Urban Farming: Solusi Pertanian di Perkotaan

  • 22 Jun 2024 15:20 WIB
  •  Madiun

KBRN, Madiun : Aspek pertanian merupakan bagian penting dalam pemenuhan ketahanan pangan masyarakat. Pertanian identik dengan suasana pedesaan yang memerlukan lahan yang luas. Namun, bagaimana jika kondisi lahan semakin menipis? Bisakah masyarakat perkotaan ikut serta dalam mensukseskan ketahanan pangan melalui pertanian? tentu saja jawabannya adalah “Ya, selalu ada solusi untuk pertanian di lahan terbatas”

Konsep pertanian modern di area perkotaan dikenal dengan istilah “Urban Farming”. Urban Farming merupakan usaha pembudidayaan tanaman di lahan perkotaan secara efektif, efisien dan estetis sebagai bentuk pemanfaatan lahan sempit. Konsep ini merupakan salah satu upaya penyediaan bahan pangan secara mandiri oleh masyarakat perkotaan. Dr W. Linda Yuhanna, M.Si dosen Pendidikan Biologi Universitas PGRI Madiun mengungkapkan bahwa urban farming ini diharapkan dapat menggunggah minat generasi milenial dan gen z untuk tertarik dan mengembangkan ide dalam pertanian era modern.

Contoh Hidroponik Sederhana di Pekarangan

Urban farming mempunyai beberapa manfaat diantaranya:

1. Memenuhi kebutuhan primer dan menjaga ketahanan pangan

2. Memanfaatkan lahan sempit yang ramah lingkungan dan bernilai estetis.

3. Mendorong komersialisasi dan menjadi komoditas pertanian.

4. Mendukung inovasi dan ide dalam memanfaatkan lahan.

5. Menjadi sarana self-healing dengan konsep eco-friendly.

6. menambah sumber oksigen

Terdapat beberapa cara implementasi urban farming yang dapat dilakukan oleh masyarakat perkotaan. Bentuk implementasi yang akan dilakukan tentu saja harus melihat sumber daya yang ada, lahan, konsep pertanian yang akan dilakukan.Beberapa bentuk urban farming sebagai berikut.

1. Hidroponik

Hidroponik adalah sebuah metode pertanian modern yang menghasilkan tanaman tanpa menggunakan tanah. Nutrisi yang dibutuhkan tanaman disediakan langsung melalui air yang mengandung semua unsur penting. Hidroponik data dilakukan dengan berbagai metode seperti sistem irigasi tetes (drip irrigation), NFT (nutrient film technique), DFT (deep flow technique, Wick System.

2. Vertikultur

Vertikultur adalah sistem budidaya pertanian yang dilaksanakan secara vertikal atau bertingkat pada skala indoor maupun outdoor. Umumnya vertikultur dilakukan menggunakan bangunan atau model wadah tertentu untuk penanaman, tergantung kondisi tempat dan konsep yang akan dilakukan. vertikultur ini cocok untuk perkotaan yang kurang lahan terbuka.

3. Akuaponik

Akuaponik adalah system budidaya ikan (akuakultur)dan tanaman (hidroponik) bersama dalam sebuah ekosistem yang resirkulasi/saling menguntungkan yang menggunakan bakteri alami untuk mengubah kotoran & sisa pakan ikan menjadi nutrisi tanaman. konsep ini sesuai dengan simbiosis mutualisme antar organisme.

4. Aeroponik

Aeroponik adalah teknik modern untuk menumbuhkan tanaman pertanian dengan memberikan larutan nutrisi di udara tanpa tanah. Akar tanaman akan menerima nutris melalui semprotan dari nosel atomisasi. Teknik ini memang agak menantang dan membutuhkan biaya tinggi. Namun, kelebihan aeroponik dari sistem tanam lain itu tanaman lebih mudah dipanen, perawatan mudah dan efisien, lebih hemat air dan pupuk

5. Vertiminaponik

Vertiminaponik merupakan perpaduan budidaya sayuran secara vertikal, berbahan dasar pot talang plastik dengan sistem akuaponik. Kelebihan vertiminaponik yaitu dapat menghasilkan sayuran organik, karena tidak menggunakan pupuk berbahan kimia melainkan dari kotoran ikan yang mengandung nutrisi organik dan hasil yang diperoleh berupa ikan dan syuran sekaligus.

6. Vertikan garden

Vertikal garden adalah konsep taman di lahansempit dengan cara menyusun tanaman berbentuk vertikal. Konsep ini cocok untuk keseimbangan lingkungan di daerah perkotaan dan di Kawasan bisnis. Selain sebagi filter udara, vertical garden dapat memberikan nilai estetis dan memperkaya oksigen di tengah keramaian kota.

7. Tabulampot

Tabulampot adalah teknik budidaya tanaman yang menggunakan pot dan sejenisnya sebagai tempat meletakkan media tanam dan bibit tanaman. Tabulampot cocok untuk tanaman buah yang dikembangbiakan secara vegetatif. Konsep ini sangat cocok untuk masyarakat yang hobi menanam, namun hanya meiliki lahan yang sempit.

Berbagai bentuk urban farming diatas perlu direncanakan dengan baik, dari segi konsep, sumber daya, biaya, bentuk lahan dan analisis SWOT yang bisa dilakukan. Masyarakat dapat melakukan urban farming mulai dari lingkungansekitarrumah. Selain itu perlu juga dukungan komunitas dan pemerintah yang mewadahi dan menjadi rujukan knsep urban farming mulai proses persiapan, pelaksanaan, pemanenenan bahkan ke pemasaran produk. (Dr.Linda/UNIPMA)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....