PISHI Dorong Pendidikan yang Akomodatif terhadap Perbedaan Budaya Siswa!

  • 29 Sep 2026 10:15 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Perbedaan latar belakang budaya menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam dunia pendidikan. Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI) menilai pemahaman terhadap keberagaman budaya penting agar proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik di tengah peserta didik yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang.

Hal tersebut disampaikan Drs. Sumani, M.M., M.Hum., dalam program Ngobrol Bareng Komunitas (Ngobras) Pro 1 RRI Madiun, Minggu 27 September 2026. Menurutnya, pendidik perlu memahami bahwa setiap peserta didik membawa latar budaya masing-masing ketika berada di lingkungan sekolah maupun perguruan tinggi.

“Di dalam negara kita sendiri dan kita mengetahui kita memiliki sekian banyak budaya. Tentunya dalam komunitas seperti lembaga pendidikan baik maupun perguruan tinggi tidak dipungkiri bahwa siswanya ini dari latar belakang untuk pembelajaran di kelas kita harus ketahui bahwa masing-masing dari mereka ini membawa budaya mereka sendiri-sendiri,” ujar Sumani.

Sumani menjelaskan, keberagaman budaya tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan pendekatan pembelajaran. Pendidik juga memiliki peran untuk memastikan perbedaan latar belakang tidak membuat peserta didik merasa tersisih dari lingkungan pendidikan.

“Seorang pendidik harus menyadari tentang adanya perbedaan budaya ini. Pada waktu berada di pendidikan kita harus menyadari bahwa mereka memiliki latar budaya yang berbeda,” katanya.

Ia menambahkan, pendekatan pembelajaran perlu diarahkan agar seluruh peserta didik dapat merasa menjadi bagian dari komunitas di lingkungan pendidikan. Menurutnya, perbedaan budaya yang dimiliki peserta didik tidak seharusnya membuat mereka merasa sebagai orang asing ketika mengikuti proses pembelajaran.

“Oleh karena itu pendekatan yang kita tetapkan dalam pembelajaran, anak kita harus memahami bahwa mereka memang berbeda-beda. Karena itu orang itu memandang mereka dengan budaya mereka sehingga tidak ada di antara anak didik kita ini yang merasa bahwa mereka menjadi orang asing,” jelas Sumani.

Pentingnya memahami perbedaan budaya juga tercermin dari pengalaman para narasumber PISHI ketika mengikuti kegiatan akademik di luar negeri. Dr. Dewi Kencanawati, M.Pd., yang pernah mengikuti program di University of Leeds, mengatakan pengalaman tersebut membuatnya melihat secara langsung perbedaan budaya dalam komunikasi dan lingkungan pendidikan.

“Mata kuliah cross cultural understanding itu memang tidak hanya perlu dipahami, tapi juga diimplementasikan di dunia nyata. Jadi, kita sudah mempelajari di kelas sebanyak mungkin dua atau empat SKS, namun pada saat pelaksanaannya di sana memang banyak sekali perbedaan,” ungkap Dewi.

Sementara itu, Dr. Aris Wuryantoro, M.Hum., menilai pemahaman komunikasi lintas budaya semakin penting di tengah kondisi masyarakat yang semakin beragam. Ia mengatakan perbedaan budaya yang tidak dipahami dapat memunculkan miskomunikasi dalam interaksi, termasuk di lingkungan pendidikan.

“Karena banyak sekali kalau kita tidak paham dengan budaya yang kita ajak komunikasi nanti akan terjadi miskomunikasi. Jadi akhirnya nanti misunderstanding dan akhirnya saling kurang baiklah dalam berkomunikasi itu,” tutur Aris.

Melalui pemahaman terhadap komunikasi lintas budaya, PISHI mendorong lingkungan pendidikan agar mampu mengakomodasi keberagaman peserta didik. Upaya tersebut dinilai penting agar perbedaan budaya tidak menjadi penghalang dalam proses belajar maupun interaksi antara peserta didik dan pendidik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....