Sudah Sikat Gigi, tapi Apakah Sudah Benar?
- 03 Okt 2026 08:05 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun- Menyikat gigi dua kali sehari sudah menjadi kebiasaan yang umum dilakukan masyarakat. Namun, pertanyaan pentingnya bukan hanya apakah seseorang sudah menyikat gigi, melainkan apakah aktivitas tersebut dilakukan dengan teknik yang benar. Sebab, menyikat gigi tidak sekadar menggerakkan sikat pada permukaan gigi. Cara memegang sikat, tekanan yang diberikan, durasi, pemilihan pasta gigi, hingga bagian gigi dan gusi yang dibersihkan turut menentukan keberhasilan dalam mengendalikan plak dan mencegah berbagai masalah kesehatan gigi dan mulut.
Dokter gigi drg. Pramita Eka W. menjelaskan bahwa kebiasaan menyikat gigi perlu dilakukan secara tepat dan konsisten. Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa tujuan utama menyikat gigi adalah menghilangkan plak atau biofilm yang menempel pada permukaan gigi dan sekitar garis gusi.
“Yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa sering kita menyikat gigi, tetapi juga bagaimana cara menyikat gigi yang benar,” ujar drg. Pramita, Jumat, 3 Oktober 2026.
Plak merupakan lapisan tipis yang terbentuk dari kumpulan bakteri dan komponen lain di dalam rongga mulut. Jika tidak dibersihkan secara teratur, plak dapat berperan dalam terjadinya karies atau gigi berlubang serta penyakit gusi. Karena itu, menyikat gigi dengan teknik yang tepat menjadi bagian penting dari pencegahan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluoride dengan kandungan sekitar 1.000–1.500 ppm fluoride. Fluoride bekerja terutama secara topikal pada gigi, membantu menghambat proses demineralisasi dan mendukung remineralisasi email gigi.
Waktu menyikat gigi juga perlu menjadi perhatian. Salah satu waktu yang penting adalah sebelum tidur. Saat seseorang tidur, produksi air liur cenderung menurun. Dalam kondisi tersebut, sisa makanan dan plak yang masih tertinggal di rongga mulut tidak seharusnya dibiarkan semalaman. “Membersihkan gigi sebelum tidur sangat penting. Jangan sampai setelah makan malam atau mengonsumsi makanan dan minuman manis, gigi tidak dibersihkan dan kondisi tersebut berlangsung selama tidur,” kata drg. Pramita.
Selain pagi dan malam hari, masyarakat juga perlu memperhatikan kebiasaan makan dan minum. Konsumsi makanan dan minuman dengan kandungan gula tambahan yang tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit gigi, terutama jika dikonsumsi terlalu sering. Kesalahan lain yang masih kerap dilakukan adalah menyikat gigi dengan tekanan terlalu kuat. Sebagian orang menganggap tekanan yang lebih besar akan membuat gigi lebih bersih. Padahal, yang dibutuhkan adalah gerakan yang efektif untuk mengangkat plak tanpa memberikan trauma berlebihan pada gusi.
“Tidak perlu menyikat dengan tenaga yang berlebihan. Yang lebih penting adalah seluruh permukaan gigi dibersihkan secara sistematis, termasuk area dekat gusi,” ujar drg. Pramita.
Dengan demikian, gigi bagian depan maupun belakang tidak boleh terlewat. Permukaan luar, permukaan dalam, dan permukaan kunyah gigi perlu dibersihkan. Pada bagian dalam gigi depan, sikat dapat diposisikan lebih vertikal agar area tersebut dapat dijangkau dengan lebih baik.
Pemilihan pasta gigi juga menjadi bagian penting. Rasa segar setelah menyikat gigi memang dapat memberikan sensasi bersih, tetapi sensasi tersebut bukan ukuran utama bahwa gigi sudah benar-benar bebas dari plak.
Yang lebih penting adalah keberadaan fluoride dalam pasta gigi. WHO menyebut pasta gigi berfluoride sebagai salah satu metode yang efektif untuk memberikan fluoride secara topikal dan membantu mencegah karies. Fluoride dapat membantu memperlambat perkembangan lesi karies serta mendukung proses remineralisasi email.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak hanya memilih pasta gigi berdasarkan rasa, aroma, atau klaim kosmetik, tetapi juga memperhatikan kandungan fluoride yang tercantum pada kemasan. Rongga mulut tidak hanya terdiri dari gigi. Gusi dan lidah juga perlu mendapatkan perhatian. Membersihkan area di sekitar garis gusi penting karena plak dapat menumpuk di sana. Jika dibiarkan, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap peradangan gusi. Tanda yang perlu diperhatikan antara lain gusi mudah berdarah, merah, bengkak, atau terasa tidak nyaman.
Membersihkan lidah juga dapat menjadi bagian dari rutinitas kebersihan mulut. Namun, menyikat gigi saja tidak selalu mampu membersihkan seluruh area di antara gigi. Karena itu, pembersihan interdental, misalnya menggunakan benang gigi atau alat pembersih interdental yang sesuai, juga penting untuk membantu menghilangkan plak di area yang sulit dijangkau bulu sikat.
Kondisi sikat gigi tidak boleh diabaikan. Bulu sikat yang sudah mengembang, rusak, atau berubah bentuk akan bekerja kurang efektif. Sikat gigi manual maupun elektrik dapat digunakan secara efektif, selama digunakan dengan teknik yang tepat. Artinya, memiliki sikat gigi yang mahal bukan menjadi jaminan kesehatan gigi. Kebiasaan, teknik, konsistensi, serta pemilihan produk yang sesuai tetap menjadi faktor penting.
Menyikat gigi secara rutin merupakan bentuk perawatan mandiri yang penting, tetapi bukan berarti seseorang tidak perlu memeriksakan giginya.
Masalah gigi dan mulut tidak selalu menimbulkan rasa sakit sejak awal. Karies maupun penyakit gusi dapat berkembang sebelum seseorang menyadari adanya masalah. Pemeriksaan profesional membantu mendeteksi kondisi tersebut lebih dini dan menentukan perawatan sesuai kebutuhan masing-masing individu. “Jangan menunggu sakit dulu baru datang ke dokter gigi. Pemeriksaan rutin diperlukan untuk mengetahui kondisi gigi dan gusi serta mencegah masalah berkembang lebih jauh,” jelas drg. Pramita.
Dengan demikian, kebiasaan menjaga kesehatan gigi idealnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Sudah sikat gigi atau belum?” Pertanyaan berikutnya adalah, “Sudah benar atau belum?” Sebab, menyikat gigi dua kali sehari merupakan langkah penting, tetapi manfaatnya akan lebih optimal apabila dilakukan dengan teknik yang benar, menggunakan pasta gigi berfluoride, membersihkan seluruh permukaan gigi dan area sekitar gusi, menjaga kebersihan sela-sela gigi, serta diikuti pola makan yang mendukung kesehatan gigi.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan gigi bukan pekerjaan sesaat. Ia merupakan kebiasaan yang dilakukan setiap hari. Gigi yang tampak bersih belum tentu bebas dari masalah, sementara kebiasaan sederhana yang dilakukan dengan cara yang tepat dapat menjadi bagian penting dalam mencegah karies dan penyakit gusi sepanjang kehidupan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....