bisa hanya ditunggu saat musim panen. Pohon harus dipupuk, dipelihara, dan dirawat secara rutin supaya kualitas buahnya tetap terjaga," ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah desa juga mulai memikirkan hilirisasi hasil panen. Ketika produksi meningkat, buah tidak hanya dijual dalam kondisi segar, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah seperti selai, roti, maupun olahan pangan lainnya.

Ketua Taruna Tani Abadi, Desa Plangkrongan, Hasan Mahfudzi mengatakan kelompoknya tidak ingin berhenti pada kegiatan budidaya semata. Mereka menyiapkan gerakan bersama untuk memperbanyak tanaman buah sekaligus membangun kawasan agrowisata berbasis pertanian.

"Kami membangun tiga gerakan, yaitu menanam, merawat, dan memanen. Target kami sederhana, beberapa tahun ke depan Pelangkongan bisa menjadi salah satu pemasok buah dalam skala nasional," ujarnya.

Selama beberapa tahun terakhir, kata Hasan, pemerintah desa juga mengalokasikan dana desa untuk penyediaan bibit. Bersama Universitas Brawijaya, masyarakat melakukan top working pada pohon-pohon yang kualitas buahnya belum optimal agar menghasilkan Durian Saman dengan mutu yang lebih baik.

Ia memperkirakan budidaya Durian Saman telah berkembang sejak 2013. Meski data resmi belum sepenuhnya diperbarui, jumlah pohonnya diperkirakan mendekati seribu batang.

Hasan berharap pengembangan desa tidak bergantung pada musim durian yang hanya berlangsung beberapa bulan setiap tahun.

"Kalau orang datang hanya saat musim durian, desa akan ramai sebentar lalu sepi lagi. Ke depan kami ingin selalu ada buah yang bisa dinikmati sepanjang tahun, baik durian, alpukat, pisang, maupun komoditas lainnya," katanya.

Gagasan itu sejalan dengan konsep agropolitan yang tengah disiapkan pemerintah desa bersama BRIN dan Universitas Brawijaya. Durian Saman diposisikan sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan potensi pertanian Pelangkongan yang lebih luas.

Bagi masyarakat desa di lereng Lawu itu, menjaga Durian Saman bukan hanya mempertahankan satu varietas unggul. Lebih dari itu, mereka sedang membangun identitas daerah sekaligus membuka jalan agar sektor pertanian mampu menjadi sumber kesejahteraan baru bagi warga melalui agrowisata berbasis potensi lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....