Kilau Batu Mulia Hadir dan Bawa Pesan Filososfis di Acara Gelar Budaya RRI Madiun
- 27 Jun 2026 14:47 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun— Acara Gelar Budaya yang diselenggarakan LPP RRI Madiun tidak hanya menjadi panggung bagi benda pusaka-tosan aji seperti keris, tetapi juga menjadi wadah unjuk gigi bagi keindahan batu mulia dan permata nusantara. Kehadiran stan batu mulia ini sukses menarik perhatian pengunjung yang ingin melihat lebih dekat kekayaan geologi sekaligus budaya Indonesia.
Batu mulia dan permata rupanya bukan sekadar perhiasan modern, melainkan bagian dari anggeman (aksesoris pakaian adat) yang memiliki akar sejarah yang sangat panjang dalam kebudayaan masyarakat kita.
Salah satu peserta pameran asal Madiun Kota, Sonny Mulyono, membawa ratusan koleksi batu mulia terbaiknya dari berbagai pelosok negeri untuk memeriahkan acara ini. Mulai dari Batu Bacan yang legendaris hingga berbagai jenis batuan khas daerah lainnya dipajang rapi untuk mengedukasi masyarakat.
"Saya di sini ikut meramaikan tentang budaya akik dan permata. Jadi di sini bukan hanya keris yang jadi tinggalan budaya nenek moyang kita. Anggeman seperti akik dan permata itu juga bagian aksesoris yang sudah melekat dan mempunyai sejarah yang panjang. Kalau yang saya bawa ini kurang lebih sekitar 400 sampai 500-an [butir] lah. Kalau batu, jenis dan asalnya hampir dari seluruh Indonesia. Jadi yang terkenal itu kan seperti Batu Bacan dari Halmahera, Maluku. Kenapa sampai sekarang masih diminati? Karena dia salah satu batu yang bermetamorfosis, dan nilai ekonomi atau value-nya masih cukup tinggi. Batu itu filosofinya adalah sesuatu yang semula dianggap tidak bernilai, sering disepelekan atau tidak berharga, sesungguhnya mempunyai nilai yang cukup tinggi. Sama seperti manusia. Manusia kalau belum diasah, belum dipoles, itu kan seolah-olah tidak bernilai. Walaupun batu yang diinjak-injak di bawah kaki itu, terkadang ketika sudah dipoles dan naik ring emas, kan jadi mahal. Nah, seperti itulah manusia, sama. Ketika sudah mendapat tempaan, sudah dipoles ujian hidup dan sebagainya, [derajatnya] naik. Kita berharap acara-acara seperti ini sering dilakukan untuk kolaborasi bersama. Karena kita berharap juga untuk menciptakan ekonomi kreatif. Jadi ekonomi kreatif dan juga budaya itu bisa tetap bersetara.", jelas Sonny Mulyono
Melalui pameran ini, diharapkan masyarakat tidak hanya melihat batu akik dari nilai estetikanya saja, melainkan juga memahami filosofi mendalam serta potensi ekonomi kreatif yang terkandung di dalamnya. Kolaborasi antara pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi seperti inilah yang diharapkan dapat terus berjalan beriringan di masa depan. (Shabrina)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....