Tak Mengejar Viral, My Sweet Loaf Pilih Tumbuh Perlahan Demi Jaga Kualitas Produk

  • 28 Jul 2026 11:16 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Di tengah menjamurnya bisnis bakery dan kuliner di Madiun, My Sweet Loaf memilih strategi yang berbeda. Owner My Sweet Loaf, Khoirunnida Husni Fajaria, lebih mengutamakan kualitas produk dan kepuasan pelanggan dibanding mengejar popularitas dalam waktu singkat.

Sejak memulai usaha pada Oktober 2025, Dida- sapaan akrabnya masih mengelola seluruh proses produksi secara mandiri. Mulai dari membeli bahan baku, membuat adonan, memanggang, mengemas produk, hingga melayani pelanggan dilakukan sendiri dengan bantuan suami.

Meski pesanan terus meningkat, Dida memilih tidak menggunakan promosi berbayar ataupun jasa influencer. Keputusan itu diambil karena ia ingin memastikan kapasitas produksi mampu memenuhi permintaan pelanggan tanpa menurunkan kualitas.

"Kalau tiba-tiba viral sementara sistem kita belum siap, nanti pelanggan malah kecewa. Saya masih belanja sendiri, ngadon sendiri, sampai ngurus admin sendiri. Jadi lebih baik pelan-pelan, tapi kualitas tetap terjaga." kata Dida belum lama ini.

Strategi pemasaran My Sweet Love lebih banyak mengandalkan media sosial. Dari berbagai platform yang digunakan, Threads justru menjadi penyumbang pelanggan terbanyak.

Menurut Dida, sekitar 70 hingga 80 persen pesanan berasal dari platform tersebut, disusul Instagram, sementara TikTok masih dalam tahap pengembangan. Selain aktif membuat konten, Dida juga fokus mempertahankan pelanggan lama melalui kualitas rasa yang konsisten.

Ia menyadari bahwa repeat order menjadi salah satu kunci agar usaha dapat terus berkembang. Dalam perjalanannya, Dida menemukan identitas produknya sendiri.

Berbeda dengan kebanyakan bakery yang menawarkan rasa manis, banana bread My Sweet Loaf justru dikenal memiliki rasa yang lebih ringan sehingga cocok untuk konsumen yang mulai memperhatikan pola makan sehat.

"Saya baru sadar ternyata pelanggan suka karena rasanya tidak terlalu manis. Itu akhirnya menjadi ciri khas yang harus saya pertahankan ketika membuat produk baru." jelasnya.

Menurut Dida, pelaku UMKM juga harus memahami perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP). Dengan mengetahui biaya produksi secara rinci, pelaku usaha dapat menentukan strategi ketika harga bahan baku mengalami kenaikan tanpa harus mengorbankan kualitas.

"Kalau target pasar kita sudah jelas, saya lebih memilih mengamankan kualitas daripada menurunkan standar produk," tambahnya.

Kesuksesan sebuah usaha tidak selalu ditentukan oleh seberapa cepat dikenal banyak orang. My Sweet Loaf memilih tumbuh secara perlahan dengan fondasi kualitas yang kuat. Strategi tersebut menjadi bukti bahwa kepercayaan pelanggan merupakan aset paling berharga dalam membangun bisnis yang berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....