Ustadzah Nanik: Jangan Susahkan Tetangga, Jika Tak Bisa Membantu
- 10 Agt 2026 08:14 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun- Menjaga hubungan baik dengan tetangga bukan sekadar bagian dari etika bermasyarakat, tetapi juga merupakan bagian penting dari ajaran Islam. Rasulullah ﷺ memberikan perhatian besar terhadap hak-hak tetangga, bahkan memberikan peringatan keras kepada orang yang membuat tetangganya merasa terganggu, tidak aman, atau mengalami kesusahan akibat perbuatannya.
Hal tersebut menjadi pengingat bahwa kehidupan bertetangga tidak hanya terjadi di lingkungan rumah. Dalam konteks kehidupan modern, hubungan dengan tetangga juga dapat dimaknai lebih luas, termasuk dengan orang-orang yang berada di lingkungan kerja, seperti rekan satu ruangan, satu bagian, satu gedung, maupun orang-orang yang setiap hari berinteraksi dengan kita.
Ustadzah Dr. Nanik Nurhayati, M.Pd., mengingatkan bahwa seorang Muslim semestinya mampu menghadirkan rasa aman, nyaman, dan ketenangan bagi orang-orang di sekitarnya.
Menurutnya, seseorang tidak harus selalu memiliki kemampuan untuk membantu orang lain dalam bentuk materi. Namun, ketika tidak mampu memberikan bantuan, setidaknya jangan menjadi penyebab bertambahnya kesulitan, kesedihan, atau air mata orang lain. “Kalau kita tidak bisa membantu, jangan membuat mereka menangis. Kalau tidak mampu meringankan beban orang lain, jangan justru menambah beban mereka,” ujar Ustadzah Dr. Nanik Nurhayati, M.Pd., Senin, 10 Agustus 2026.
Pentingnya menjaga perasaan dan keamanan tetangga tergambar jelas dalam sabda Rasulullah ﷺ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.”
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya.”
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Dalam hadis yang sama, Rasulullah SAW juga mengajarkan agar seorang Muslim memuliakan tamu serta berkata baik atau diam.
Menurut Ustadzah Nanik, dua hadis tersebut menunjukkan bahwa kualitas keimanan seseorang tidak hanya tercermin dari hubungan vertikalnya dengan Allah SWT, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan manusia di sekitarnya. “Jangan sampai seseorang terlihat baik dalam ibadah, tetapi orang-orang di sekitarnya justru merasa takut, tertekan, tersakiti, atau tidak nyaman karena perilakunya,” jelasnya. Ustadzah Nanik menjelaskan, bentuk menyusahkan tetangga tidak selalu berupa tindakan yang terlihat besar. Gangguan dapat muncul dari hal-hal sederhana yang dilakukan berulang-ulang dan dianggap sepele oleh pelakunya.
Di lingkungan tempat tinggal, misalnya, membuat kebisingan yang mengganggu waktu istirahat, membuang sampah sembarangan, menggunakan fasilitas bersama tanpa memperhatikan orang lain, memarkir kendaraan sehingga menghalangi akses tetangga, membicarakan keburukan tetangga, hingga sengaja membuat konflik. Begitu pula dalam kehidupan sosial, seseorang dapat menyakiti tetangganya melalui perkataan, prasangka, sikap tidak peduli, atau perilaku yang sengaja mempermalukan orang lain.
“Kadang kita berpikir, ‘Saya tidak menyakiti dia secara fisik.’ Padahal ucapan kita bisa membuat orang menangis. Sikap kita bisa membuat orang kehilangan ketenangan. Bahkan ketidakpedulian kita dalam kondisi tertentu bisa membuat orang merasa sendirian,” tutur Ustadzah Nanik. Nilai yang sama, menurut Ustadzah Nanik, perlu diterapkan dalam lingkungan kerja.
Kantor merupakan tempat bertemunya banyak orang dengan karakter, latar belakang, kepentingan, dan cara berpikir yang berbeda. Karena itu, hubungan antarrekan kerja juga membutuhkan akhlak yang baik. Seseorang dapat menjadi “tetangga” dalam arti sosial bagi orang lain ketika setiap hari berada di ruang kerja yang sama, duduk berdampingan, bekerja dalam satu tim, menggunakan fasilitas yang sama, atau saling bergantung dalam menyelesaikan pekerjaan.
Gangguan di lingkungan kantor dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari menyebarkan gosip, menjatuhkan rekan kerja, mengambil kredit atas pekerjaan orang lain, sengaja menghambat pekerjaan rekan, berbicara kasar, mempermalukan bawahan di depan orang lain, hingga menciptakan suasana kerja yang penuh tekanan.
“Kalau di rumah kita belajar menghormati tetangga sebelah, maka di kantor kita juga harus belajar menghormati orang yang duduk di sebelah kita. Jangan karena merasa berbeda jabatan, berbeda bagian, atau berbeda kepentingan, kemudian kita merasa boleh menyakiti orang lain,” kata Ustadzah Nanik.
