Gen Z Perlu Cermat Kelola Risiko agar Investasi Tak Berubah Jadi Financial Trap
- 31 Jul 2026 17:51 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Kemudahan akses informasi melalui internet dan media sosial membuat generasi Z semakin akrab dengan dunia investasi. Namun, di balik banyaknya konten yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat, terdapat risiko yang perlu dipahami agar tidak terjebak dalam financial trap atau jebakan finansial.
Hal tersebut disampaikan Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas PGRI Madiun, Arifiansyah Saputra, S.T., M.M., saat menjadi narasumber dalam program Ekonomi Digital Pro 1 RRI Madiun belum lama ini, dengan tema "Financial Freedom atau Financial Trap? Navigasi Investasi dan Pengelolaan Risiko bagi Gen Z".
Menurut Arifiansyah, perkembangan teknologi digital, penggunaan gawai yang hampir dimiliki setiap orang, serta hadirnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuat informasi mengenai investasi semakin mudah diakses. Sayangnya, banyak anak muda hanya melihat kisah sukses yang beredar di media sosial tanpa memahami proses maupun risiko di baliknya.
"Kalau sekarang membuka internet, kita akan sangat mudah menemukan konten yang membahas bagaimana menjadi kaya sebelum usia 25 tahun atau menjadi miliarder di usia muda. Yang sering kali tidak dijelaskan adalah bagaimana prosesnya, bagaimana risikonya, dan tantangan yang harus dihadapi. Akhirnya banyak anak muda hanya melihat hasil akhirnya saja," ujarnya.
Ia menjelaskan, fenomena tersebut membuat sebagian Gen Z mudah tergoda mengikuti tren investasi atau instrumen keuangan yang sedang populer. Keputusan sering kali diambil karena rasa takut tertinggal (fear of missing out/FOMO), bukan berdasarkan pemahaman yang matang terhadap produk maupun risiko yang menyertainya.
Arifiansyah menilai kondisi tersebut dapat memicu kesalahan dalam pengambilan keputusan keuangan. Seseorang bisa saja langsung menempatkan dana pada suatu instrumen investasi hanya karena ramai diperbincangkan, tanpa mempertimbangkan apakah instrumen tersebut sesuai dengan tujuan keuangan, profil risiko, maupun kemampuan finansialnya.
"Ketika ada sesuatu yang sedang viral atau sedang naik daun, banyak yang langsung ikut mencoba tanpa lebih dulu menghitung risikonya. Padahal setiap investasi pasti memiliki risiko. Jangan hanya karena melihat orang lain berhasil, kita ikut begitu saja tanpa memahami apa yang sebenarnya kita lakukan," katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tujuan utama investasi bukan sekadar mengejar keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu singkat. Pengelolaan risiko justru menjadi bagian penting yang harus dipahami sejak awal agar kondisi keuangan tetap sehat dan tidak terganggu ketika terjadi kerugian.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap orang memiliki kondisi keuangan yang berbeda sehingga strategi investasi tidak dapat disamaratakan. Oleh karena itu, sebelum mulai berinvestasi, masyarakat, khususnya Gen Z, perlu memahami kemampuan finansial, menyusun tujuan keuangan, serta mempertimbangkan risiko yang sanggup ditanggung.
Melalui literasi keuangan yang baik, Arifiansyah berharap generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang hanya menampilkan sisi keberhasilan. Dengan memahami proses, risiko, dan prinsip pengelolaan keuangan yang benar, investasi dapat menjadi sarana membangun masa depan finansial yang lebih sehat, bukan justru berubah menjadi jebakan yang merugikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....