Berawal Resep Keluarga, “Sate Ndeso” Digemari Anak Muda
- 13 Mar 2026 09:08 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun – Usaha kuliner lokal terus berkembang dengan berbagai cerita di baliknya.
Salah satunya adalah bisnis Sate Ndeso Mas Ian milik Binti Latifatus Sholihah.
Dalam obrolan di Studio Pro 2 RRI Madiun, Binti membagikan perjalanan usahanya yang dimulai dari resep keluarga hingga kini dikenal luas oleh pengunjung alun-alun Kota Madiun.
Binti mengungkapkan, usaha sate yang ia jalankan bersama suaminya sebenarnya berawal dari resep keluarga yang kemudian dikembangkan sendiri.
“Awalnya dari resep keluarga. Kita olah sendiri dan dimodifikasi, menyesuaikan selera pelanggan,” ujarnya saat berbincang di studio.
Sebelum menjual sate, Binti mengaku sempat mencoba usaha lain. Ia pernah berjualan salad buah sebelum akhirnya beralih ke usaha sate.
Menurutnya, keputusan tersebut juga dipengaruhi saran dari ibu mertuanya yang menilai usaha sate memiliki potensi keuntungan yang lebih stabil. Keputusan tersebut terbukti tepat.
Sejak memulai usaha pada 2019, bisnis sate tersebut terus berjalan hingga sekarang.
“Dulu sempat jualan salad buah. Tapi akhirnya beralih ke sate karena menurut ibu mertua lebih memungkinkan dari segi keuntungan,” jelasnya.
Perjalanan usaha tersebut tidak selalu berjalan mulus. Ketika pandemi COVID-19 melanda, penjualan juga sempat menurun karena masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, Binti dan suaminya mencoba sistem pengantaran langsung kepada pelanggan. Langkah tersebut menjadi salah satu cara agar usaha tetap berjalan meski situasi sedang sulit.
“Waktu pandemi kita tetap jualan, tapi lebih banyak delivery,” katanya.
Sebelum menetap di alun-alun Kota Madiun, Binti mengaku sempat mencoba berjualan di beberapa lokasi.
Di antaranya di kawasan Josenan, Sambirejo, hingga Winongo. Namun menurutnya, lokasi menjadi faktor penting dalam usaha kuliner kaki lima. Ia menilai kawasan alun-alun menjadi tempat yang potensial karena ramai dikunjungi masyarakat, terutama anak muda pada malam hari.
“Cari lokasi yang strategis itu memang tidak mudah. Kita mencoba beberapa tempat sampai akhirnya sekarang fokus di alun-alun sejak 2022,” ungkapnya.
Salah satu hal yang menarik perhatian pelanggan adalah harga sate yang relatif terjangkau. Satu porsi sate berisi 10 tusuk dijual seharga Rp10.000, kecuali sate tahu yang dijual Rp5.000 per porsi.
Menariknya, harga tersebut tidak banyak berubah sejak usaha ini berdiri pada 2019. Binti mengatakan strategi tersebut sengaja diterapkan agar usaha cepat dikenal oleh pelanggan.
Ia menambahkan bahwa harga hanya naik pada momen tertentu seperti Lebaran atau tahun baru.
“Prinsip awalnya memang ingin cepat ramai. Jadi pelanggan sering datang dan tidak bosan,” jelasnya.
Selain sate ayam, Sate Ndeso Mas Ian juga menyediakan berbagai varian lain seperti sate kulit, sate usus, sate jamur tiram, dan sate tahu.
Dari berbagai menu tersebut, sate kulit menjadi salah satu menu favorit pelanggan, khususnya di kalangan anak muda.
“Kalau yang paling laku biasanya sate kulit,” kata Binti.
Dalam sehari, ia biasanya menyiapkan sekitar 400 tusuk sate ayam, belum termasuk varian lainnya. Saat akhir pekan, jumlah penjualan bahkan bisa meningkat hingga 700 sampai 1.100 tusuk dalam satu malam.
Binti menjelaskan, salah satu keunikan sate yang dijualnya adalah teknik pembakaran yang dilakukan dua kali. Pertama sate dibakar dengan bumbu asin, kemudian dibakar kembali setelah diberi bumbu kacang.
Teknik tersebut juga merupakan bagian dari resep keluarga yang diwariskan oleh ibu mertuanya.
“Jadi rasa bumbunya sudah meresap di daging satenya, bahkan tanpa tambahan saus juga sudah terasa,” ujarnya.
Menariknya, usaha ini berkembang tanpa promosi besar di media sosial.
Binti mengatakan, sebagian besar pelanggan datang karena rekomendasi dari mulut ke mulut. Meski begitu, beberapa kreator konten kuliner juga pernah mengulas sate tersebut sehingga membantu memperkenalkan usaha tersebut kepada masyarakat.
“Promosinya lebih banyak dari orang ke orang. Kadang orang lewat alun-alun terus coba,” ujarnya.
Di tengah persaingan usaha kuliner yang semakin ketat, Binti memilih tetap fokus menjaga kualitas dan pelayanan. Ia mengaku selalu berusaha tidak membandingkan usahanya dengan pedagang lain.
“Kalau ramai ya alhamdulillah, kalau sepi ya disyukuri saja. Yang penting kualitas jangan sampai turun,” katanya.
Binti berpesan kepada masyarakat yang ingin memulai usaha. Menurutnya, hal terpenting dalam berbisnis adalah memiliki tekad yang kuat dan memahami bidang usaha yang dijalankan.
“Yang pertama itu tekad. Kita harus tahu usaha yang cocok untuk kita dan menghitung modalnya dengan matang,” tuturnya.
Kini, Sate Ndeso Mas Ian menjadi salah satu pilihan kuliner malam bagi masyarakat yang berkunjung ke alun-alun Kota Madiun, terutama bagi pecinta sate dengan harga terjangkau dan cita rasa khas.