Berawal dari Kejebur, Kini Bersyukur Jadi Guru SLB
- 15 Jan 2026 17:51 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Ngawi - Bagi sebagian orang, cita-cita adalah rencana yang disusun matang. Namun bagi Juru Bahasa Isyarat di Kabupaten Ngawi, Faisal Cahyo Laksono, langkahnya menjadi guru Sekolah Luar Biasa (SLB) dan Juru Bahasa Isyarat justru bermula dari ketidaksengajaan, atau yang ia sebut dengan istilah “kejebur”.
Faisal bercerita, saat menjelang lulus SMA dulu, ia sempat bimbang memilih jurusan kuliah. Cita-citanya saat itu sebenarnya sederhana, menjadi guru olahraga. Namun, sebuah saran dari sepupunya untuk mencoba jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) mengubah garis hidupnya.
“Mas coba ambil atau daftar PLB. Nanti output-nya itu masih bagus, di dunia kerjanya itu masih bagus karena jarang ada yang milih ini. Lapangan pekerjaannya memang masih luas banget. Di dunia gurunya juga jarang ada yang daftar jadi guru SLB kayak gitu," begitu ujar Faisal menirukan ucapan sepupunya dulu, Selasa 13 Januari 2026.
Tanpa disangka, saat pengumuman SBMPTN, Faisal justru diterima di jurusan PLB. Pada awal masa kuliah, pria yang kini juga mengajar di SLB Negeri 1 Ngawi itu mengaku benar-benar buta soal dunia disabilitas. Namun, seiring berjalannya waktu, rasa "kejebur" itu perlahan berubah menjadi rasa syukur yang mendalam.
“Terus mulai memasuki masa kuliah itu banyak rasa syukurnya. Saya bersyukur saya diberi nikmat kayak gini. Jadi lebih banyak bersyukurnya,” tutur Faisal.
Titik paling menyentuh bagi Faisal adalah saat masa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Berinteraksi langsung dengan anak-anak istimewa memberi Faisal pengalaman emosional yang mendalam.
“Kenangan-kenangan zaman kuliah dulu benar-benar menyentuh,” ujarnya.
Kini, Faisal memandang profesinya bukan sekadar pekerjaan, melainkan investasi jangka panjang. Ada kepuasan batin tersendiri saat ia bisa menjadi jembatan komunikasi bagi anak-anak disabilitas melalui bahasa isyarat.
Bagi Faisal, mengabdi di dunia disabilitas adalah caranya mempersiapkan masa depan yang lain. Ia selalu memegang teguh nasihat orang tua bahwa pekerjaan ini adalah amal jariyah.
“Kalau kata orang tua, ya buat celengan lah di kehidupan selanjutnya,” ujarnya.
Dari seorang pemuda yang bermimpi jadi guru olahraga di lapangan, kini Faisal berdiri di ruang kelas, menjadi suara bagi mereka yang bicara lewat isyarat. Cerita Faisal menjadi contoh nyata bahwa kebahagiaan seringkali datang dari jalan yang tak pernah terduga. (UF)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....