Komunitas Sastra Madiun Raya Ajak Masyarakat Mengenal Nilai Luhur Ajaran Samin
- 31 Jul 2026 08:10 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Komunitas Sastra Madiun Raya mengajak masyarakat untuk mengenal ajaran Samin secara lebih utuh melalui program Ngobrol Bareng Komunitas (NGOBRAS) Pro 1 RRI Madiun belum lama ini. Dalam diskusi bertema Samin Dulu dan Sekarang, para narasumber menjelaskan bahwa ajaran Samin bukan sekadar bagian dari sejarah perlawanan terhadap penjajahan, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur yang masih relevan diterapkan dalam kehidupan saat ini.
Salah satu narasumber, Aris Wuryanto, menjelaskan bahwa ajaran Samin diperkenalkan oleh Mbah Samin Surosentiko pada akhir abad ke-19. Ajaran tersebut kemudian berkembang ke berbagai wilayah, seperti Blora, Bojonegoro, Tuban, Pati, Rembang, hingga Madiun. Menurutnya, masyarakat yang dikenal sebagai Sedulur Sikep menjalankan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda dengan cara damai, tanpa mengangkat senjata, melainkan melalui sikap hidup dan prinsip yang mereka yakini.
"Gerakan Samin pada dasarnya merupakan gerakan perlawanan tanpa kekerasan. Mereka menolak berbagai bentuk penindasan yang dilakukan pemerintah kolonial, tetapi tetap mengedepankan kejujuran, kesederhanaan, serta hidup selaras dengan sesama dan alam. Nilai-nilai itulah yang sebenarnya menjadi inti ajaran Samin," ujar Aris.
Selain membahas sejarahnya, diskusi juga menyoroti anggapan negatif yang selama ini masih melekat pada masyarakat Samin. Narasumber Novi Triana Habsari mengatakan, hingga kini masih banyak masyarakat yang mengaitkan istilah Samin dengan perilaku yang dianggap aneh atau negatif, padahal pandangan tersebut tidak mencerminkan ajaran yang sesungguhnya. Ia menilai stigma tersebut muncul karena minimnya pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai yang diwariskan oleh Sedulur Sikep.
Menurut Novi, masyarakat Samin justru menjunjung tinggi kemandirian, kesetaraan, serta menghormati orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga menyoroti peran perempuan Samin yang mampu mandiri dan aktif berkarya, meskipun kerap menghadapi stereotip dari masyarakat di luar komunitas mereka.
"Masyarakat Samin memiliki banyak pitutur luhur yang masih dijalankan hingga sekarang, seperti hidup jujur, sabar, tidak iri kepada orang lain, memandang semua manusia sebagai saudara, serta berhati-hati dalam bertutur kata. Nilai-nilai itu sebenarnya sangat relevan diterapkan di tengah kehidupan masyarakat modern," kata Novi.
Dalam kesempatan tersebut, para narasumber juga memperkenalkan konsep Samino, Samini, dan Samidi yang diangkat dalam Festival Samin ke-10. Samino dimaknai sebagai Samin yang masih eksis hingga sekarang, Samini menggambarkan masyarakat Samin yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, sedangkan Samidi menjadi simbol tekad untuk terus menjaga dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya.
Melalui kegiatan diskusi tersebut, Komunitas Sastra Madiun Raya berharap masyarakat tidak lagi memandang ajaran Samin dari stigma yang berkembang selama ini, melainkan memahami nilai-nilai kejujuran, kesederhanaan, kebersamaan, dan keselarasan hidup yang menjadi warisan budaya sekaligus kearifan lokal yang patut dilestarikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....