Selain Stigma Negatif Samin, Ada Filosofi Kejujuran dan Kesederhanaan

  • 31 Jul 2026 13:07 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Stigma negatif yang selama ini melekat pada masyarakat Samin dinilai masih muncul akibat minimnya pemahaman terhadap ajaran yang diwariskan Mbah Samin Surosentiko. Padahal, di balik anggapan tersebut, ajaran Samin mengandung nilai-nilai luhur berupa kejujuran, kesederhanaan, kesabaran, serta penghormatan kepada sesama yang masih terus dijaga hingga kini.

Hal itu disampaikan para narasumber dalam program Ngobrol Bareng Komunitas (NGOBRAS) Pro 1 RRI Madiun bersama Komunitas Sastra Madiun Raya yang mengangkat tema "Samin Dulu dan Sekarang". Diskusi tersebut mengajak masyarakat melihat ajaran Samin secara lebih utuh, tidak hanya berdasarkan stigma yang berkembang di lingkungan sekitar.

Aris Wuryanto menjelaskan, ajaran Samin awalnya merupakan gerakan yang dipelopori Mbah Samin Surosentiko sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Namun, perlawanan itu dilakukan tanpa kekerasan, melainkan melalui sikap hidup yang mengedepankan moral, kejujuran, dan keselarasan dengan alam maupun sesama manusia.

"Gerakan Samin merupakan perlawanan tanpa kekerasan. Mereka memilih tetap memegang nilai kejujuran, kesederhanaan, serta hidup selaras dengan alam dan sesama. Nilai-nilai itu yang sebenarnya menjadi inti ajaran Samin," ujar Aris belum lama ini.

Narasumber lainnya, Novi Triana Habsari, mengatakan hingga kini masih banyak masyarakat yang menggunakan istilah "Samin" sebagai konotasi negatif. Menurutnya, pandangan tersebut lahir dari kesalahpahaman terhadap sejarah dan budaya masyarakat Sedulur Sikep, sehingga nilai-nilai luhur yang mereka pegang sering kali luput dari perhatian.

Ia menjelaskan, masyarakat Samin justru menjunjung tinggi pitutur luhur seperti hidup jujur, sabar, tidak iri terhadap orang lain, memandang semua manusia sebagai saudara, serta berhati-hati dalam bertutur kata. Nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan diterapkan di tengah kehidupan masyarakat modern, termasuk dalam membangun hubungan sosial yang harmonis.

"Masyarakat Samin sangat berhati-hati ketika berkomunikasi dengan orang lain. Mereka berusaha tidak menyakiti perasaan sesama dan menjunjung tinggi etika. Nilai-nilai seperti ini masih sangat relevan diterapkan di tengah kehidupan sekarang," kata Novi.

Melalui diskusi tersebut, Komunitas Sastra Madiun Raya berharap masyarakat tidak lagi menilai ajaran Samin hanya dari stigma yang berkembang selama ini. Sebaliknya, masyarakat diajak memahami bahwa ajaran tersebut menyimpan warisan nilai moral, kejujuran, kesederhanaan, dan persaudaraan yang masih terus dijaga oleh Sedulur Sikep hingga saat ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....