Tekad Pemkot Madiun: Zero Stunting di Tahun 2027, Kader Dijanjikan Reward
- 19 Nov 2025 09:16 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun : Pemerintah Kota Madiun menargetkan capaian zero stunting pada tahun 2027. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wali Kota Madiun, Maidi, dalam Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) di Kantor Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, Selasa (18/11/2025).
Maidi menegaskan kesungguhannya dengan berencana turun langsung ke lapangan untuk memastikan setiap anak stunting mendapat perhatian menyeluruh. Ia berharap dengan upaya tersebut, kasus stunting di Kota Madiun bisa segera teratasi.
“Kota Madiun memang punya program kalau bisa tahun 2027 bisa bebas stunting. Tapi kita lihat dari kriterianya dulu. Jadi anak-anak yang stunting tahun ini kita perhatikan betul, dan saya turun ke lapangan betul, akan saya cek kekurangannya apa,” ujar Maidi.
Maidi memotivasi para kader agar bekerja lebih optimal dengan memberikan target satu tahun untuk menuntaskan kasus stunting di Kota Madiun. Ia menyampaikan akan memberikan penghargaan (reward) bagi kader jika pada 2027 tidak ditemukan lagi kasus stunting di wilayah Kota Madiun.
“Para kader kalau tahun 2027 tidak ada stunting di Kota Madiun, akan saya kasih reward. Saya beri waktu satu tahun,” lanjutnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Madiun, Denik Wuryani, menjelaskan strategi mengatasi stunting dimulai dengan pendataan yang lebih detail.
“Per Agustus 2025 ada 393 anak. Tapi nanti kita update lagi di bulan November-Desember. Karena pak Wali Kota tadi menghendaki data yang detail mulai dari umur, per kelurahan, distribusinya bagaimana, resiko tidak hanya stunting tapi menunjukkan masalah gizi juga harus kita atasi bersama-sama,” jelasnya.
Denik melanjutkan penanganan stunting akan dilakukan secara bertahap mulai akhir 2025 atau awal 2026 dengan pendekatan kasus per kasus.
Lebih lanjut, Denik menuturkan bahwa penanganan stunting di Kota Madiun masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari mobilitas penduduk yang tinggi hingga kondisi sanitasi lingkungan. Ia menambahkan bahwa pola asuh menjadi tantangan paling sulit, sehingga perlu pemantauan berkelanjutan.
“Yang paling tantangan kita di pola asuh, karena itu yang paling sulit karena berkaitan dengan budaya, kemauan orang tua, maka harus perlu selalu dimonitor,” tuturnya.
Denik menjelaskan, bahwa zero stunting tidak dimaknai sebagai hilangnya seluruh kasus, melainkan harapannya tidak ada kasus stunting baru di Kota Madiun. Untuk mencapai hal tersebut, pencegahan dilakukan melalui pendampingan berkelanjutan mulai dari calon pengantin hingga ibu hamil. (UF)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....