“Gepreken”, Ali Maulana Mengusung Identitas Lokal untuk Bisnisnya
- 13 Mar 2026 09:39 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Peluang usaha kuliner terus menarik minat banyak pelaku bisnis, termasuk Ali Maulana yang mencoba peruntungan melalui brand ayam geprek bernama Gepreken.
Usaha tersebut baru berjalan kurang dari satu bulan, namun mulai mendapat perhatian masyarakat.
Saat berbincang di acara obrolan Muda Kreatif Pro 2 RRI Madiun, Ali Maulana mengungkapkan bahwa bisnis kuliner ini berawal dari keinginannya mencari tantangan baru. Sebelumnya, ia sudah lebih dulu menjalankan usaha di bidang fashion.
“Awalnya saya memang di bisnis fashion. Tapi saya ingin mencoba usaha baru supaya ada semangat lagi,” ujarnya.
Menurut Ali, pilihan membuka usaha ayam geprek didasari oleh peluang pasar yang cukup luas.
Menu ayam geprek dinilai digemari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga mahasiswa. Selain itu, ia menilai usaha ayam geprek relatif mudah dijalankan dan tidak membutuhkan modal yang terlalu besar.
“Pasarnya luas. Anak-anak sampai orang dewasa semuanya suka ayam geprek, apalagi dengan sambal bawang. Kalau lewat online bahkan dengan modal sekitar satu juta rupiah sebenarnya sudah bisa mulai usaha ini,” jelasnya.
Brand Gepreken dipilih karena dinilai sederhana dan mudah diingat oleh masyarakat.
Menurut Ali, nama tersebut juga memiliki kedekatan dengan bahasa sehari-hari masyarakat Jawa.
Selain nama yang unik, usaha ini juga menggunakan slogan yang cukup menarik perhatian, yaitu “Wani pedes, kene tak geprek atimu,” yang menggambarkan karakter brand yang berani dan penuh semangat.
“Kalau nama yang mudah diingat itu lebih gampang untuk promosi. Kata ‘geprek’ juga sudah familiar bagi banyak orang,” ujarnya.
Meski terlihat sederhana, Ali mengaku proses merintis usaha ini tidak mudah. Ia bahkan harus melalui berbagai percobaan untuk menemukan resep yang tepat.
Dalam proses tersebut, Ali bersama istrinya melakukan berbagai eksperimen bumbu hingga menghabiskan puluhan kilogram ayam untuk uji coba rasa. Proses uji coba tersebut juga melibatkan teman dan tetangga sebagai tester untuk memberikan kritik terhadap rasa masakan.
“Kita benar-benar mulai dari nol. Hampir 10 kilo ayam bahkan lebih habis hanya untuk eksperimen sampai menemukan rasa yang pas. Saya justru butuh kritik, bukan pujian. Kalau ada yang kurang ya diperbaiki lagi,” ujarnya.
Meski masih terbilang usaha baru, penjualan ayam geprek Gepreken cukup menjanjikan. Ali menyebut dalam satu hari bisa menghabiskan sekitar 50 kilogram ayam dengan kebutuhan beras sekitar 20 kilogram. Jumlah tersebut menunjukkan minat masyarakat terhadap menu ayam geprek masih cukup tinggi.
“Awalnya kita masih bingung harus menyiapkan berapa banyak. Tapi sekarang sudah mulai tahu kira-kira kebutuhan per hari,” katanya.
Usaha Gepreken saat ini memiliki dua lokasi di Kota Madiun. Lokasi pertama berada di kawasan Jalan Pahlawan yang melayani pembelian untuk dibawa pulang.
Sementara itu, lokasi kedua berada di Jalan Panglima Sudirman, tepatnya di sebelah timur Bank BCA, yang menyediakan tempat makan bagi pelanggan. Menurut Ali, pemilihan lokasi menjadi faktor penting dalam menjalankan usaha kuliner.
“Kalau tempatnya strategis, promosi juga lebih mudah. Ibarat tanah yang subur, ditanam apa saja bisa tumbuh,” jelasnya.
Menu utama di Gepreken adalah ayam geprek dengan harga mulai sekitar Rp10.000 per porsi yang sudah termasuk nasi dan ayam. Selain ayam geprek, tersedia juga beberapa menu lain seperti ayam bakar, ayam saus, stik ayam, tahu crispy, serta jamur crispy.
Harga yang relatif terjangkau menjadi salah satu strategi agar menu tersebut dapat dijangkau oleh berbagai kalangan, termasuk pelajar dan mahasiswa.
Ali mengakui menjalankan usaha kuliner memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam mengatur stok bahan makanan agar tidak terbuang.
Pada awal membuka usaha, ia sempat mengalami kesalahan dalam memperkirakan jumlah produksi sehingga beberapa bahan makanan tidak terpakai. Namun seiring waktu, ia mulai memahami pola permintaan pelanggan sehingga produksi bisa disesuaikan.
“Di awal memang masih meraba-raba pasar. Tapi dari situ kita belajar memperkirakan kebutuhan harian,” katanya.
Meski baru berjalan singkat, Ali memiliki harapan agar usahanya dapat berkembang lebih besar di masa depan.
Namun untuk saat ini, ia memilih fokus pada peningkatan kualitas rasa dan pelayanan sebelum mempertimbangkan ekspansi lebih luas. Ali juga berharap usaha Gepreken dapat terus berkembang dan menjadi salah satu pilihan kuliner bagi masyarakat Madiun.
“Kita fokus dulu di rasa dan pelayanan. Kalau semuanya sudah benar-benar siap, baru mungkin ke depannya bisa membuka kemitraan. Semoga ke depan bisa membuka cabang lebih banyak, bahkan kalau memungkinkan bisa dikenal di seluruh Indonesia,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....