Dua Tipe Perilaku Konsumen di Era Digital, Anda yang Mana?

  • 30 Jun 2026 05:58 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Transformasi finansial di era digital membawa perubahan besar pada cara masyarakat membelanjakan uangnya. Kemudahan akses informasi dan transaksi sering kali mengaburkan batasan antara kebutuhan riil dan sekadar keinginan sesaat.

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Merdeka (Unmer) Madiun, Nurimansyah Setivia Bakti, S.E., M.M., dalam program Ekonomi Digital di RRI Madiun mengungkapkan bahwa secara psikologis terdapat dua tipe perilaku konsumen dalam menanggapi era serba digital ini. “Pertama yaitu konsumen rasional (kognisi) dan konsumen irasional (afeksi),” sebutnya.

"Konsumen rasional biasanya mengambil keputusan pembelian berdasarkan cara berpikir objektif. Mereka menganalisis secara detail manfaat barang, tingkat urgensi, serta kesesuaian dengan kebutuhan utama sebelum membeli," ujar pria yang akrab disapa Iman tersebut.

Sebaliknya, tipe konsumen irasional atau afeksi cenderung bertindak atas dasar emosional, kesukaan, atau gengsi. Di era digital saat ini, perilaku irasional ini diperparah oleh fenomena Fear of Missing Out (FOMO) atau ketakutan akan ketinggalan tren di media sosial.

Iman mencontohkan tren viral seperti boneka Labubu yang harganya melonjak drastis. Banyak generasi muda, khususnya Gen Z ke bawah, rela merogoh kocek dalam demi mengikuti tren tersebut, meskipun jika ditelisik lebih jauh barang tersebut bukanlah suatu kebutuhan mendesak.

Lebih lanjut, mantan bankir yang sudah berpengalaman selama 14 tahun ini menjelaskan bahwa algoritma media sosial dan marketplace saat ini telah terintegrasi membentuk satu ekosistem. Rekam jejak pencarian digital pengguna sengaja direkam untuk memberikan godaan visual yang memicu sifat konsumtif yang brutal.

Sebagai solusi, Iman menekankan pentingnya melatih diri untuk berpindah dari pola konsumsi afeksi ke kognisi. Konsumen harus mampu melakukan kontrol diri yang ketat terhadap setiap dorongan transaksi digital yang muncul dari ujung jempol mereka.

"Kunci utamanya adalah pemahaman atas cash flow pribadi. Di dalam ilmu keuangan, idealnya pendapatan dibagi menjadi 50 persen untuk kebutuhan harian, 30 persen untuk investasi, dan 20 persen untuk dana darurat," pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....