Anak PAUD-TK Belajarnya Lewat Bermain
- 01 Agt 2025 22:53 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun: Seorang anak menyusun balok warna-warni di sudut kelas. Di meja lain, dua anak saling berbagi spidol dan tertawa sambil menggambar rumah. Di pojok baca, seorang anak asyik membolak-balik buku bergambar. Bagi orang dewasa, itu mungkin hanya permainan. Tapi bagi dunia pendidikan anak usia dini, inilah proses belajar yang sesungguhnya.
Di PAUD dan TK, bermain adalah inti dari pembelajaran. Bukan sekadar aktivitas pengisi waktu, melainkan cara alami anak memahami dunia, membangun koneksi otak, dan mengembangkan kemampuan sosial-emosional.
Bermain = Belajar. Anak usia 0–6 tahun berada pada masa perkembangan otak tercepat dalam hidupnya. Pada masa ini, bermain menjadi metode pembelajaran paling efektif, karena menyatu dengan cara kerja otak anak.
"Otak anak bekerja saat mereka bergerak, berbicara, menyentuh, dan meniru. Dan semua itu terjadi saat mereka bermain." Dr. Elly Risman, Psikolog Keluarga dan Anak
Saat anak menyusun balok, mereka sedang belajar logika, koordinasi tangan-mata, dan ketekunan. Saat bermain jual beli, mereka mengenal angka, negosiasi, dan empati. Saat bermain peran menjadi dokter atau guru, mereka mengembangkan imajinasi dan komunikasi.
Salah Kaprah, Main Itu Bukan Belajar? Sayangnya, masih banyak orang tua yang salah kaprah. Mereka merasa anak harus diajari membaca dan berhitung sedini mungkin, dan menganggap bermain adalah buang waktu. Akibatnya, anak-anak usia 3-5 tahun dipaksa duduk tenang, mengerjakan lembar kerja, bahkan ikut bimbingan belajar.
"Kami sering ditanya, 'Kok anak saya belum bisa baca?' Padahal usianya baru 4 tahun. Kami harus menjelaskan berulang kali bahwa tugas kami bukan mempercepat, tapi memastikan mereka siap secara emosional dan sosial dulu," kata Bu Rita, guru TK di Madiun.
Kurikulum PAUD 2025. Bermain Itu Wajib. Kementerian Pendidikan melalui Kurikulum PAUD 2025 secara tegas menekankan bahwa bermain adalah pendekatan utama pembelajaran di PAUD dan TK. Guru didorong membuat kegiatan yang merangsang rasa ingin tahu, eksplorasi, dan interaksi sosial.
Tidak ada lagi penekanan pada capaian akademik kognitif di usia dini. Penilaian pun dilakukan melalui observasi proses bermain, bukan hasil akhir.
“Jangan ganggu anak yang sedang bermain. Itu sama dengan mengganggu proses belajar yang paling alami bagi mereka.” Nadiem Makarim.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....