CIMB Niaga Perkuat Neraca Ditengah Pemulihan Kredit
- 26 Feb 2026 13:52 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) membukukan penguatan posisi keuangan yang signifikan pada tahun buku yang berakhir 31 Desember 2025.
Di tengah upaya industri perbankan nasional dalam menavigasi risiko pasca-pandemi, bank swasta terbesar kedua di Indonesia ini berhasil menunjukkan efisiensi operasional dan perbaikan kualitas aset yang progresif.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang telah diaudit oleh firma akuntan publik, Grup mencatatkan penurunan rasio kredit bermasalah atau impaired loan yang cukup tajam. Hingga akhir Desember 2025, rasio kredit bermasalah bruto (gross) turun menjadi 3,20%, dibandingkan dengan 4,20% pada tahun sebelumnya dan 5,29% pada tahun 2023. Penurunan ini mencerminkan keberhasilan manajemen dalam melakukan restrukturisasi dan penagihan kredit secara efektif.
Dari sisi liabilitas, kepercayaan nasabah tetap solid yang terlihat dari pertumbuhan jumlah simpanan. Total dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp270,52 triliun pada akhir 2025, naik dari Rp260,64 triliun pada tahun 2024. Menariknya, komposisi dana murah atau Current Account Savings Account (CASA) tetap menjadi tumpuan utama bank.
Giro dan tabungan secara kolektif menyumbang porsi besar terhadap total simpanan, dengan saldo giro mencapai Rp103,08 triliun dan tabungan sebesar Rp86,38 triliun.
Fokus pada tata kelola dan sistem pengendalian internal menjadi kunci bagi bank dalam mempertahankan pertumbuhan yang berkelanjutan. Meskipun kualitas kredit membaik, CIMB Niaga tetap menerapkan prinsip kehati-hatian yang ketat dalam pencadangan. Cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) atas kredit yang diberikan tercatat sebesar Rp8,05 triliun pada akhir 2025. Angka ini sangat krusial mengingat nilai tercatat bruto dari kredit yang diberikan mewakili sekitar 61% dari total aset Grup.
Laporan auditor independen menyoroti bahwa perhitungan cadangan ini melibatkan estimasi dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi, terutama dalam penentuan Expected Credit Losses (ECL) sesuai PSAK 109. Namun, auditor memberikan opini wajar tanpa pengecualian, yang menegaskan bahwa posisi keuangan disajikan secara wajar dalam semua hal yang material. Sebagai bank yang sangat bergantung pada infrastruktur teknologi informasi (TI),
CIMB Niaga terus memperkuat sistem pelaporan keuangan dan operasional digitalnya. Lingkungan TI yang kompleks, yang mencakup perpindahan data antar sistem utama, terus diawasi ketat melalui mekanisme kontrol manajemen perubahan dan keamanan akses pengguna.
Dengan rasio modal yang kuat dan likuiditas yang memadai—tercermin dari penempatan pada bank lain dan Bank Indonesia sebesar Rp11,84 triliun—CIMB Niaga berada pada posisi yang strategis untuk memanfaatkan peluang pertumbuhan ekonomi di masa depan.
Pergerakan positif pada rasio kredit neto menjadi 0,57% di akhir 2025 memberikan ruang napas lebih bagi bank untuk melakukan ekspansi kredit yang lebih agresif pada tahun-tahun mendatang. (NK).