Perilaku Agresif Pada Individu Autis Saat Belajar

  • 29 Jun 2025 21:22 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun: Perilaku agresif pada individu dengan autisme bisa menjadi tantangan yang kompleks baik bagi individu itu sendiri maupun bagi guru, orang tua, atau pendamping. Perilaku agresif ini tidak selalu terjadi karena niat jahat, tapi seringkali merupakan bentuk komunikasi atau respon terhadap situasi yang sulit mereka pahami atau atasi.

Arif Budi Santoso, pemilik sekolah anak autis dan special need Delta Ozora saat menjadi narasumber Mozaik Indonesia Pro 1 RRI Madiun, Sabtu (18/6) mengungkapkan, perilaku agresif pada individu autis adalah penolakan belajar yang dilakukan, “hal ini dipengaruhi beberapa hal diantaranya adanya kesulitan komunikasi, ataupun penyebab penyerta yang sebelumnya muncul, sehingga anak tidak mau belajar, “ tuturnya.

Kesulitan komunikasi seringkali menjadi penyebab utamanya, individu autisme kesulitan mengungkapkan kebutuhan, perasaan atau kebingungan secara verbal, sehingga memunculkan rasa frustasi pada anak dan muncul perilaku agresif.

Banyak individu autis memiliki sensitivitas terhadap suara, cahaya, sentuhan atau suasana kelas yang ramai. “Bisa jadi ketika di awal tidak muncul perilaku agresif, tapi di tengah tengah muncul, nah ini bisa jadi karena adanya sensori yang berlebihan, “ ungkapnya. Perilaku penolakan atau agresif belajar tidak hanya muncul di awal sesi belajarm di tengah, atau bahkan di akhir sesi latihan. Hal ini menurut Arif menjadi tantangan para orang tua, pendamping, maupun terapis atau guru dalam memahami gaya belajar individu autis.

Inidividu autis sering tergantung pada rutinitas, perubahan jadwal atau metode belajar yang mendadak, bisa memicu kecemasan dan perilaku agresif. Selain itu tugas yang terlalu sulit atau tidak sesuai dengan kemampuan mereka, bisa membuat mereka frustasi, serta bereaksi dengan perilaku agresi sebagai bentuk pelampiasan.

Bentuk perilaku agresi yang mungkin muncul, biasanya memukul, mencakar, menggigit, menjerit membentak, merusak barang, menyakiti diri sendiri. Strategi penanganan, menurut Arif harus diketahui terlebih dahulu penyebab atau pemicu perilaku agresif, hal ini akan membantu menemukan solusi. Metode pendekatan yang biasa digunakan adalah pendekatan functional behavior assessment. Untuk mencegah perilaku tersebut berulang, setiap anak melakukan sesuatu yang benar atau berhasil, sebaiknya diberikan pujian atau hadiah. Kita sebaiknya menghindari hukuman fisik atau verbal yang justru bisa memperburuk agresi. Selain itu juga dengan bentuk rutinitas yang konsisten dan terstruktur membantu anak merasa aman dan paham apa yang dilakukan berikutnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....