Batik Nadthom, Keberanian yang Menjadi Identitas Kebanggan
- 06 Mar 2026 08:05 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Berawal dari keinginan sederhana untuk melestarikan budaya, Sri Rumkanah kini dikenal sebagai owner Batik Natom yang beralamat di Jalan Sentul, Gang 4 Nomor 4B, Kota Madiun. Sejak 2019, ia menekuni dunia batik yang sebelumnya sama sekali bukan bidang utamanya.
Sebelum terjun ke dunia batik, ia adalah ibu rumah tangga. Meski sempat mengikuti kursus jahit, ia tidak memiliki latar belakang khusus di bidang seni maupun usaha.
Ketertarikannya muncul dari pikiran sederhana.
“Saya awalnya ikut pelatihan di Disnaker. Niat pertama cuma ingin melestarikan batik saja. Dulu saya berpikir, enak ya kalau bisa bikin kain sendiri, terus dibikin baju sendiri,” ujar Sri Rumkanah.
Pelatihan membatik menjadi titik balik dalam hidupnya. Dari yang sebelumnya hanya mengurus rumah tangga, kini ia merasa memiliki keterampilan yang bisa dibanggakan.
“Rasanya kayak punya skill. Oh, saya bisa ya membatik. Ada rasa percaya diri yang beda dibanding hanya ibu rumah tangga biasa,” ungkapnya.
Kepercayaan diri itulah yang kemudian mendorongnya berani melangkah lebih jauh. Usai pelatihan, ia tidak menunggu lama untuk memulai usaha sendiri.
“Di akhir pelatihan memang disuruh bikin brand masing-masing. Setelah selesai, saya langsung beli kain. Pokoknya mikirnya bikin saja dulu,” katanya.
Tanpa banyak perhitungan, ia mulai menawarkan hasil karyanya kepada teman-teman terdekat. Tak disangka, ada yang tertarik membeli. Suaminya pun ikut membantu memasarkan ke rekan-rekan kantornya.
“Awalnya satu, ternyata ada yang mau. Terus suami nawarin ke teman-temannya, ada yang nyantol juga. Dari situ satu ke satu,” jelasnya.
Nama “Nadthom” sendiri diambil dari nama anak-anaknya, Nada dan Thommy, sebagai simbol bahwa usaha ini adalah bagian dari keluarga. Batik Nadthom memiliki karakter kuat pada motifnya. Sri Rumkanah memastikan setiap karyanya selalu menghadirkan unsur bunga.
“Ciri khasnya pasti ada bunganya. Pokoknya dari semua motif itu selalu ada bunga. Entah melati atau jenis bunga lain,” ujarnya.
Kecintaannya pada bunga menjadi identitas utama Batik Nadthom. Dari motif sederhana hingga penuh detail, unsur floral selalu hadir. Dalam teknik produksi, ia lebih memilih batik tulis.
“Lebih ke nyanting. Kalau cap cuma kadang-kadang saja,” katanya.
Produksi dilakukan secara bertahap dan terbatas. Dalam sebulan, ia rata-rata mampu menghasilkan empat lembar kain batik.
Jika ada pesanan dengan tenggat waktu, jumlahnya bisa meningkat hingga delapan lembar. Untuk pemasaran, Sri Rumkanah masih mengandalkan jaringan terdekat.
“Masih dari kenalan, teman pengajian, komunitas yang saya ikuti. Selama ini masih itu,” jelasnya.
Batik Nadthom dijalankan sebagai usaha keluarga. Suaminya membantu membuat pola dan desain motif, sementara proses pewarnaan kerap dibantu anaknya. Jika pesanan banyak, ia juga melibatkan tetangga sekitar.
“Kalau nyanting tetap saya sendiri. Tapi gambar dibantu suami, pewarnaan kadang anak saya,” katanya.
Saat ini, proses produksi masih menyatu dengan rumah tinggal. Ia memiliki rencana untuk menata ulang ruang agar lebih representatif.
“Teras mau saya atasi, bagian atas khusus untuk proses batik. Bawahnya buat galeri,” ungkapnya.
Secara materi, Sri Rumkanah mengakui hasil dari Batik Nadthom belum terlalu signifikan. Namun kepuasan batin menjadi nilai tersendiri. Menurutnya, membatik adalah pekerjaan yang sangat dipengaruhi suasana hati.
“Kalau non-materi itu puas sekali kalau produk kita ada yang pakai. Kadang kalau mood cepat jadi. Kalau enggak mood, lama sekali. Tantangannya di situ,” katanya sambil tersenyum.
Ia menyadari pemasaran masih perlu ditingkatkan agar usaha bisa berkembang lebih jauh. Meski begitu, ia tetap optimistis batik adalah bidang yang menjanjikan selama konsisten. Harapannya sederhana: produksi terus berjalan dan Batik Nadthom tidak berhenti di tangannya saja.
“Anak saya sebenarnya mau saya ajak supaya ada kelanjutan. Jangan berhenti di saya saja,” ujarnya.
Sebagai usaha yang lahir dari rumah dan mengandalkan kekuatan keluarga, Batik Nadthom menjadi bukti bahwa keberanian memulai, meski tanpa pengalaman besar, bisa tumbuh menjadi identitas dan kebanggaan tersendiri.