Duta Literasi SMAN 1 Madiun Ajak Gen Z Tak Mudah Percaya Hoaks
- 25 Agt 2026 13:50 WIB
- Madiun
Poin Utama
- Duta Literasi SMA Negeri 1 Madiun mengingatkan generasi muda untuk tidak menerima informasi secara mentah dan mengembangkan kemampuan literasi digital yang komprehensif
- Literasi modern bukan hanya tentang membaca buku, tetapi juga kemampuan mencari sumber, memeriksa kebenaran, memahami konteks, dan mempertanyakan informasi yang diterima
- Konsumsi video pendek di media sosial dapat membuat orang terbiasa mengambil kesimpulan cepat tanpa memahami persoalan secara utuh, sehingga kemampuan literasi digital menjadi sangat penting bagi pelajar
RRI.CO.ID, Madiun — Satu video pendek bisa lewat dalam hitungan detik, tetapi dampak dari informasi yang salah bisa jauh lebih panjang.
Di tengah derasnya arus informasi digital, Duta Literasi SMA Negeri 1 Kota Madiun saat menjadi narasumber di Sore Ceria Pro 2 RRI Madiun mengingatkan generasi muda agar tidak terbiasa menerima informasi secara mentah.
Bagi mereka, literasi masa kini bukan hanya kemampuan membaca buku, tetapi juga kemampuan mencari sumber, memeriksa kebenaran, memahami konteks, dan berani mempertanyakan informasi yang diterima.
Pesan tersebut menjadi semakin penting karena media sosial telah menjadi bagian dari keseharian pelajar dan menjadi salah satu pintu utama mereka mendapatkan informasi.
Para duta melihat kebiasaan mengonsumsi video pendek dapat membuat seseorang terbiasa mendapatkan informasi secara cepat.
Masalahnya muncul ketika kecepatan tersebut membuat orang langsung mengambil kesimpulan tanpa memahami persoalan secara utuh. Potongan video atau pernyataan dapat dengan mudah dilepaskan dari konteks aslinya.
Karena itu, kemampuan literasi digital menjadi bagian penting dari kehidupan pelajar.
Mereka mengajak teman-temannya untuk tidak hanya bertanya, “Apa yang dikatakan?”, tetapi juga mencari tahu siapa yang mengatakan, dari mana sumbernya, kapan informasi tersebut dibuat, dan apakah ada sumber lain yang dapat menguatkannya.
Pesan tersebut juga menjadi bagian dari kegiatan workshop literasi yang dilakukan para duta. Dalam kegiatan itu, siswa diajak memahami bagaimana seharusnya mengelola informasi yang diterima melalui media digital.
“Karena bahwasannya kayak kalau kalian nerima informasi, kalian harus tahu dulu nih sumbernya dari mana. Terus kalian valid atau enggak ya? Dibuat oleh AI ya atau tidak? Terus kita harus mengelola informasi juga nih benar atau enggak, sumbernya dari mana. Kita benar-benar harus detail. Enggak bisa zaman sekarang nerima informasi cuman mentah-mentah lewat di sosial media kita terima.”ucap Pelangi Tunjung Kusuma Duta Literasi SMAN 1 Madiun 2026.
Sedangkan bagi Syalsabila Rizki Tritian Duta Literasi SMAN 1 Madiun 2025, pemahaman mengenai literasi juga harus mengikuti perkembangan zaman.
Ia melihat generasi muda sekarang tidak hanya membaca buku cetak, tetapi juga mendapatkan informasi dari berbagai sumber digital. Namun, banyaknya sumber informasi membuat seseorang harus semakin selektif.
“Literasi ini tidak hanya membaca buku terus-menerus. Zaman sekarang Gen Z itu kebanyakan kita itu literasi dari banyak sekali ya, dari banyak sisi mungkin dari menonton video, film. Nah, kita itu juga bisa membedah film bareng teman-teman atau mungkin membedah buku dengan teman-teman. Nah, itu juga bisa membuat lebih have fun.”
