Bertaubat sebelum Terlambat, Lima Langkah Kembali kepada Allah

  • 06 Okt 2026 08:33 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun- Kesempatan untuk memperbaiki diri selalu terbuka bagi setiap manusia. Namun, kesempatan tersebut tidak boleh disia-siakan karena manusia tidak pernah mengetahui kapan ajal akan datang. Karena itu, taubat menjadi salah satu jalan penting bagi seorang Muslim untuk kembali kepada Allah SWT sebelum terlambat.

Ustaz Hebni Syarif, M.Pd., menyampaikan bahwa taubat bukan sekadar mengucapkan istighfar, tetapi merupakan proses kesungguhan hati untuk meninggalkan kesalahan dan memperbaiki kehidupan.

“Taubat itu harus dibuktikan dengan perubahan. Bukan hanya mengucapkan istighfar dengan lisan, tetapi juga menyadari kesalahan, menyesalinya, bertekad untuk tidak mengulanginya, serta memperbaiki dampak dari kesalahan tersebut,” ujar Ustaz Hebni, Selasa, 6 Oktober 2026.

Allah SWT memberikan kesempatan kepada manusia untuk kembali kepada-Nya. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

(QS. Az-Zumar: 53)

Menurut Ustaz Hebni, ayat tersebut menjadi pengingat bahwa sebesar apa pun kesalahan seseorang, pintu taubat masih terbuka selama seseorang benar-benar kembali kepada Allah dan memenuhi syarat-syarat taubat.

Ustaz Hebni menjelaskan, setidaknya terdapat lima hal yang perlu diperhatikan seseorang ketika hendak bertaubat. Taubat harus diawali dengan kesadaran bahwa perbuatan yang dilakukan merupakan sebuah kesalahan atau dosa. Kesadaran tersebut menjadi titik awal seseorang untuk memperbaiki diri.

Kedua, menyesali kesalahan. Setelah menyadari kesalahan, seseorang harus memiliki penyesalan yang sungguh-sungguh. Penyesalan bukan sekadar rasa takut terhadap akibat dosa, tetapi juga kesadaran bahwa perbuatan tersebut telah menyimpang dari ketentuan Allah SWT. Ketiga, bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan. Taubat harus disertai komitmen untuk meninggalkan dosa dan tidak kembali mengulanginya. Jika seseorang terus melakukan kesalahan yang sama tanpa usaha untuk berubah, maka kesungguhan taubatnya perlu dipertanyakan.

Keempat, memohon maaf dan memperbaiki hubungan. Jika kesalahan berkaitan dengan Allah SWT, seorang hamba hendaknya memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada-Nya. Namun, apabila kesalahan tersebut berkaitan dengan manusia, maka ia juga harus meminta maaf kepada orang yang telah dirugikan atau disakiti.

“Kalau kesalahan kita kepada Allah, maka perbanyak istighfar dan memohon ampun. Tetapi kalau kesalahan kita kepada manusia, jangan berhenti pada istighfar. Kita juga harus meminta maaf dan menyelesaikan hak orang tersebut,” jelas Ustaz Hebni.

Kelima, mengganti amal buruk dengan amal baik. Taubat tidak berhenti pada meninggalkan dosa. Seseorang juga dianjurkan mengisi kehidupannya dengan amal kebajikan sebagai bentuk nyata dari perubahan diri. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT:

“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapus kesalahan-kesalahan.”

(QS. Hud: 114)

Selain itu, Allah SWT juga berfirman:

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

(QS. Al-Furqan: 70)

Ayat tersebut menunjukkan besarnya kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang benar-benar bertaubat dan memperbaiki diri.

Ustaz Hebni mengingatkan agar seseorang tidak menunda taubat dengan alasan masih memiliki banyak waktu. Kehidupan manusia memiliki batas yang tidak diketahui. Karena itu, taubat seharusnya dilakukan segera setelah menyadari kesalahan.

“Jangan menunggu menjadi baik untuk bertaubat. Justru dengan bertaubat kita memulai proses untuk menjadi lebih baik. Jangan menunggu tua, jangan menunggu sakit, dan jangan menunggu datangnya kematian,” tegasnya.

Rasulullah SAW juga bersabda bahwa Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawa belum sampai di tenggorokan. (HR. Tirmidzi)

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk kembali kepada Allah memang terbuka, tetapi tidak berlangsung selamanya. Selama masih diberikan kehidupan, setiap manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, meminta ampun, mengembalikan hak orang lain, dan memperbanyak amal kebajikan.

Taubat bukan hanya tentang meninggalkan masa lalu, tetapi juga tentang menentukan arah kehidupan setelahnya. Menyadari kesalahan, menyesalinya, bertekad tidak mengulanginya, meminta ampun atau meminta maaf kepada pihak yang dirugikan, serta mengganti keburukan dengan kebaikan menjadi langkah penting untuk meraih ampunan Allah SWT.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....