Obituari KH Agus Tricahyo, Bersyiar dan Berkhidmat di RRI hingga Akhir Hayat
- 16 Agt 2026 13:45 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Kepergian Ustadz Dr. KH. Agus Tricahyo, MA, pada Ahad (16/8/2026) pagi tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga dan warga Muhammadiyah Kabupaten Madiun. Selama sekitar dua dekade, suaranya juga menjadi bagian dari siaran Radio Republik Indonesia (RRI) Madiun melalui program Mutiara Pagi.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Madiun periode 2022–2027 itu dikenal sebagai akademisi, pendakwah, dan aktivis Muhammadiyah. Di tengah berbagai kesibukannya, Agus tetap meluangkan waktu untuk berbagi pandangan dan pesan keagamaan kepada masyarakat melalui siaran radio.
Salah seorang pendengar sekaligus rekan almarhum Yulia mengaku mengagumi Agus melalui materi dakwahnya. Bahkan ia setia mengikuti ceramah agus di kanal siaran Pro 1 RRI Madiun dan Youtube RRI Madiun meski kadang berada di luar kota.
“Beliau narasumber yang cerdas. Ustadz Agus Jika menyampaikan sesuatu selalu referensial berdasarkan dalil dan sesuai realitas kehidupan kita,” kata Yulia.
Agus lahir pada 16 Juli 1975. Selain memimpin PDM Kabupaten Madiun, ia juga tercatat sebagai akademisi dan dosen. Ia pernah dipercaya menjadi Ketua Senat Universitas Islam Negeri (UIN) Kyai Ageng Muhamamd Besari Ponorogo serta terlibat dalam pengelolaan Pesantren Muhammadiyah Kabupaten Madiun.
Kiprahnya di Muhammadiyah tetap berjalan meski sejak 2024 ia harus menjalani pengobatan karena kanker saluran kemih. Kondisi kesehatan tidak sepenuhnya menghentikan aktivitasnya. Sehari sebelum meninggal, Agus masih memimpin rapat persiapan kegiatan Muhammadiyah.
Anggota Majelis Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi (MPID) PDM Kabupaten Madiun, Sulthan Abdul Hakim, mengatakan Agus merupakan sosok yang tetap berusaha menjalankan amanah organisasi meski kondisi fisiknya terus menurun.
“Beliau tetap berjuang atas nama Muhammadiyah. Bahkan tadi malam masih memimpin rapat untuk persiapan pengajian,” kata Sulthan, dikutip dari PWMU.
Di RRI Madiun, Agus juga memiliki perjalanan panjang. Selama kurang lebih 20 tahun, ia menjadi salah satu narasumber tetap program Mutiara Pagi. Kehadirannya secara rutin baik saat langsung di studio RRI Madiun maupun secara daring membuat Agus cukup dikenal pendengar, terutama melalui pembahasan mengenai keagamaan dan persoalan sosial.
Menurut Sulthan, kiprah Agus di ruang publik membuat sosoknya dikenal tidak hanya oleh warga Muhammadiyah. Ia juga memiliki hubungan yang cukup dekat dengan masyarakat melalui aktivitas dakwah dan keterlibatannya sebagai narasumber.
“Beliau bukan hanya dikenal di lingkungan Muhammadiyah. Masyarakat luas juga banyak yang mengenal beliau sebagai akademisi, pendakwah dan narasumber,” ujarnya.
Aktivitas Agus bahkan masih berlangsung hingga Sabtu malam. Ia masih memimpin rapat untuk persiapan Pengajian Ahad Kliwon PDM Kabupaten Madiun. Tidak ada tanda bahwa beberapa jam kemudian dirinya akan berpulang.
Pada Minggu pagi, Agus masih sempat mengikuti salat Subuh berjamaah. Sekitar pukul 05.30 WIB, kondisinya tiba-tiba tidak sadarkan diri hingga kemudian dinyatakan meninggal dunia.
“Pagi tadi beliau masih salat Subuh berjamaah. Kemudian sekitar pukul setengah enam tiba-tiba tidak sadarkan diri,” kata Sulthan.
Jenazah Agus dimakamkan di pemakaman keluarga di Desa Jogodayuh, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, sekitar pukul 10.00 WIB. Sejumlah tokoh dan pejabat hadir, termasuk Bupati Madiun. Pengurus PCNU Kabupaten Madiun turut membantu proses pemulasaraan jenazah, sementara sejumlah pengurus Muhammadiyah dari Kota Madiun, Ponorogo, dan Ngawi ikut mengantarkan kepergiannya.
Bagi warga Muhammadiyah Kabupaten Madiun, Agus merupakan salah satu sosok yang disegani. Selama memimpin PDM periode 2022–2027, ia tetap menjalankan aktivitas persyarikatan meski tengah menjalani pengobatan.
“Beliau sosok yang sangat disegani, tidak hanya oleh keluarga, tetapi juga masyarakat, khususnya warga Muhammadiyah Kabupaten Madiun,” ujar Sulthan.
Agus meninggalkan istri, Siti Amiroh, serta tiga anak, Wafa, Kia, dan Hilma.
Dua dekade di udara melalui RRI, aktivitas akademik, dakwah, dan pengabdian di Muhammadiyah menjadi bagian dari perjalanan Agus Tricahyo. Ia meninggal setelah tetap menjalankan amanah organisasi hingga sehari sebelum kepergiannya. Suara yang selama bertahun-tahun hadir melalui Mutiara Pagi itu kini tinggal rekaman dan kenangan bagi para pendengarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....