Warga Desa Wayut Kembangkan Produk Olahan dari Komoditas Madiun
- 19 Jun 2026 10:22 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun — Warga Desa Wayut, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun mendapat pendampingan untuk mengembangkan produk olahan berbahan komoditas di Madiun. Pendampingan tersebut dilakukan oleh tim dari Akademi Farmasi Surabaya yang merupakan bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat, melalui Program Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP) yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Republik Indonesia, Risbang dan Kemdiktisaintek.
Salah satu pemateri, Kinanti Ayu Puji Lestari, menjelaskan warga mendapat pelatihan mengolah kolang-kaling kulit jeruk nambangan menjadi produk acar. Kedua bahan tersebut dipilih karena memiliki keterkaitan dengan Madiun.
"Madiun itu merupakan penghasil kolang-kaling terbesar di Jawa Timur. Hal itu sesuai dengan survei yang sudah kami lakukan. Kedua, Madiun juga penghasil jeruk besar yang disebut dengan jeruk Nambangan. Kami berinovasi menggunakan dua bahan tersebut untuk produk yang kami buat yakni acar kolang-kaling dan kulit jeruk Nambangan," ujarnya, Kamis (18/6/2026).
Dalam pelatihan tersebut, warga diajarkan membuat acar berbahan kolang-kaling dan bagian putih kulit jeruk nambangan yang telah diolah sehingga aman dikonsumsi. Sementara bagian hijau kulit jeruk akan dimanfaatkan menjadi eco-enzim.
Produk acar tersebut dipadukan dengan kuah berbahan sari nanas dan tersedia dalam dua varian rasa, yakni original dan pedas. Varian pedas ditambahkan setelah tim melakukan riset dan menemukan sebagian calon konsumen menginginkan cita rasa acar yang lebih kuat.
Tim pendamping memperkenalkan produk acar tersebut dengan merek Acar CAH dan tagline "Belum ke Madiun kalau belum membeli acar kolang-kaling dan kulit jeruk Nambangan, cah'.
Sebelum diperkenalkan lebih luas, produk tersebut telah diuji kepada warga Desa Wayut. Hasilnya, produk mendapat respons positif dari masyarakat.
"Kemarin pada saat kami membuat produk, produk tersebut juga diberikan kepada warga untuk tes pasar. Dan respon warga memang positif sekali, sehingga kemarin ada yang sampai tidak kebagian karena kehabisan. Hal tersebut kami gunakan sebagai pancingan, agar selanjutnya saat tim produksi promosi di whatsapp atau grup warga, mungkin warga bisa tertarik untuk order produk ini," kata Kinanti.
Sebanyak 35 hingga 40 jamaah dan anggota Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) At-Taqwa mengikuti pelatihan tersebut. Dari peserta yang hadir, tim pendamping kemudian membentuk kelompok produksi bernama Mosaik yang beranggotakan tujuh orang.
Menurut Kinanti, anggota kelompok tersebut dipilih karena memiliki visi yang sama untuk mengembangkan produk inovatif tersebut. Selama pelatihan, peserta mendapatkan pembekalan mengenai pemilihan bahan baku, proses pengolahan hingga penekanan tentang penerapan standar operasional prosedur (SOP) agar kualitasnya produk terjaga.
"Kami memberikan informasi bagaimana cara memilih kolang-kaling, cara mengolah kulit jeruknya, cara pemotongan kulitnya, bagaimana jumlahnya, kapasitasnya, perbandingannya dan lain sebagainya. Kami menekankan kepada SOP, sehingga produk yang kami bawa pada saat kami datang dan produk yang dipasarkan memiliki kualitas yang sama dari hulu hingga hilirnya," tambahnya.
Kedepan, tim pendamping akan terus melakukan pemantauan terhadap penerapan SOP dan cara pemasaran produk. Pendampingan tersebut direncanakan berlangsung hingga akhir 2026 sesuai kontrak program dengan Kemdiktisaintek.
Kinanti berharap program tersebut tidak hanya menambah pengetahuan masyarakat, tetapi juga membuka peluang usaha baru yang dapat meningkatkan kesejahteraan warga.
"Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Selain mendapatkan edukasi dan pelatihan, kami juga berharap produk ini bisa membantu meningkatkan ekonomi warga, khususnya tim produksi Mosaik dan masyarakat sekitar Masjid At-Taqwa," jelasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....