Tantangan dan Peluang Usaha Madu
- 10 Jul 2024 00:31 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun : Ingin mencoba membuat usaha, mungkin bisa melirik menjual madu. Bisnis minuman yang memiliki khasiat untuk menjaga kesehatan ini, boleh dibilang cukup menjanjikan.
Hal itulah yang diceritakan Yuliana Rachmawati A dan Isak Taufik Ismail saat menjadi narasumber Mozaik Indonesia Pro 1 RRI Madiun, Senin (8/7/2024) kemarin. Sudah sejak 2016 lalu, pasangan suami istri itu memulai usaha madu.
Isak mengatakan ada beberapa varian madu yang dijual. Seperti madu kelengkeng, randu, kaliandra, klanceng, royal jelly (madu dengan komposisi royal jelly) dan lain-lain. “Semuanya madu pure and raw atau murni dan mentah (madu segar),” ujar dia.
Penamaan madu tersebut, sesuai dengan karakterisitik lokasi tempat menggembala lebah. Ada 5 titik lokasi di wilayah Jawa yang selama ini digunakan Isak untuk menggembala lebah. “Kami ada kalender perbungaan, di situ nanti kami gembalakan lebah,” kata dia.

Dari proses yang sudah dilalui sekitar 8 tahun ini, usaha madu diakuinya cukup memanjanjikan. Isak menyebut, omset dari penjualan madu secara ecer bisa sampai belasan juta rupiah setiap bulan, sedangkan untuk tingkat grosir jauh lebih besar lagi.
Meski manis, namun usaha madu juga memiliki tantangan. “Tantangannya ada di produksi, karena memang iklim di indonesia saat ini sulit diprediksi. Seperti kendala saat musim hujan yang tidak jelas (datangnya),” ujar dia.
Isak mengaku, dulu saat musim masih mudah diprediksi, produksi madu bisa melimpah. “Saya dapat cerita, dulu era 2004, saya dapat info dari mereka, mbah-mbah peternak (lebah) itu, dari 40 kotak (sarang lebah) bisa bawa pulang madu 3 sampai 4 ton,” ujar dia.
Namun kondisi sekarang ini berbeda. “Sekarang kami masukan 250-300 kotak (sarang lebah) di suatu area, itu panen tidak satu ton. Setiap tahun mengalami penurunan produksi. Itulah yang jadi tantangan sekarang ini,” ujar dia.
Alasan turunnya produksi ini, jelas Isak, karena saat hujan turun, lebah tidak mau keluar sarang. “Hujan ini membasahi bunga dan nektar akan larut, hilang. Jadi lebah di dalam sarang, mereka akan makan madu yang ada di sel (sarang) yang telah dikumpulkan sebelumnya,” ujar dia.
Sementara itu Yuliana menjelaskan, namanya bisnis pasti ada manis dan pahitnya. “Tapi alhamdulillah, di waktu Covid-19 itu, omset luar biasa (naik),” kata dia. Meski demikian, sampai saat ini pembeli tetap selalu ada.
“Kami sudah punya langganan. Mereka ada yang setiap habis beli lagi. Ada juga yang beli karena untuk sakit tertentu. Jadi sekarang pun pembeli tetap ada, dan alhamdulillah masih bisa memberi manfaat,” ujar dia.
Harga madu yang diberi merk Madu BM ini, juga relatif ramah dikantong. Mulai harga Rp50 ribu sampai Rp300 ribu, tergantung jenis madu dan ukuran kemasan. Selain menjual secara ecer, Yuliana juga menjual madu untuk dijual kembali.
“Jadi ada sistem reseller, lalu lembeli juga bisa membeli yang tanpa merk, dan mereka bisa membuat brand sendiri,” ujar dia. Untuk mendongkrak penjualan, selama ini mereka juga menggunakan sistem online.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....