Healing Jadi Lifestyle: Gen Z dan Budaya Self-Care
- 23 Sep 2025 08:29 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun : Dari sekedar nongkrong di café estetik, staycation singkat, sampai traveling ke alam, semua kini bisa dilabeli sebagai healing. Fenomena ini paling kencang terasa di kalangan Gen Z, generasi yang tumbuh dengan tuntutan akademik, pekerjaan, sekaligus derasnya arus media sosial.
Awalnya, healing adalah istilah psikologi untuk proses pemulihan mental atau emosional. Namun, bagi Gen Z, healing bukan lagi sekedar terapi melainkan gaya hidup. Mereka memaknainya sebagai waktu jeda, me time, bahkan bentuk apresiasi diri setelah merasa lelah dengan rutinitas.
Instagram dan TikTok punya peran besar dalam membentuk tren ini. Foto sunset, kopi hangat, atau hamparan sawah kerap dipajang dengan caption “healing.” Konten semacam itu membentuk estetika baru: bahwa healing bukan hanya soal rasa, tapi juga bisa dilihat, dibagikan, dan bahkan menjadi identitas digital.
Menurut survei Katadata Insight Center (2023), lebih dari 60% Gen Z di Indonesia merasa sering stres karena tekanan pekerjaan, akademik, dan ekspektasi sosial. Healing jadi cara mereka menyeimbangkan diri baik lewat kegiatan sederhana seperti rebahan sambil menonton series, maupun aktivitas seperti solo traveling.
Fenomena healing sering dikritik sebagai gaya hidup konsumtif. Tidak sedikit yang mengaitkannya dengan budaya ngopi mahal atau liburan demi konten. Namun, di sisi lain, healing juga mencerminkan kesadaran baru bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan fisik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....