Mengenal Sukerta dalam Budaya Jawa: Ruwatan, Ikhtiar Tolak Bala

  • 22 Mei 2026 09:46 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun- Tradisi ruwatan masih terus hidup di tengah masyarakat Jawa sebagai bagian dari warisan budaya leluhur yang sarat nilai spiritual dan filosofi kehidupan. Hal itu mengemuka dalam acara Ngobras (Ngobrol Bareng Komunitas) di Studio Pro1 Radio Republik Indonesia Madiun bersama Ki Purwinarto, Suwondo, dan Cornelius Joko Saptono beberapa waktu lalu.

Dalam dialog tersebut dijelaskan bahwa sukerta merupakan sebutan bagi seseorang yang menurut tradisi Jawa dianggap memiliki kondisi tertentu sejak lahir sehingga perlu diruwat atau dibersihkan secara spiritual. Ruwatan sendiri dipahami sebagai doa, ikhtiar, sekaligus bentuk pelestarian budaya Jawa agar seseorang dijauhkan dari kesialan maupun mara bahaya.

Ki Purwinarto menjelaskan bahwa masyarakat Jawa sejak dahulu mengenal konsep keseimbangan hidup lahir dan batin. Salah satu bentuknya adalah melalui ritual ruwatan terhadap orang-orang yang masuk kategori sukerto.

“Ruwatan bukan sekadar ritual mistis, tetapi bentuk pengharapan kepada Tuhan agar manusia diberikan keselamatan, ketenteraman, dan hidup yang lebih baik,” ujarnya.

Menurutnya, tradisi ruwatan umumnya dilakukan melalui pagelaran wayang kulit dengan lakon Murwakala yang dipimpin dalang khusus ruwat. Prosesi juga biasanya disertai doa-doa, siraman air bunga, hingga pemotongan rambut sebagai simbol pembuangan energi buruk.

Suwondo menambahkan bahwa dalam budaya Jawa terdapat berbagai golongan sukerto. Kategori ini umumnya berkaitan dengan susunan kelahiran anak dalam keluarga.

Beberapa golongan sukerto yang paling dikenal antara lain ontang-anting, yakni anak tunggal laki-laki maupun perempuan. Selain itu ada uger-uger lawang, yaitu dua anak laki-laki dalam satu keluarga, serta kembang sepasang untuk dua anak perempuan.

Golongan lainnya adalah kedhana-kedhini atau satu anak laki-laki dan satu anak perempuan. Ada pula sendang kapit pancuran, yakni tiga bersaudara dengan susunan laki-laki, perempuan, laki-laki.

Sebaliknya, pancuran kapit sendang merupakan susunan perempuan, laki-laki, perempuan. Dalam tradisi Jawa, juga dikenal istilah saramba untuk empat anak laki-laki, srimpi untuk empat anak perempuan, hingga pendawa bagi lima anak laki-laki dan pendawi untuk lima anak perempuan.

"Sebagian masyarakat Jawa meyakini golongan-golongan tersebut perlu diruwat agar terhindar dari sengkala atau kesialan hidup," tambahnya.

Cornelius Joko Saptono dalam kesempatan itu menegaskan bahwa masyarakat perlu memandang ruwatan sebagai bagian dari kearifan lokal, bukan sekadar hal mistis semata. Menurutnya, tradisi tersebut memiliki nilai sosial karena mempererat kebersamaan warga sekaligus menjaga identitas budaya Jawa di tengah perkembangan zaman.

"Anak muda perlu mengenal budaya leluhurnya. Ruwatan adalah bagian dari perjalanan budaya Jawa yang mengajarkan manusia untuk selalu introspeksi dan mendekatkan diri kepada Tuhan,” katanya.

Tradisi ruwatan hingga kini masih rutin digelar di berbagai daerah di Jawa, terutama pada bulan Sura. Bahkan, sejumlah komunitas budaya dan instansi pemerintah masih aktif melestarikannya sebagai bagian dari warisan budaya Nusantara. Termasuk RRI Madiun yang juga akan menggelar tradisi Ruwatan pada bulan Juni 2026.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....