Duta Literasi SMAN 1 MADIUN: Bukan Sekadar Selempang, tapi Lebih Berdampak
- 19 Agt 2026 10:55 WIB
- Madiun
Poin Utama
- Program Duta Literasi SMA Negeri 1 Kota Madiun resmi dibentuk pada 2025 dan kini memasuki periode kedua dengan empat duta dari dua angkatan.
- Para duta literasi memperluas konsep literasi melampaui membaca buku tradisional untuk mencakup kemampuan memahami dan mengolah informasi digital dari media sosial dan sumber online.
- Pelangi Tunjung Kusuma menekankan bahwa menjadi duta literasi bukan sekadar mendapatkan gelar, melainkan memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekitar dan mendorong generasi lain bergerak dalam gerakan literasi.
RRI.CO.ID, Madiun — Selempang boleh dipakai, nama boleh dikenal, tetapi menjadi duta literasi bukan soal tampil paling depan. Ada tanggung jawab yang jauh lebih besar: membuat orang lain ikut bergerak. Itulah semangat yang dibawa Duta Literasi SMA Negeri 1 Kota Madiun.
Setelah resmi dibentuk pada 2025, program ini kini memasuki periode kedua dengan hadirnya Duta Literasi 2026. Syalsabila Rizki Tritian dan Alifan Dwi Satria menjadi bagian dari angkatan pertama, sementara Pelangi Tunjung Kusuma bersama Arvian Marveno melanjutkan estafet tersebut.
Mereka datang dengan karakter dan hobi berbeda, tetapi memiliki satu tujuan: membuat literasi terasa dekat dengan kehidupan pelajar, utamanya di SMAN 1 Madiun.
Menariknya, para duta tidak ingin literasi berhenti pada aktivitas membaca buku. Mereka melihat generasi sekarang tumbuh di tengah internet, media sosial, video pendek, dan berbagai sumber informasi digital. Karena itu, kemampuan membaca harus berjalan bersama kemampuan memahami dan mengolah informasi. Ninok panggilan Pelangi Tunjung Kusuma melihat seorang duta harus benar-benar memberikan dampak bagi lingkungan sekitar, bukan sekadar mendapatkan gelar.
“Aku pengin belajar buat berdampak sih karena yang pasti jadi duta itu harus bisa berdampak bagi sekitar karena yang teman-teman tuh harus bisa merasakan keberadaan kita sebagai Duta Literasi” Jelas Ninok.
Sedangkan bagi Syalsabila, tantangan literasi justru terletak pada cara mengubah pemahaman bahwa literasi hanya berkaitan dengan membaca dan menulis. Menurutnya, generasi muda sekarang memiliki banyak cara untuk mendapatkan pengetahuan, termasuk melalui media digital. Namun, penggunaan media digital tetap harus diarahkan pada hal-hal positif. Syalsabila ingin keberadaannya sebagai duta dapat membantu teman-teman memahami bahwa literasi tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang sama.
“Mungkin aku ini salah satu orang yang suka membacanya tuh lebih suka ke digital ya mungkin karena enggak lebih seru ya mungkin untuk anak-anak Gen Z juga. Nah, alasannya dipilih jadi duta literasi ini tuh mungkin karena saya memiliki potensi untuk di bidang literasi ini ya. Jadi saya ini juga membantu teman-teman untuk meningkatkan literasinya dan menegaskan bahwasanya literasi itu tidak hanya tentang membaca buku.” Jelas Syalsabila
Sementara itu, Alifan melihat literasi dari sisi yang lebih dekat dengan dunia seni. Ia aktif dalam kegiatan teater dan pernah menjadi MC dalam sejumlah acara sekolah. Menurutnya, aktivitas tersebut tidak bisa dilepaskan dari kemampuan membaca. Seorang pemain teater harus memahami naskah, membaca alur, mengenali karakter, kemudian menghayati cerita sebelum tampil. Dengan cara tersebut, membaca menjadi pondasi bagi kreativitas.
“Saya sendiri sih lebih ke bakat minat. Kan tadi sudah dibilang bahwasanya bakat minat itu juga sebuah dari literasi. Saya sendiri juga sebenarnya suka bermain teater. Saya ikut teater yang namanya Barabima kalau di SMA Negeri 1 Madiun. Kita pastinya kan membaca naskah terlebih dahulu, membaca alur ceritanya kemudian menghayati. Nah secara tidak langsung kita berliterasi” Jelas Alfian
Program - Program yang sudah dirintis dDuta Literasi SMAN 1 Madiun 2025 pun terus dilanjutkan dan dikembangkan oleh Duta literasi 2026 . Salah satunya adalah komunitas Bedah Karya yang menjadi ruang bagi siswa untuk membahas buku maupun film.
Kegiatan tersebut membuat literasi terasa lebih cair karena siswa tidak hanya duduk membaca, tetapi juga bertukar pendapat dan melihat sebuah karya dari sudut pandang berbeda. Selain itu, mereka mengadakan workshop literasi yang menghubungkan literasi dengan bakat dan minat. Program tersebut menunjukkan bahwa membaca bukan kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan dapat menjadi dasar bagi berbagai kemampuan lain yang dimiliki siswa.
Perjalanan menjadi duta sendiri tidak ditempuh dengan mudah. Para calon peserta harus mengikuti sejumlah tahapan seleksi, mulai dari tes tulis, wawancara, hingga tes bakat dan minat. Pada 2025, jumlah peserta yang mengikuti proses tersebut mencapai lebih dari 30 orang, sedangkan pada 2026 jumlahnya juga cukup banyak, sekitar 30 hingga 40 peserta. Dari proses tersebut kemudian terpilih beberapa pasangan sebagai duta.
Menariknya, dalam sistem yang diterapkan, mereka tidak mengenal istilah juara satu atau juara dua. Semua duta memiliki posisi yang sama dan diharapkan menjalankan perannya sesuai bidang masing-masing.
Bagi Arvian, terpilih menjadi duta juga menjadi pengalaman untuk menguji keberanian dirinya. Ia mengaku sebenarnya kurang percaya diri, tetapi mampu menjawab pertanyaan dalam proses seleksi dengan pemikiran sendiri. Ia juga memiliki kegemaran membaca novel.
“Kalau dari aku sendiri sih mungkin terpilih jadi duta literasi itu mungkin karena para juri itu melihat saya punya potensi dari mulai walaupun saya tuh sebenarnya kurang PD cuma pas tes wawancara atau tes tulis tuh saya bisa menjawab dengan jawaban saya sendiri tentunya masuk akal, terus mungkin saya juga sebenarnya suka membaca novel-novel seperti itu.”
Pada akhirnya, Para Duta Literasi ingin menghapus anggapan bahwa literasi adalah kegiatan yang berat dan membosankan.
Mereka justru mengajak teman-temannya menemukan bacaan yang sesuai dengan minat masing-masing. Sebab, bisa jadi seseorang bukan tidak suka membaca, melainkan belum menemukan buku yang tepat.
Dari satu buku yang selesai dibaca, seseorang dapat menemukan pengetahuan, imajinasi, bahkan cara pandang baru. Itulah makna duta literasi bagi mereka, bukan menjadi orang yang paling banyak membaca, tetapi menjadi orang yang mampu menyalakan keinginan orang lain untuk mulai membaca. Dari satu halaman, satu gagasan, dan satu kebiasaan kecil, perubahan besar bisa dimulai.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....