Akuntan Wajib Kuasai Skill Berikut, pada Era Kecerdasan Buatan saat ini

  • 30 Jun 2026 21:55 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun- Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan big data diprediksi akan mengubah lanskap berbagai profesi secara drastis dalam beberapa tahun ke depan, tidak terkecuali di bidang akuntansi. Banyak pihak mulai mempertanyakan relevansi dan masa depan pekerjaan para pencatat keuangan atau Akuntan di tengah otomatisasi sistem digital yang semakin canggih dan mandiri.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Dosen Akuntansi Fakultas Bisnis Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Kampus Kota Madiun, Mujilan, S.E., M.Sc., menjelaskan bahwa dunia akuntansi sebenarnya sudah sangat familiar dengan digitalisasi. Bahkan jauh sebelum tren AI masif seperti sekarang.

“Jadi tepatnya sejak tahun 2010, kalangan akademisi dan praktisi akuntansi telah mempelajari konsep sistem komputerisasi terintegrasi. Hal ini untuk menghitung biaya operasional pabrik,” jelasnya.

Menurut Mujilan, pergeseran yang terjadi saat ini bukan terus menghilangkan profesi akuntansi. Melainkan sebuah efisiensi dan terjadinya transformasi peran.

Apabila pada era konvensional sebuah perusahaan membutuhkan hingga tujuh orang tenaga kerja khusus untuk melakukan pencatatan transaksi secara manual, kini sistem digital telah memangkas kebutuhan teknis tersebut secara signifikan.

"Untuk sekarang, bukan sekadar tenaga pencatatnya yang dibutuhkan oleh industri, melainkan ahli analisis dan pelaporannya. Mereka juga harus mampu menentukan di mana titik impas atau Break Even Point (BEP) serta merumuskan strategi bisnis ke depan," tegas Mujilan.

Ia menambahkan bahwa peran strategis akuntan di masa depan akan bergeser pada kemampuan mengelola bauran data global yang besar dan kompleks yakni 5V terdiri dari volume, velocity, variety, veracity, dan value).

Data mentah yang berhasil dihimpun oleh infrastruktur teknologi harus mampu diolah oleh seorang akuntan menjadi informasi berharga untuk penciptaan nilai (value) baru bagi perusahaan.

Sayangnya, pemanfaatan big data yang optimal ini masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Mujilan memperkirakan jumlah sumber daya manusia (SDM) di tanah air yang benar-benar mampu mengelola, menganalisis, hingga membaca pola dan tren data global secara mendalam secara persentase masih berada di bawah angka 10 persen dari total pengguna teknologi.

Oleh karena itu, peningkatan keterampilan (upskilling) digital sangat krusial bagi generasi muda dan para profesional akuntansi agar memiliki daya saing yang tinggi. Profesi akuntansi masa depan dituntut untuk tidak lagi sekadar berkutat pada angka di atas kertas, melainkan harus bertransformasi menjadi mitra strategis manajemen yang berbasis pada data faktual.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....