Menjadikan Sunnah sebagai Pedoman dalam Berbuka Puasa

  • 28 Feb 2026 20:37 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Menghidupkan sunnah dalam berbuka puasa bukan sekadar menjalankan kebiasaan, tetapi merupakan upaya sadar untuk menyelaraskan ibadah puasa dengan teladan terbaik, yakni Rasulullah SAW. Berbuka puasa bukan hanya soal menghilangkan lapar dan dahaga setelah seharian menahan diri, tetapi juga merupakan momentum spiritual yang sarat makna ibadah, rasa syukur, dan peningkatan takwa kepada Allah SWT.

Sunnah menyegerakan berbuka ketika waktu Magrib tiba menjadi perhatian utama dalam ini. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa manusia yang menyegerakan berbuka berada dalam kebaikan, menunjukkan bahwa ketaatan terhadap waktu ibadah termasuk bagian dari keimanan. Menyegerakan berbuka menunjukkan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat hidup dan kekuatan yang diberikan di sepanjang hari. Selain itu, menyegerakan berbuka juga membantu tubuh secara alami mendapatkan energi kembali setelah seharian berpuasa, sehingga kesehatan jasmani tetap terjaga.

Bagian penting lain dari berbuka puasa adalah membaca doa sebelum menyantap hidangan. BAZNAS menekankan bahwa membaca doa berbuka puasa membantu seorang Muslim menghadirkan kesadaran akan peran Allah SWT dalam setiap rezeki yang diterimanya. Doa yang diajarkan Rasulullah SAW ini bukan sekadar kalimat, tetapi mengandung makna ketundukan bahwa puasa dilakukan karena Allah dan berbuka pun karena nikmat rezeki-Nya.

Sunnah berbuka dengan kurma atau air menjadi bagian tak terpisahkan dari ini. Mengutip dari laman BAZNAS, bahwa Rasulullah SAW biasa berbuka dengan kurma basah (ruthab), dan jika tidak tersedia, kurma kering atau air putih menjadi alternatif yang dianjurkan. Kurma yang memiliki kandungan gula alami membantu memulihkan energi secara cepat, sementara air membantu mengembalikan cairan tubuh yang hilang selama berpuasa. Prinsip ini mencerminkan keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan spiritual dalam sunnah berbuka, yakni sederhana, sehat, dan penuh hikmah.

BAZNAS juga menekankan pentingnya berbuka secara wajar dan tidak berlebihan. Islam mengajarkan bahwa makan dan minum adalah nikmat yang harus dinikmati dengan penuh syukur, namun tanpa sikap berlebihan. Dengan mengatur porsi makanan yang seimbang, seorang Muslim dapat menjaga kesehatan pencernaan, mengoptimalkan energi, dan tetap fokus melaksanakan ibadah malam seperti salat tarawih. Prinsip ini tidak hanya penting secara fisik, tetapi juga mencerminkan akhlak sederhana seorang hamba kepada Allah SWT.

Setelah berbuka ringan, sunnah berikutnya adalah mendahulukan salat Magrib sebelum menyantap hidangan utama, menunjukkan bahwa urusan ibadah selalu didahulukan di atas kebutuhan duniawi. Lebih jauh lagi, BAZNAS menekankan bahwa pilihan makanan yang halal, bergizi, dan seimbang merupakan bagian dari adab berbuka puasa yang dianjurkan dalam Islam. Dengan demikian, setiap Muslim diharapkan tidak hanya mengejar kenikmatan rasa, tetapi juga memikirkan efek jangka panjang terhadap kesehatan dan stamina tubuh.

Berbuka puasa yang sesuai sunnah bukan hanya soal rutinitas, tetapi merupakan bagian dari perjalanan spiritual dalam menjalankan ibadah Ramadan. Sebagaimana disampaikan BAZNAS, berbuka puasa yang dilaksanakan sesuai tuntunan sunnah menciptakan momen yang penuh keberkahan, kesehatan, rasa syukur, dan kebahagiaan yang tidak hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi juga oleh orang-orang di sekitar kita ,keluarga, tetangga, dan kaum dhuafa.

Rekomendasi Berita