Bukan Mindset Mandiri: Belajar Menghafal Alquran Sekaligus Wira Usaha

  • 07 Mar 2026 16:07 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Pondok Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan Islam yang telah berkembang di Indonesia sejak sebelum kemerdekaan. Pondok Pesantren identik siswa-siswi yang biasa disebut santri dan tinggal di pondok.

Belakangan, Pondok Pesantren tidak hanya belajar tentang ilmu agama, tetapi ada juga yang mengajarkan tentang bekal wira usaha. Antara lain, Pondok Pesantren Tahfid Preneur An-Najah Sambirejo Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun.

Mudir atau Kepala Pondok An-Najah Winni Alawiyah menyampaikan anak-anak dibagi menjadi dua fase dalam system pembelajaran di Ponpes An-Najah. Tahun pertama fokus pada hafalan Al Quran. Kemudian tahun kedua belajar tentang wirausaha antaralain Syariah Capital Market.

“Jadi fase pertama itu fase Quran Kemudian fase kedua baru fase Mereka mengabdi plus Untuk mempelajari syariah kapital markah Jadi setahun pertama itu fase Quran Mereka mulai dari tilawah dulu Sampai selesai khatam 30 juz sebanyak 40 kali pengulangan Baru setelahnya mereka menghafal Quran Target hafalannya itu 30 juz dalam waktu 70 hari Lalu kemudian di fase berikutnya mereka mau rojak Itu nanti mereka ada ujian-ujian hafalannya per bulan Jadi dari ujian hafalan 1 juz, 2 juz, sampai 30 juz Begitu“ kata Winni.

Ketua Asrama Pondok an Najah Mulkiyah Awaliyah menyampaikan dalam melakukan pembelajaran santriwati membentuk kelompok untuk menyelesaikan sejumlah tugas. Di bulan Ramadan antara lain menyelesaikan hafalan dua juz maupun amalan keseharian lain. Bahkan, untuk agar fokus hafala, santri tidak diperkenankan membawa gadget.

“Disini ada beberapa fase yang sedang dijalankan yang pertama fase ziyadah kemudian ada juga yang fase meroja'ah dan ada yang pengabdian tiga berarti controlling gadget ini seperti apa ya? Mereka tidak diperkenankan untuk pegang HP. Jadi waktu pas mereka datang ke sini, HP dikumpul dan dibagikannya saat jadwal peneleponan. Dan itu pun enggak tentu. Paling cepat sebulan sekali gitu. Atau bahkan sampai dua bulan sekali baru mereka dikasih lagi HP. Sehari-hari mereka enggak dikasih HP. Kecuali kalau dia ada tugas dari lembaga dan itu pun menggunakan HP lembaga“kata Mulkiyah

Pengasuh Pondok An-Najah Ustad Razas MS menyampaikan ada tantangan tersendiri dalam membentuk santri yang hafal alquran tetapi juga memiliki jiwa wisausaha. Fokus santri kadang terpecah antara hafalan dengan usaha seperti saham syariah. Sehingga santri perlu diingatkan untuk disiplin dalam membagi waktu.

“Mungkin ada dua tantangannya. Yang pertama terkait fokus santri. Jadi terbagi antara menjaga Al-Qurannya dengan pasar modal syariahnya. Itu cukup jadi PR. Kalau sudah keasikan main saham syariah, biasanya suka lupa waktu juga gitu sehingga itu yang harus kita jagain supaya santri bisa disiplin sama waktunya kapan dia waktu dengan Al-Quran kapan dia dengan pasar saham itu harus disiplin gitu“ kata Razas.

Senada Kepala Pondok An Najah Winie Alawiyah menambahkan santri di Pondok An Najah tidak hanya belajar al quran. Santri juga dibentuk untuk memiliki jiwa wira usaha sesuai kemampuan masing-masing. Harapannya santri dapat tumbuh dan berkembang.

“Jadi sebetulnya yang kita tanamkan disini itu mindset trainernya karena mungkin basisnya disini kan beasiswa. Jadi kita membangun dulu mental mereka supaya tidak terkungkung menjadi muslim_yang mohon maaf_mungkin terbatas secara finansial. Sehingga mereka dengan dibukanya mindset itu mereka mau berkembang dan bertumbuh dengan belajar mengembangkan semua potensi yang mereka miliki. Kalau misalkan mereka tidak kuat di syariah capital market, mungkin mereka punya potensinya di bidang lain. Di media kita kembangkan ke situ gitu, ada yang potensinya ke bidang ke-Quranan, kita kembangannya di situ. Sehingga apapun potensi yang mereka miliki, itu jadi bahan mereka untuk mendiri di kemudian hari.”kata Winie.

Winnie menambahkan santri berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari Lampung, Sulawesi, Sumatra dan berbagai daerah di Pulau Jawa.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita