Kebaikan Kecil yang Istikamah Mampu Mengubah Lingkungan Sosial

  • 30 Sep 2026 07:21 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Dalam kehidupan modern saat ini yang sangat dinamis, perubahan yang positif di tengah masyarakat tidak selalu harus diawali melalui gerakan besar yang membutuhkan dana melimpah atau keterlibatan tokoh-tokoh penting dan atau berpengaruh. Dalam ajaran Islam, sebuah perubahan sosial yang berkelanjutan, justru sering kali bermula dari kebaikan kecil yang dilakukan secara konsisten atau istikamah dengan penuh keikhlasan oleh setiap individu.

Hal tersebut ditegaskan oleh Ustaz Dr. H. Moh Miftachul Choiri, S.Ag., M.A., dalam kajian paginya di RRI Madiun. Ustaz Coi saapan akrabnya menjelaskan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk tidak pernah meremehkan amal kebaikan sekecil apa pun dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

“ Islam mengajarkan kepada kita bahwa sesuatu yang kita manfaatkan untuk perubahan masyarakat itu bisa diawali dari hal-hal yang kecil-kecil tetapi kemudian dilakukan secara berkelanjutan atau secara istikamah. Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Rasulullah Muhammad SAW:

Ahabbul 'amali ilallahi adwamuhu wa in qalla

"Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terus-menerus (konsisten) meskipun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim),” jelasnya.

Tentu, prinsip ini menjadi fondasi utama dalam membangun tatanan sosial yang harmonis dan saling peduli antar sesama warga. Guna memperjelas konsep tersebut, ia mengisahkan sebuah perumpamaan klasik tentang seorang raja yang meminta warganya mengumpulkan sesendok madu ke dalam bejana besar pada malam hari.

Namun, karena setiap warga beranggapan bahwa sesendok air yang mereka bawa tidak akan ketahuan, keesokan harinya bejana tersebut justru hanya terisi penuh oleh air tanpa ada madu sedikit pun.

"Kisah tersebut mengajarkan prinsip Ibda’ bi nafsik atau mulailah dari diri sendiri. Jika semua orang meremehkan kebaikan kecil dan memilih bersikap apatis, maka lingkungan sosial tidak akan pernah berubah membaik," tutur Ustaz Coi.

Melalui perumpamaan tersebut juga kita dapat memetik pelajaran penting bahwa sebuah kebaikan tidak pernah diukur dari besar atau kecilnya. Ibarat sesendok madu, meski jumlahnya sedikit, manisnya akan tetap terasa saat dicampurkan ke dalam segelas air.

Sebaliknya, jika setiap orang bersikap apatis dan menganggap kontribusi kecilnya tidak berpengaruh, maka kebaikan bersama tidak akan pernah terwujud. Oleh karena itu, ajaran Islam menekankan prinsip ibda’ bi nafsik, atau memulai kebaikan dari diri sendiri.

Dalam QS. Az-Zalzalah ayat 7-8, Allah SWT menegaskan bahwa sekecil apa pun kebaikan atau keburukan yang dilakukan seseorang, bahkan sebesar biji zarrah, pasti akan mendapat balasan yang adil. Hal ini menjadi pengingat agar setiap individu senantiasa memelihara kejujuran dan menjauhi tindakan curang di tengah kehidupan bermasyarakat.**

Lebih lanjut, Ustaz Coi juga menegaskan bahwa terdapat pula pesan Rasulullah SAW yang perlu diingat. Dimana umat Islam senantiasa untuk menjaga diri dari api neraka, meskipun hanya dengan bersedekah separuh buah kurma, atau sekadar menyapa tetangga dan kawan dengan wajah yang berseri-seri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....