Jejak Canting Sri Rungkana: Mengukir Kasih Keluarga dan Pakem Bunga di Batik Tulis N

  • 27 Agt 2026 18:03 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Di tengah perkembangan modernisasi dan maraknya busana bermotif batik cetak (print) yang diproduksi secara massal, sebuah ketekunan tinggi terus jaga di Kelurahan Banjarejo, Kecamatan Taman. Dimana Sri Rungkana mengembangkan seni dan ketrampilannya. Melalui usaha kerajinan batik tulis bernama Batik Tulis Nadthom, ia tidak hanya menjual selembar kain batik, melainkan merawat pakem tradisi, nilai eksklusivitas, serta jalinan kasih keluarga yang melekat erat pada setiap torehan cantingnya.

Pemberian nama sebuah usaha kerap dipikirkan secara matang berbulan-bulan, namun berbeda halnya dengan Batik Nadthom. Sri Rungkana mengenang bahwa nama tersebut lahir dari momen yang tidak disengaja saat dirinya mengikuti pelatihan kerajinan di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker).

"Nadthom itu sebenarnya ambilnya juga nggak sengaja. Waktu itu kan ada ikut pelatihan di Disnaker, di sana pas hari terakhir langsung masing-masing peserta disuruh bikin nama batiknya nanti buat usaha dadakan di sana. Terus saya ambil Nadthom karena anak saya kan dua: Nada sama Thomi.", ujar Sri Rungkana, Pemilik Batik Tulis Nadthom

Inspirasi awal Sri dengan dunia batik tulis tidak sekedar untuk bisnis belaka. Saat melihat brosur pelatihan batik tulis, pikiran sederhananya terpesona oleh ide yang hangat, betapa indahnya jika satu keluarga dapat mengenakan baju seragam hasil buatan tangan sendiri, mulai dari proses menggambar motif awal di atas kain putih hingga menjadi pakaian jadi.

Seiring berjalannya waktu, niat yang awalnya hanya untuk membuat seragam keluarga tersebut menarik perhatian masyarakat sekitar. Apresiasi berdatangan, hingga satu per satu pesanan kain batik tulis mulai mengalir. Niat awal yang mulia itu pun bertransformasi menjadi unit usaha UMKM yang mandiri.

Setiap pengrajin batik tulis memiliki 'jiwa' dan karakter pada karyanya. Batik Tulis Nadthom konsisten memegang pakem identitasnya, yaitu unsur tanaman dan motif bunga. Apapun gambar atau tema dasar yang diminta pemesan, elemen bunga selalu hadir menjadi simbol utama yang mempercantik kain.

Dalam proses pembuatannya, Sri mengatakan bahwa tahapan paling rumit dan membutuhkan ketelitian paling tinggi adalah mengaplikasikan motif pesanan ke atas kain (proses pembuatan pola awal) . Seringkali pelanggan membawa contoh gambar kustom yang rumit. Mengubah ilustrasi di kertas menjadi pola batik yang presisi di atas serat kain halus tidaklah mudah, terlebih harus tetap mempertahankan ciri khas pakem motif bunga khas Nadthom.

"Yang rumit itu biasanya motifnya. Kadang kan kalau ada yang pesen, dia membawa gambar contoh. Kita itu kadang untuk mengaplikasikan di kain kadang-kadang tidak semudah itu. Kita tetap setia dengan pakem kita... di setiap batik punya ciri khas, seperti bunga. Di gambar apapun selalu ada bunganya.", pungkas Sri Rungkana.

Maraknya batik cetak (print) berbahan kimia dengan harga murah dan proses produksi cepat menjadi tantangan tersendiri bagi pengrajin batik lokal. Meskipun demikian, Sri Rungkana tidak menjadikan hal tersebut sebagai ancaman secara berlebihan. Menurutnya, batik tulis dan batik cetak berada di tempat pemasaran yang jauh berbeda.

Batik tulis dikerjakan secara manual dengan canting, lilin malam, dan kesabaran ekstra yang memakan waktu lama. Hal ini menciptakan nilai seni tinggi serta eksklusivitas yang tidak bisa ditiru oleh mesin cetak.

Tantangan terbesar bagi UMKM batik lokal saat ini adalah menjaga kestabilan operasional di tengah dinamika pasar, namun kesetiaan pelanggan menjadi fondasi utama keberlanjutan Batik Tulis Nadthom. Walaupun harganya relatif lebih mahal dibanding batik cetak, pecinta sejati batik tulis selalu menghargai detail rumit dan keotentikan karya buatan tangan.(KNA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....