Laba PTBA Meroket 218% Jadi Rp2,65 Triliun
- 02 Sep 2026 09:36 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mencatatkan lonjakan kinerja keuangan pada Semester I 2026. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp2,65 triliun, melonjak 218% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp833,04 miliar.
Kinerja tersebut tercatat di tengah pemulihan operasional perusahaan pada kuartal II 2026 serta penguatan penjualan ekspor. Dalam laporan yang dirilis pada 1 September 2026, PTBA menyebut kondisi operasional yang lebih kondusif turut mendukung pemulihan produksi dan peningkatan penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan.
Selain laba bersih, EBITDA PTBA juga meningkat signifikan. Hingga akhir Juni 2026, EBITDA tercatat sebesar Rp4,27 triliun, naik 94% dibandingkan Semester I 2025 yang berada di level Rp2,20 triliun. Margin laba bersih dan EBITDA masing-masing mencapai 12% dan 19%.
Dari sisi pendapatan, PTBA membukukan pendapatan usaha sebesar Rp22,03 triliun pada Semester I 2026. Angka tersebut tumbuh 8% secara tahunan dari Rp20,45 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan pendapatan terjadi meski volume penjualan justru turun 2% secara tahunan menjadi 21,10 juta ton dari 21,62 juta ton. Salah satu faktor yang mendukung peningkatan pendapatan adalah kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) sebesar 10% secara tahunan.
PTBA mencatat Newcastle Index meningkat 25% secara tahunan, sementara ICI-3 naik 15%. Kondisi tersebut turut mendorong penguatan harga jual rata-rata perusahaan.
Komposisi penjualan hingga akhir Juni 2026 terdiri atas 51% penjualan domestik dan 49% ekspor. Untuk pasar ekspor, lima negara tujuan terbesar PTBA adalah Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand.
Di sisi operasional, produksi batu bara PTBA selama Semester I 2026 tercatat 19,45 juta ton, turun 10% dibandingkan 21,73 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Volume angkutan juga turun menjadi 18,15 juta ton dari 19,27 juta ton.
Meski demikian, penjualan ekspor menunjukkan pertumbuhan. Volume penjualan ekspor mencapai 10,33 juta ton, naik 5% dibandingkan Semester I 2025 yang sebesar 9,85 juta ton. Sementara penjualan domestik tercatat 10,77 juta ton, turun 9% dari 11,78 juta ton.
Pemulihan operasional lebih terlihat pada kuartal II 2026. Dibandingkan kuartal sebelumnya, produksi meningkat 94%, sementara penjualan naik 8%. Harga jual rata-rata juga tumbuh 14% secara kuartalan.
Kinerja tersebut dicapai ketika perusahaan menghadapi kenaikan biaya bahan bakar. PTBA mencatat harga BBM per liter mencapai Rp19.503 hingga 30 Juni 2026, naik 34% secara tahunan. Kenaikan tersebut berdampak terhadap biaya bahan bakar untuk kebutuhan jasa penambangan maupun angkutan kereta api.
Namun, perusahaan menyatakan biaya operasional tetap terjaga melalui program efisiensi yang tepat sasaran dan disiplin operasional secara berkelanjutan. Beban pokok pendapatan tercatat Rp17,78 triliun, turun 2% dibandingkan Semester I 2025.
Dari sisi arus kas, PTBA juga mencatat peningkatan arus kas bersih dari aktivitas operasi. Hingga 30 Juni 2026, arus kas dari aktivitas operasi mencapai Rp4,63 triliun, naik 108% dibandingkan Rp2,22 triliun pada periode sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya penerimaan dari pelanggan.
Posisi kas dan setara kas perusahaan pada akhir Juni 2026 juga meningkat 52% menjadi Rp6,88 triliun dari Rp4,52 triliun pada akhir 2025. Sementara pinjaman bank turun 25% menjadi Rp2,42 triliun dari Rp3,23 triliun.
Untuk belanja modal, PTBA telah merealisasikan Rp1,09 triliun hingga Semester I 2026 atau sekitar 30% dari target tahunan sebesar Rp3,64 triliun. Mayoritas belanja modal tersebut digunakan untuk pengembangan angkutan batu bara pada relasi Tanjung Enim-Kramasan.
Memasuki sisa tahun 2026, PTBA menetapkan panduan produksi sebesar 49,55 juta ton dan volume penjualan 49,51 juta ton. Perusahaan juga menargetkan volume angkutan sebesar 41 juta ton dengan stripping ratio 5,63 kali.
Manajemen PTBA menyatakan akan terus mengoptimalkan kinerja operasional dan peluang pasar dengan tetap menjalankan program efisiensi secara cermat dan tepat sasaran. Disiplin operasional dan pengelolaan bisnis secara prudent disebut menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga kinerja dan menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan. (NK)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....