SURGE Gebrak Broadband lewat Internet 5G Murah

  • 05 Mar 2026 09:01 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Di tengah perlombaan operator global memburu pelanggan 5G premium, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) memilih jalur berbeda: menghadirkan internet rumah berkecepatan hingga 100 Mbps dengan tarif Rp100.000 per bulan. Langkah itu diwujudkan melalui peluncuran jaringan komersial 5G Fixed Wireless Access (FWA) 1,4GHz pertama di dunia, hasil kolaborasi dengan Huawei. Diluncurkan secara resmi di ajang MWC Barcelona 2026, layanan yang dipasarkan dengan merek IRA – Internet Rakyat tersebut menargetkan pasar massal yang selama ini belum sepenuhnya terjangkau fiber optik. Dengan kuota tanpa batas dan modem gratis, perusahaan ingin menegaskan bahwa akses internet cepat tak lagi menjadi barang mewah.

Di balik harga agresif itu, terdapat fondasi teknis yang tidak sederhana. SURGE mengandalkan spektrum kontigu 80MHz di pita 1,4GHz—kapasitas yang memungkinkan performa tinggi untuk layanan berbasis fixed wireless. Perusahaan memperkirakan pembangunan lebih dari 5.000 site, dengan tahap awal lebih dari 3.000 site pada fase pertama. Cakupan difokuskan pada Region-1, meliputi Jawa, Maluku, dan Papua, wilayah dengan potensi lebih dari 45 juta rumah tangga. Direktur SURGE, Shannedy Ong, menyebut peluncuran ini sebagai tonggak penting bagi pengembangan fixed broadband nasional. Dengan kombinasi spektrum lebar dan skala jaringan besar, perusahaan membangun ekosistem yang diklaim mampu menghadirkan konektivitas berkualitas tinggi secara terjangkau dan berkelanjutan.

Bagi Huawei, proyek ini bukan sekadar kontrak penyediaan perangkat. Perusahaan menyediakan solusi menyeluruh—mulai dari Radio Access Network (RAN), core network, hingga customer premises equipment (CPE) dan layanan terkelola. Dukungan itu diperluas ke pengembangan roadmap teknologi jangka panjang, termasuk optimalisasi jaringan dan ekspansi ekosistem perangkat 1,4GHz. Secara strategis, pendekatan FWA menawarkan jalan pintas dibandingkan ekspansi fiber yang mahal dan memakan waktu. Tanpa harus menggali tanah atau membentangkan kabel hingga ke gang-gang sempit, operator dapat memperluas konektivitas last-mile dengan investasi infrastruktur yang lebih terkendali. Dalam konteks Indonesia—negara kepulauan dengan tantangan geografis besar—model ini berpotensi mempercepat penetrasi fixed broadband.

Langkah SURGE juga mencerminkan perubahan lanskap persaingan. Ketika banyak operator memonetisasi 5G lewat paket data seluler premium, SURGE justru memosisikan 5G sebagai tulang punggung internet rumah murah. Jika eksekusi berjalan mulus, model ini bisa menekan harga pasar dan memaksa pemain lain meninjau ulang strategi tarif mereka. Namun tantangan tetap membayangi. Keberhasilan akan sangat ditentukan oleh konsistensi kualitas jaringan di tengah lonjakan pelanggan, disiplin belanja modal, serta kemampuan menjaga struktur biaya tetap efisien. Harga Rp100.000 per bulan memberi ruang margin yang tipis, sehingga skala dan utilisasi jaringan menjadi kunci.

Dengan ambisi membangun lapisan broadband baru berbasis 1,4GHz, SURGE dan Huawei bertaruh bahwa inklusi digital bukan hanya agenda sosial, melainkan peluang bisnis jangka panjang. Jika taruhan itu tepat, internet cepat berbiaya rendah bisa menjadi fondasi baru ekonomi digital Indonesia—dan menempatkan 5G bukan sekadar simbol teknologi, melainkan alat pemerataan akses. (NK)

Disclaimer: Bukan ajakan jual/beli.

Rekomendasi Berita