Investasi Aman di Era Digital: Meminimalkan Resiko di Pasar Yang Fluktuatif
- 02 Sep 2024 09:50 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun : Era seperti sekarang ini, tidak sedikit masyarakat yang menginginkan sukses. Berbagai metode digunakan untuk mengolah pendapatan agar menjadi hasil yang memuaskan. Termasuk salah satunya adalah dengan berinvestasi. Investasi menjadi salah satu issue yang semakin gencar dibicarakan di kalangan masyarakat. Namun, bukan rahasia umum bahwa investasi tidak lepas dari risiko, dan penting bagi para investor, terutama pemula, untuk mengetahui cara meminimalkan risiko tersebut.
Dalam perbincangan di program Mozaik Indonesia segmen peningkatan investasi, dua dosen dari Fakultas Bisnis, Sri Rustiyaningsih dan Haris Wibisono, memberikan penjelasan mengenai strategi-strategi yang bisa digunakan untuk mengelola risiko dalam berinvestasi.
Sri Rustiyaningsih, menekankan pentingnya diversifikasi sebagai salah satu strategi utama dalam mengurangi risiko investasi. Diversifikasi adalah teknik di mana investor menempatkan dananya ke berbagai instrumen atau sektor untuk mengurangi dampak kerugian pada satu aset tertentu. "Diversifikasi adalah prinsip dasar dalam investasi. Dengan menyebarkan dana ke berbagai jenis aset seperti saham, obligasi, reksa dana, atau properti, investor dapat meminimalkan risiko. Ketika satu sektor mengalami kerugian, sektor lain mungkin tetap stabil atau bahkan tumbuh, sehingga mengurangi dampak negatif secara keseluruhan," ujar Sri Rustiyaningsih, Jumat (30/9/2024). Sri juga menambahkan , diversifikasi tidak hanya terbatas pada jenis aset, tetapi juga wilayah geografis. Investasi di pasar internasional bisa menjadi salah satu cara untuk mengurangi risiko pasar domestik yang sedang bergejolak.
Di sisi lain, Haris Wibisono mengatakan sebelum memulai investasi, seorang investor harus mengenali terlebih dahulu profil risiko dan tujuan investasinya. Menurutnya, setiap individu memiliki tingkat toleransi terhadap risiko yang berbeda-beda, dan hal ini akan memengaruhi keputusan investasi yang diambil. "Pertama yang harus dilakukan investor adalah mengenali profil risiko masing-masing. Ada investor yang cenderung agresif dan siap mengambil risiko tinggi untuk mendapatkan keuntungan besar, sementara ada yang lebih konservatif dan mencari keamanan dalam investasi. Mengetahui ini akan membantu investor dalam memilih instrumen yang sesuai," jelas Haris Wibisono melalui Zoom pada pendengar dan pemirsa Pro1 RRI Madiun.
Memahami tujuan investasi sangat penting, apakah investasi tersebut untuk jangka pendek, menengah, atau panjang? Menurut Haris, setiap tujuan memiliki strategi dan instrumen yang berbeda pula. "Jika tujuan investasi adalah untuk jangka pendek, instrumen yang lebih aman seperti deposito atau obligasi pemerintah bisa menjadi pilihan. Namun, jika tujuan investasi adalah jangka panjang, maka saham atau properti mungkin lebih tepat, meskipun risiko lebih besar," tambah Haris.
Sri juga menyoroti pentingnya edukasi bagi para investor. Menurutnya, salah satu penyebab utama kerugian dalam investasi adalah kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang instrumen yang digunakan. Oleh karena itu, investor harus selalu meningkatkan pemahaman mereka tentang produk investasi yang mereka pilih. "Seiring dengan perkembangan teknologi, semakin banyak instrumen investasi baru yang muncul, seperti cryptocurrency misalnya. Investor harus benar-benar memahami karakteristik dari setiap produk yang mereka pilih agar bisa mengantisipasi risiko yang mungkin muncul. Ya paling tidak literasi dulu supaya paham dengan apa yang kita mau sebelum berinvestasi," ungkapnya.
Selain itu, pemantauan pasar secara rutin juga dianggap penting. Sri menekankan bahwa kondisi pasar selalu berubah, sehingga investor harus selalu waspada dan siap untuk mengambil tindakan yang diperlukan, seperti melakukan rebalancing portofolio atau mengalihkan investasi ke instrumen yang lebih aman ketika pasar sedang tidak menentu.
Sementara itu Haris juga memberikan beberapa rekomendasi praktis bagi para investor pemula untuk meminimalkan risiko. Dia menyarankan agar para pemula memulai dengan nominal kecil dan memilih instrumen investasi yang lebih aman seperti reksa dana pasar uang atau obligasi pemerintah. "Mulailah dari yang kecil. Jangan langsung terjun dengan modal besar jika Anda belum terbiasa dengan dinamika pasar. Pelajari terlebih dahulu dengan nominal yang tidak terlalu besar, sehingga jika terjadi kerugian, dampaknya tidak terlalu signifikan," saran Haris.
Kemudian, Sri juga menambahkan bahwa investor perlu menghindari keputusan yang emosional. "Kondisi pasar bisa sangat fluktuatif, tetapi keputusan yang diambil harus berdasarkan analisis yang matang, bukan emosi. Jangan tergoda untuk mengikuti tren tanpa pertimbangan yang rasional," tegasnya.
Meskipun investasi selalu mengandung risiko, dengan pemahaman yang baik, diversifikasi yang tepat, dan pemantauan yang cermat, risiko tersebut dapat diminimalkan. Mereka berharap bahwa melalui edukasi dan kesadaran yang lebih besar, masyarakat akan lebih siap dalam menghadapi dinamika dunia investasi dan mampu mengambil keputusan yang lebih bijak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....