Cara Bijak Atur Keuangan Saat Lebaran

  • 27 Mar 2025 22:57 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun : Pengeluaran saat momen Hari Raya Idulfitri atau lebaran, umumnya meningkat. Untuk itu, ada baiknya bijak dalam mengatur keuangan. Beberapa cara bisa dilakukan agar keuangan tetap terkelola dengan baik pada saat hari kemenangan.

Kaprodi D3 Manajemen Pajak, Fakultas Ekonomi dan Binis, Universitas PGRI Madiun (Unipma) Aliffianti Safira Ayu Ditta S.E M.Ak CTT mengatakan, Idulfitri sebentar lagi. Pada momen ini, umumnya memang ada pengeluaran ekstra.

“Dan para Ibu-ibu ini biasanya sudah punya gambaran, puasa dan lebaran ini seperti apa? Apakah kita akan mudik atau kita menjadi tuan rumah? Apa yang akan disuguhkan,” ujar dia saat menjadi narasumber Mozaik Indonesia Pro 1 RRI Madiun.

Artinya, ada pengeluaran ekstra di sini. “Kemudian, THR cair bagi yang menerima. Sementara bagi yang memberikan THR, pengaturan keuangan juga beda lagi. Ini menyikapinya beda,” ucap dia.

Jelas Ditta, bagi yang mendapat THR, tanpa disadari ekstra pendapatan ini sebenarnya digunakan untuk ekstra kebutuhan tadi. “Seperti yang mudik, untuk biaya transportrasi, menggunakan kendaraan umum atau pribadi, oleh-olehnya, belum yang lain,” ujar dia.

Kemudian, bagi yang tidak mudik atau tuan rumah juga sama. “Ketika menjadi tuan rumah, keluarga datang itu sudah harus dipikirkan, mulai dari suguhan, angpao dan lain sebagainya,” ujar dia.

Oleh karena itu, dari pengeluaran ekstra itu sebenarnya sudah harus dipikirkan jauh sebelum Ramadan. “Bijaknya adalah, ketika dapat THR untuk alokasi ekstra tadi. Apa untuk kebutuhan lain tidak boleh? Boleh,” ucap dia.

Lebih lanjut, bagi yang memiliki penghasilan tetap seperti gaji maka alokasi utama adalah untuk kebutuhan primer. “Misal gajian tanggal 1, jadi kita penuhi kebutuhan rumah tangga terlebih dahulu. Ya, kebutuhan primer, untuk cicilan, listrik, air dan lainnya,” ucap dia.

Dari pengaturan itu, lanjut Ditta, jangan sampai lupa nabung. “Harus dipahami tabungan ini bukan sisa (pendapatan), tapi memang harus disisihkan dari pendapatan. Sama halnya seperti cicilan dan yang lainnya,” ujar dia.

Ditta mengatakan, memang tidak ada aturan harus berapa persen dalam mengatur keuangan. “Dulu saya pernah bilang 40, 30, 20, dan 10 (alokasi keuangan dari pendapatan),” ujar dia.

Maksudnya, 40 persen adalah untuk kebutuhan, 30 persen untuk cicilan, 20 persen untuk tabungan, 10 persen untuk dana darurat. “Namun itu hanya diatas kertas, sebab kalau duitnya sudah kita pegang, persentasenya akan lupa,” ucap dia.

Maka, Ditta mengatakan, tidak ada persentase berapa yang pasti.

“Yang penting dahulukan mana kebutuhan, sisanya sefleksible dan semampunya untuk mengatur keuangan,” ujarnya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....