Zullan, Dari Santri Menjadi Boss Aki

  • 22 Okt 2025 07:51 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun : Ahmad Zullan Afiansyah, pebisnis muda sukses dengan 8 cabang toko aki 'Fiyan Jaya Aki' ini merupakan santri. Lulusan pondok pesantren ini mengaku sama sekali tidak punya riwayat pendidikan otomotif dan kelistrikan.

Dia mempelajari dan menjalankan bisnis aki dari sang ayah. Demikian yang disampaikan pria yang akrab dipanggil Zullan saat siaran Obrolan Entrepreneur Muda PRO 2 RRI Madiun. Zullan belajar mengelola dan mengembangkan usaha keluarga yang dibangun sejak 2008.

"Awalnya saya tidak ada niatan berkiprah di dunia per-aki-an atau otomotif ini. Karena saya satu-satunya anak cowok di keluarga, mungkin orang tua mempertimbangkan kelanjutan family business ini.

Tahun 2011 saya ditarik oleh Abah untuk membantu beliau, menyiapkan project regenerasi bisnis. Dari situ saya timbul rasa suka dan cinta, karena saya suka ngobrol, ketemu orang baru jadi banyak tambahan value dan dari obrolan-obrolan saya dapatkan ternyata dari media bisnis ini saya bisa berkenalan dengan orang-orang yang punya bergaining yang luar biasa.

Dari situ kita jadi kenal anak-anak muda yang satu misi dan visi dengan kita, dan sampai detik ini usaha keluarga kita sudah bertahan dari 2008 sampai saat ini", ungkap Zullan.

Tidak memiliki pengetahuan dasar tentang aki, Zullan mempelajari seluk beluk aki dari mentor yang juga Abahnya sendiri. Hal ini membuat Zullan lebih leluasa dan cepat mempelajari hal yang tadinya dia tidak paham sama sekali.

Tidak hanya mempelajari komoditi yang dia jual, Zullan juga mempelajari cara menjalankan bisnisnya dari Sang Abah. Dia mengaku, mempelajari bisnisnya lebih sulit dari mempelajari komoditinya. Zullan bahkan bercerita sempat membuat usaha yang dibangun Abahnya hampir bangkrut. Itu terjadi saat dia akan membuka cabang, toko lamanya kebobolan.

"Yang paling susah di bisnisnya karena kita lebih memaintance human-nya, timnya, perilaku customers dan pasar. Itu sangat menguras energi. Hampir (bangkrut)", tuturnya.

Zullan meluruskan anggapan bahwa meneruskan usaha yang sudah ada lebih mudah dibandingkan membangunnya sejak awal. Untuk membangun bisnis dari satu toko menjadi 8 cabang dan beberapa kemitraan diperlukan usaha keras. Zullan menjelaskan dia harus belajar dari pengalaman terdahulu dan pengalaman orang lain. Menjalani proses trial-error membuatnya paham jika urusan bisnis bukan sekedar cuan dan pelayanan, tapi juga sisi humanis terhadap orang-orang yang terbantu mendapatkan kesempatan kerja. Zullan yakin bahwa ketika kita mampu mengangkat derajat seseorang maka kita akan diangkat derajatnya.

"Saya jadi korban atas ambisi. Tapi Alhamdulillah kita buktikan bahwa tidak sia-sia dilahirkan sebagai anak cowok. Mau gak mau, langsung fight", curhat Zullan sambil tertawa nyaring.

Melihat potensi pasar di wilayah Madiun Raya menjadi alasan utama Zullan memberanikan diri mengembangkan bisnis keluarganya. Untuk bisa menyediakan komoditi aki bagi pasar yang potensial di beberapa daerah, maka Zullan memutuskan membuka cabang secara bertahap dengan perhitungan dan perencanaan profesional.

"Dari pada customer yang jauh-jauh datang ke toko kita, mending kita yang menjemput beliau di tempatnya. Jadi lebih meringankan biaya dari customer juga. Sampai saat ini masih saya pertimbangkan juga hal tersebut. Komunikasi yang baik itu bisa menjadi potensi bisnis yang lebih baik", sambung Zullan.

Dia berharap dengan menjemput/ membuka cabang di suatu daerah akan disambut baik oleh pasar. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Zullan sempat terpaksa mencabut beberapa cabang toko yang tidak bisa berjalan dengan baik. Mitigasi dan litigasi sudah dipertimbangkan sehingga hal demikian menjadi lumrah baginya. Zullan menyiapkan tim inti untuk mentoring semua yang ada di cabang, sehingga dia bisa mengatur siklus dan ritme bisnisnya.

"Misal gak bisa achieve, kita harus apa lagi, ada nanti caranya", tuturnya.

Potensi pasar aki sebanding dengan kompetitor bisnis ini. Walaupun kebutuhan aki banyak, namun tidak dipungkiri penjual komoditi serupa juga banyak. Zullan memiliki cara pandang dan menyikapi kompetitor bisnisnya. Alih-alih bersaing dengan pebisnis aki lain, Zullan melakukan pendekatan dan soft marketing kepada mereka. Penawaran kerja sama dan kolaborasi terbukti mampu menambah peluang penjualannya.

"Metode yang saya pakai adalah metode merangkul. Jadi kalau bisa, kompetitor kita ngambilnya di kita. Jadi kita gak saling menjatuhkan. Sebaliknya kita saling menguatkan," jelasnya.

Zullan yang awalnya asing dengan dunia aki, semakin mantab dan tumbuh besar dengan aki. Santri yang visioner ini sangat peka terhadap perubahan dan jeli melihat peluang pasar yang dinamis. Tidak hanya urusan keuangan, pengelolaan SDM menjadi kunci terpenting bagi Zullan dalam menjalankan dan mempertahankan eksistensi bisnis. Baginya, super tim lah yang menciptakan super marketing.

"Jadi lebih enak kita memastikan SDMnya, karena bisnis kita jadi moncer itu karena kita meng-hire super tim. Kalau tim nya gak OK, kita akan kerja dobel. Biar efisien aja. Kenapa masih fokus di dunia per-aki-an karena bahu jalan makin menyempit, volume kendaraan makin banyak. Praktis bisa dikalkulasikan. Eman lahan hijaunya kalau di tengah jalan bisnisnya kita putus. Karena setiap tahun pasti ada produksi mobil atau motor baru", tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....