Lebih Dari 4 Dekade, Semangat Bu Sumarti Penjual Tenongan Keliling Kota Madiun

  • 13 Jun 2026 09:03 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Senyum pagi penuh semangat terlihat dari Sumarti, penjual tenongan keliling di Kota Madiun. Setiap pukul 09.00, kayuhan sepedanya dimulai dari Jalan Barito, Kota Madiun, dengan membawa aneka jajanan tradisional yang ia ambil dari seorang Juragan kue.

Usianya saat ini adalah 65 tahun, namun semangatnya bersama dengan sesama penjual tenongan keliling lainnya tidak surut. Kepada RRI Madiun, Sumarti menceritakan kisah perjalanannya mengais rezeki dari tenongan keliling.

Sejak tahun 1977 Sumarti, berjalan kaki mengelilingi sejumlah sudut kota Pendekar ini dengan menjajakan aneka jajanan tradisionalnya. “Dahulu awal- awal jualan berjalan kaki sambil menggendong tenongan, tetapi tahun 1979 mulai beralih naik sepeda biar lebih jauh lagi jangkauannya, dan bertahan sampai hari ini,” ujar Sumarti.

Setiap hari aneka jajanan dibawa oleh Bu Sumarti diantaranya ada roti susu, roti pisang, lemper ayam, sosis ayam, pastel, bolu kukus, wingko babat, dan masih banyak lagi. Harga untuk setiap item juga beragam mulai dari Rp. 1.500 hingga Rp. 3.500.

“Seperti roti sus, roti pisang, lapis dan lemper ayam ukuran kecil harganya Rp. 1.500. Ada juga yang harganya Rp. 3.000 untuk lemper besar isi ayam, yang mana jadi menu favorit juga ini, sedangkan harga Rp. 5.000 ada satu pack wingko babat dan roti ulang tahu,” jelas Sumarti.

Rata - rata omset yang dapat dikantongi Bu Sumarti setiap harinya berkisar Rp. 200.000 hingga Rp. 300.000. “Namun setelah dipotong modal setoran, bersihnya ya berkisar Rp. 35.000 sampai Rp. 40.000,” ungkap Ibu dari dua orang anak itu.

Dari penghasilan itulah, digunakan Bu Sumarti untuk menyambung hidup sehari- hari terlebih usai sang suami meninggal dunia sejak 2013 silam. Namun, kondisi di lapangan tidak selalu manis, terlebih Bu Sumarti mengaku saat ini kondisi pasar terasa semakin sepi.

Banyaknya atau menjamurnya penjual tenongan keliling serupa membuat persaingan semakin ketat dan pendapatannya kian menurun. Sedangkan, jika ada sisa kue yang tidak laku terjual, Pemilik atau Juragan kue memperbolehkannya untuk dilakukan pengembalian tanpa harus mengganti rugi.

Untuk bisa menjumpai bu Sumarti, dan hendak melarisi dagangannya, setiap hari rute yang dilaluinya pun sama. Rute keliling yang ditempuh Bu Sumarti mulai dari Jalan Barito, kemudian lanjut ke area kantor Pegadaian, Jalan Delima, Jalan Puntuk, selanjutnya ke arah Alun-alun Madiun.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke arah timur menuju Pasar Besar lalu ke selatan, melewati Jalan Wuni. Selanjutnya bu Sumarti mengayuh sepedanya ke area selatan hingga tiba di Jalan Kemiri, dan biasanya singgah di Masjid Al-Hidayah, sebelum akhirnya kembali lagi ke arah Jalan Barito sekitar pukul 14.30 hingga 15.00 untuk melakukan setoran.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....