Perbedaan Budaya Berpotensi Picu Bullying, PISHI Dorong Tingkatkan Ruang Inklusi!

  • 29 Sep 2026 10:55 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Perbedaan latar belakang budaya di lingkungan pendidikan dapat menjadi tantangan dalam membangun interaksi antarpeserta didik. Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI) menilai pemahaman terhadap keberagaman budaya diperlukan agar perbedaan tidak berkembang menjadi kesalahpahaman maupun membuat peserta didik merasa terasing.

Hal tersebut disampaikan Dr. Aris Wuryantoro, M.Hum., dalam program Ngobrol Bareng Komunitas (Ngobras) Pro 1 RRI Madiun belum lama ini. Dalam program bertema “Komunikasi Lintas Budaya dalam Dunia Pendidikan” tersebut, Aris menjelaskan pentingnya membangun pemahaman ketika peserta didik memiliki latar budaya yang berbeda.

“Karena budaya yang berbeda itu biasanya timbul miskomunikasi, misunderstanding, dalam artian di sini seseorang umpamanya siswa ada siswa yang dari luar Madiun itu kan dia sendiri, terus dia merasa diasingkan, merasa terasing,” ujar Aris. “Makanya saya dekatin dengan saya berbicara apa yang ada di dalam sini,” lanjutnya.

Menurut Aris, lingkungan pendidikan perlu menumbuhkan pemahaman bahwa peserta didik yang berasal dari latar belakang berbeda tetap memiliki posisi yang sama sebagai bagian dari komunitas. Ia juga menilai unsur budaya lokal tetap dapat ditampilkan, tetapi perlu diperhatikan agar tidak justru memperlebar jarak antarpeserta didik.

“Di sini perlu diciptakan bahwasanya di sini itu kita sama. Kita sama dalam artian di sini, makanya yang sifatnya lokal itu ya bolehlah ada, cuma dalam artian jangan terlalu dimunculkan,” katanya. “Karena terus terang aja, umpama kayak saya dulu di Jakarta, banyakan orang Sunda sama orang Jawa, budaya yang sangat berbeda terutama dalam percakapannya itu kan kayak gitu,” tambahnya.

Aris menyebut perbedaan budaya yang tidak dipahami dapat menimbulkan benturan dalam interaksi sosial. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya komunikasi lintas budaya dikenalkan dan diterapkan dalam lingkungan pendidikan.

“Ini kan banyak sekali nanti benturan-benturan budaya atau cultural shock di situ. Di situlah kemudian saya menambahkan yang pulang itu ya, Pak, Bu Dwi Rosita, itu kayak apa namanya, reentry shock, reentry shock culture,” jelas Aris.

Sementara itu, Drs. Sumani, M.M., M.Hum., menekankan bahwa setiap peserta didik membawa latar budaya masing-masing ketika memasuki lingkungan pendidikan. Menurutnya, pendidik perlu memahami keberagaman tersebut dalam menentukan pendekatan pembelajaran.

“Kita harus menyadari tentang adanya perbedaan budaya ini. Pada waktu berada di pendidikan kita harus menyadari bahwa mereka memiliki latar budaya yang berbeda,” ujar Sumani. “Oleh karena itu pendekatan yang kita tetapkan dalam pembelajaran, anak kita harus memahami bahwa mereka memang berbeda-beda,” lanjutnya.

Sumani mengatakan, pemahaman terhadap perbedaan budaya juga diperlukan agar tidak ada peserta didik yang merasa dirinya sebagai orang asing di lingkungan pendidikan. Peran guru dinilai penting dalam mengakomodasi perbedaan tersebut sehingga seluruh peserta didik dapat menjadi bagian dari komunitas.

“Karena itu orang itu memandang mereka dengan budaya mereka sehingga tidak ada di antara anak didik kita ini yang merasa bahwa mereka menjadi orang asing. Itu untuk menjadi bagian komunitas di mana perbedaan-perbedaan itu diakomodir oleh seorang guru,” tuturnya.

Pembahasan mengenai potensi bullying dan rasisme muncul ketika salah seorang pendengar menanyakan apakah perbedaan budaya dapat menjadi pemicunya di dunia pendidikan. PISHI melalui para narasumbernya menekankan pentingnya pemahaman lintas budaya agar peserta didik dapat berinteraksi dengan latar belakang yang beragam tanpa merasa terasing maupun mengasingkan orang lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....