TPID Kota Madiun Antisipasi Inflasi di tengah Situasi Global yang Tak Pasti
- 30 Apr 2026 14:08 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Kota Madiun - Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Madiun mulai memetakan potensi kenaikan harga kebutuhan pokok. Langkah ini sebagai antisipasi ketidakpastian ekonomi global, ketegangan geopolitik, hingga ancaman cuaca El Nino.
Upaya tersebut dibahas dalam High Level Meeting (HLM) yang digelar Pemerintah Kota Madiun bersama Bank Indonesia Kediri dan Badan Pusat Statistik (BPS), Rabu 29 April 2026, di Ballroom Hotel Mercure.
Deputi Kepala Perwakilan BI Kediri, Deasi Surya Andarina mengatakan, 2026 diwarnai ketidakpastian ekonomi global yang tinggi. "Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan melambat dari 3,4 persen menjadi 3,0 persen," ucap dia.
Menurut Deasi, perlambatan dipicu berbagai faktor. Di antaranya kerentanan rantai pasok, hambatan distribusi, hingga kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat. "Konflik di Timur Tengah juga mendorong kenaikan harga minyak dunia. Dampaknya merembet ke harga BBM, pupuk, biji plastik, dan bahan baku industri," ucap dia.
Meski begitu, Deasi menyebutkan, ekonomi Indonesia dinilai masih resiliensi. "Pertumbuhan tercatat 5,11 persen. Angka itu ditopang konsumsi rumah tangga dan investasi, dan lainnya," ujar dia.
Kondisi serupa terjadi di Kota Madiun, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,69 persen. "Memang sedikit melambat dari tahun sebelumnya 5,73 persen. Namun, aktivitas perdagangan dan UMKM tetap menunjukkan tren positif," ujar dia.
Terkait pengendalian harga, Deasi berharap inflasi tetap terkendali sampai akhir tahun ini. Sebab, pada Maret 2026 inflasi bulanan tercatat 0,49 persen. Sementara inflasi tahunan berada di angka 3,45 persen.
Menanggapi hal itu, Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun, meminta TPID segera menindaklanjuti rekomendasi BI Kediri. "Saya minta apa yang menjadi saran dari BI ini benar-benar ditindaklanjuti. Kita tidak boleh lengah (di tengah situasi global yang tidak pasti)," ucap dia.
Bagus meminta, ketersediaan pasokan dan stabilitas harga harus dijaga. "Program saya ini intervensi ke bawah, bagaimana bikin masyarakat itu aman, nyaman, tenang," ujar dia.
Untuk memperkuat stok pangan, HLM juga melibatkan Asosiasi Petani Cabai Indonesia (APCI) Kediri dan Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Nganjuk. Keduanya berkomitmen menjaga pasokan cabai dan bawang merah. Dua komoditas ini kerap memicu fluktuasi inflasi di daerah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....