Jejak Peringatan HUT-RI Ngawi dari Masa ke Masa

  • 27 Agt 2025 21:26 WIB
  •  Madiun

KBRN, Ngawi : Ngawi selalu punya cara sendiri untuk merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. Dari upacara sederhana di lapangan desa pada tahun-tahun awal kemerdekaan, hingga karnaval budaya yang penuh warna seperti saat ini, perjalanan peringatan 17 Agustus di Bumi Orek-Orek merekam denyut nasionalisme masyarakatnya.

Bagi generasi tua Ngawi, kenangan 17 Agustus di tahun-tahun 1950-an begitu melekat. Di desa-desa, warga hanya menggelar upacara bendera di lapangan, disusul doa bersama di masjid atau balai desa. “Waktu itu belum ada perlombaan seperti sekarang. Yang penting kami bisa kibarkan Merah Putih, itu sudah luar biasa,” kenang Mbah Suyatno (83), sesepuh asal Kecamatan Geneng.

Memasuki era Orde Baru, peringatan HUT RI di Ngawi mulai berubah lebih meriah. Upacara di Alun-Alun Ngawi dilaksanakan dengan protokol ketat. Di desa-desa, selain upacara, lomba rakyat menjadi agenda wajib. Panjat pinang, balap karung, hingga tarik tambang menjadi ajang tawa sekaligus pemersatu. “Saya masih ingat, tahun 1980-an, anak-anak kampung berebut hadiah sabun atau minyak goreng dari panjat pinang. Rasanya meriah sekali,” ujar Marni (62), warga Kedunggalar.

Setelah era reformasi, perayaan di Ngawi makin terbuka. Pemerintah daerah mulai menggabungkan upacara kenegaraan dengan karnaval budaya. Berbagai sekolah dan komunitas tampil di jalan raya dengan kostum warna-warni, mempersembahkan tarian tradisional hingga atraksi modern. Tidak hanya hiburan, tapi juga ruang ekspresi bagi generasi muda.

Pandemi Covid-19 sempat mengubah wajah peringatan HUT RI di Ngawi. Tahun 2020–2021, upacara dilaksanakan terbatas, sebagian warga mengikuti secara daring. Tidak ada karnaval, tidak ada lomba massal. Namun justru di tengah kesunyian itu, semangat kebangsaan terasa lebih personal. “Meski di rumah, kami tetap kibarkan bendera. Rasanya haru sekali,” kata Lestari (35), warga Karangjati.

Tahun 2025 menjadi tonggak bersejarah dengan perayaan HUT RI ke-80. Di Ngawi, rangkaian acara digelar mulai tirakatan, renungan suci di Taman Makam Pahlawan, hingga Ngawi Specta Carnival yang memadukan seni tradisional dengan kreativitas anak muda. Lebih dari itu, Pemkab Ngawi mengundang dua mantan napiter untuk hadir dalam upacara. Sebuah langkah simbolis, menegaskan bahwa kemerdekaan milik semua, dan persatuan adalah tujuan bersama.

Dari upacara sederhana hingga karnaval spektakuler, benang merahnya tetap sama yaitu semangat nasionalisme warga Ngawi tidak pernah padam. Generasi berganti, cara merayakan berubah, tapi makna 17 Agustus selalu menjadi pengingat bahwa kemerdekaan adalah hasil perjuangan panjang yang wajib dijaga.

“Ngawi punya sejarah perjuangan, dan setiap 17 Agustus adalah saatnya kami mewariskan semangat itu ke generasi muda,” ucap Bupati Ngawi dalam sambutannya pada HUT RI ke-80. (umi).


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....