Kesadaran tersebut kemudian diterapkan melalui komunitas Bedah Karya. Para siswa tidak hanya membaca buku, tetapi juga diajak mengeluarkan pendapat mengenai apa yang mereka pahami.
Salah satu buku yang menjadi bahan pembahasan adalah Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati.
Buku tersebut menjadi menarik karena setiap peserta dapat memberikan penilaian berdasarkan perspektif masing-masing. Ketika satu bab dibahas bersama, muncul berbagai pemikiran yang berbeda. Para duta melihat pola tersebut sebagai latihan berpikir kritis.
Siswa belajar bahwa perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar selama memiliki dasar dan disampaikan dengan cara yang baik.
Menariknya, para duta juga mengingatkan bahwa kemampuan literasi tidak harus selalu dimulai dari buku yang tebal. Siswa yang merasa tidak suka membaca disarankan mencari bacaan yang benar-benar sesuai dengan minatnya.
Novel, komik, buku sastra, sejarah, politik, maupun bacaan populer dapat menjadi pilihan. Mereka percaya, seseorang yang belum menemukan buku yang cocok akan lebih mudah merasa membaca sebagai aktivitas yang membosankan.
“Karena sebenarnya buat tertarik sama literasi itu enggak perlu banyak-banyak buku. Cuman cari satu buku aja dan kalian baca sampai selesai. Karena di sini tuh banyak ya kasusnya kayak semisal baca buku satu belum habis udah berani udah ganti lagi dan sudah bilang enggak suka jelek gitu kan.” tambah Syalsabila.
Selain mendorong kemampuan menyaring informasi, para duta juga ingin memperluas akses terhadap bahan bacaan. Salah satu gagasan yang ingin diwujudkan adalah menghadirkan pojok baca di berbagai kelas dan sudut sekolah.
Dengan begitu, siswa tidak harus selalu datang ke perpustakaan ketika ingin membaca. Buku dapat hadir lebih dekat dengan keseharian mereka.
Mereka juga ingin memperkenalkan bahwa perpustakaan SMA Negeri 1 Kota Madiun memiliki koleksi yang terus diperbarui, termasuk berbagai novel yang sedang diminati pelajar. Harapannya, perpustakaan tidak hanya menjadi tempat mencari buku ketika ada tugas, tetapi menjadi ruang yang nyaman untuk membaca, berdiskusi, dan menemukan gagasan baru.
Bagi para duta, kemampuan memilah informasi juga tidak bisa dipisahkan dari lingkungan pergaulan. Lingkungan yang positif dianggap dapat membantu seseorang membangun kebiasaan baik, termasuk kebiasaan membaca dan berdiskusi. Namun, pada akhirnya perubahan tetap harus dimulai dari diri sendiri.
“Karena lingkungan itu berpengaruh banget buat kehidupan kita sehari-hari. Nah, maka dari itu kita juga harus cari lingkungan yang positif. Kalau lingkungannya sudah positif terus teman-temannya semuanya support, nah tinggal jadi diri kita nih mau berubah atau tidak. Karena sebenarnya yang paling susah itu diri kita.” tambah Pelangi.
Semangat tersebut menjadi pesan penting dari generasi muda untuk generasi muda lainnya. Di tengah banjir informasi, menjadi pintar bukan hanya soal mengetahui banyak hal, tetapi juga mampu membedakan mana informasi yang layak dipercaya dan mana yang harus dipertanyakan. Membaca menjadi salah satu cara untuk memperluas pengetahuan, sementara berdiskusi membantu seseorang melihat persoalan dari berbagai sudut.
Duta Literasi SMA Negeri 1 Kota Madiun ingin membangun kebiasaan itu dari sekolah, melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan siswa. Sebab, ketika satu generasi terbiasa membaca sebelum percaya, berpikir sebelum menyebarkan, dan memeriksa sebelum menyimpulkan, literasi tidak lagi sekadar program sekolah. Ia berubah menjadi benteng pertama menghadapi derasnya informasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....