Dari Limbah Jadi Cuan ala Oktavianto Sepingan.co

  • 15 Feb 2026 11:21 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Siapa sangka limbah kayu palet bekas peti kemas yang dulu harus dimusnahkan, kini berubah menjadi produk kerajinan bernilai puluhan ribu rupiah per item. Di tangan Oktavianto, atau yang akrab disapa Okta, serpihan kayu pinus itu menjelma menjadi figura, kotak cincin, hingga hiasan dinding yang dipasarkan hingga luar Pulau Jawa. Melalui brand Sepingan.co, Okta membuktikan bahwa limbah bukan sekadar sisa tak terpakai, melainkan bahan baku karya seni yang punya nilai ekonomi tinggi.

Oktavianto mengaku mulai mengolah kayu sejak 2017. Awalnya bukan dari limbah, melainkan ketertarikan pada kayu pinus yang di daerahnya kerap disebut “jati Belanda”.

“Awalnya senang dengan produk olahan kayu pinus. Di sini belum ada pengrajinnya, akhirnya iseng bikin sendiri. Ternyata teman-teman malah ikut order,” ujarnya.

Kayu pinus dipilih karena karakter seratnya yang mirip jati namun berwarna lebih terang dan lebih ringan. Karena kayu pinus baru tidak diperjualbelikan bebas, ia memanfaatkan limbah palet bekas sebagai bahan baku utama.

“Secara kekuatan tetap lebih solid jati. Tapi pinus menang di look, seratnya bagus dan lebih empuk, jadi gampang dibentuk. Makanya cocok untuk craft, bukan furniture besar”, lanjutnya.

Dulu, limbah kayu pinus harus dimusnahkan di pabrik. Namun kini, karena tak lagi tertampung, limbah tersebut dialihkan ke pengepul. Proses sortir ini menjadi bagian penting dalam menentukan kualitas akhir produk. Kayu mentah dari palet tak bisa langsung dipakai.

“Sekarang ada pengepul di tiap kota, termasuk di Madiun. Saya ambilnya dari situ. Kita tetap pilih, walaupun limbah. Banyak bekas paku, ada yang retak, bengkok, bahkan berjamur. Kita belah, potong, tipiskan sendiri. Kalau orang bilang ini kan kayu limbah harusnya murah, kita tidak bicara bahan, kita bicaranya proses. Prosesnya jauh lebih panjang”, jelas Okta.

Fokus utama usahanya kini adalah figura custom, terutama untuk kebutuhan wedding seperti mahar dan foto pre-wedding. Selain itu, ia juga membuat tempat tisu, hiasan dinding, wood poster (cetak foto di media kayu), hingga kotak cincin. Menariknya, potongan kayu kecil yang dianggap tak bernilai bisa menghasilkan keuntungan berlipat.

“Satu lembar kayu sekitar Rp8.000 bisa jadi 4 sampai 5 kotak cincin. Satu kotak paling murah Rp35.000. Jadi dari bahan yang murah bisa jadi berkali-kali lipat”, katanya.

Namun ia menegaskan bahwa margin tersebut tidak serta-merta berarti keuntungan besar. Harga produknya pun relatif terjangkau, mulai dari Rp5.000 untuk holder handphone hingga sekitar Rp125.000 untuk hiasan dinding ukuran besar.

“Kalau bicara bahan memang terlihat untung banyak. Tapi kita harus hitung alat, waktu, dan skill yang dibangun dari nol. Untuk balik modal alat saja tidak bisa setahun”, sambung Okta.

Sebagian besar produk yang dibuat bersifat custom. Justru dari permintaan pelanggan, ide-ide baru lahir. Ia bahkan tak segan mengajarkan teknik pembuatan kepada orang lain. Menurutnya, tidak semua orang bertahan karena prosesnya tidak semudah yang terlihat.

“Yang menginspirasi saya itu justru pesanan customer. Mereka pesan sesuatu yang belum pernah saya buat, mau tidak mau saya harus belajar”, ungkapnya.

Meski berbasis di Madiun, mayoritas pelanggan justru berasal dari luar daerah. Bahkan ada pelanggan tetap dari wilayah Indonesia Timur. Ia menyadari tantangan terbesar adalah perbandingan dengan produk massal.

“Produksi 1.000 unit tentu beda dengan kita yang bikin 10 unit. Harga tidak bisa disamakan. Tapi kualitas dan detail pasti beda”, katanya.

Tak hanya fokus pada produksi, Oktavianto juga aktif berbagi ilmu. Ia kerap diundang sekolah untuk mengisi pelatihan keterampilan bagi siswa SMA. Ke depan, ia berencana membuka kelas terbuka bagi pemuda, khususnya melalui kerja sama dengan Karang Taruna. Baginya, pengolahan limbah bukan hanya soal bisnis, tetapi juga solusi lingkungan.

“Saya ingin buka open class. Mengumpulkan teman-teman muda untuk belajar mengolah limbah kayu ini. Kita ini tidak nebang pohon. Kita olah limbah yang kalau dibuang bisa menumpuk bahkan menyebabkan masalah lingkungan”, tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....