Ia menambahkan, profesionalitas dalam bekerja tidak boleh dipisahkan dari akhlak. “Bekerja dengan baik itu bukan hanya menyelesaikan tugas. Kita juga harus menjaga lisan, menjaga sikap, tidak merugikan orang lain, dan tidak menjadikan kelemahan orang lain sebagai kesempatan untuk menjatuhkannya,” imbuhnya.
Dalam membangun hubungan sosial yang sehat, Ustadzah Nanik mengajak masyarakat meneladani empat karakter yang disebutkan Rasulullah ﷺ, yakni Hayyin, Layyin, Qorib, dan Sahl.
Dalam sebuah hadis dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu ‘anhu, RasulullahSAW bersabda:
حُرِّمَ عَلَى النَّارِ كُلُّ هَيِّنٍ لَيِّنٍ سَهْلٍ قَرِيبٍ مِنَ النَّاسِ
“Diharamkan dari api neraka setiap orang yang Hayyin, Layyin, Sahl, dan Qorib terhadap manusia.”
Riwayat dengan redaksi tersebut terdapat dalam Musnad Ahmad, sementara Sunan At-Tirmidzi memuat redaksi yang serupa dan menilainya sebagai hadis hasan gharib. (dorar.net)
Hayyin menggambarkan pribadi yang tenang, tidak mudah terpancing emosi, tidak kasar, serta tidak menjadikan kemarahan sebagai cara menghadapi persoalan. Layyin berarti lembut dalam ucapan dan perbuatan. Orang yang layyin tidak berarti lemah, tetapi mampu menyampaikan kebenaran dan menyelesaikan masalah tanpa harus menyakiti atau merendahkan orang lain. Qorib berarti dekat dan mudah bergaul dengan manusia. Ia tidak membuat orang lain merasa takut untuk berbicara, tidak memasang jarak secara angkuh, serta menghadirkan keramahan dalam interaksi. Sedangkan Sahl menggambarkan pribadi yang mudah dalam berurusan, tidak suka mempersulit, tidak berbelit-belit, dan berusaha memberikan kemudahan selama tidak bertentangan dengan syariat. Keempat karakter tersebut sangat relevan diterapkan dalam kehidupan bertetangga maupun di tempat kerja.
“Bayangkan kalau satu lingkungan rumah dipenuhi orang-orang yang Hayyin, Layyin, Qorib, dan Sahl. Di kantor juga demikian. Orang tidak takut bertemu kita, tidak takut berbicara dengan kita, dan tidak takut meminta bantuan kepada kita. Itulah akhlak yang membawa ketenangan,” jelas Ustadzah Nanik. Menurut Ustadzah Nanik, pesan utama dari tema tersebut bukanlah kewajiban seseorang untuk selalu mampu memenuhi semua kebutuhan tetangganya. Setiap manusia memiliki keterbatasan. Ada kalanya seseorang tidak memiliki uang, waktu, tenaga, atau kemampuan untuk membantu orang lain. Namun, keterbatasan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menyakiti.
“Islam tidak membebani kita untuk memberikan sesuatu yang memang tidak kita miliki. Tetapi ketika kita tidak bisa membantu, kita masih bisa memberikan kata-kata yang baik. Kita masih bisa mengatakan, ‘Maaf, saya belum bisa membantu.’ Jangan kemudian menertawakan kesusahannya, mempermalukannya, atau malah membuat masalahnya semakin berat,” ujarnya. Hal tersebut sejalan dengan pesan Rasulullah SAW agar seorang Muslim berkata baik atau diam. Dengan demikian, menahan diri dari menyakiti orang lain juga merupakan bentuk kebaikan.
Tidak semua kebaikan harus berupa uang. Terkadang kebaikan berupa tidak ikut menyebarkan aib, tidak mempermalukan orang lain, tidak memprovokasi konflik, tidak mengambil hak orang lain, tidak membuat kegaduhan, dan tidak menggunakan posisi untuk menekan orang yang lebih lemah.
Lebih jauh, Ustadzah Nanik mengajak setiap orang melakukan evaluasi sederhana terhadap dirinya sendiri. “Coba tanyakan kepada diri kita: Apakah tetangga merasa aman ketika kita ada? Apakah rekan kerja merasa nyaman bekerja bersama kita? Apakah kehadiran kita membawa ketenangan atau justru membuat orang lain waswas?” katanya. Pertanyaan tersebut penting karena seseorang terkadang tidak menyadari bahwa perilakunya telah menyakiti orang lain.
Bisa jadi seseorang menganggap perkataannya hanya candaan, sementara orang yang mendengarnya merasa dipermalukan. Bisa jadi ia menganggap kebiasaannya sebagai hal biasa, sementara tetangga merasa terganggu. Bisa pula seseorang merasa dirinya sedang mempertahankan kepentingan pribadi, padahal caranya membuat orang lain kehilangan hak. Karena itu, Islam mengajarkan pentingnya menjaga hak sesama manusia, khususnya mereka yang hidup dan berinteraksi dekat dengan kita.
Ustadzah Nanik menegaskan bahwa hubungan baik dengan tetangga seharusnya tidak berhenti pada slogan atau sekadar menjaga sopan santun. Lebih dari itu, menjaga tetangga merupakan bagian dari pengamalan iman dan akhlak Islam. Rasulullah SAW mengaitkan larangan menyakiti tetangga dengan keimanan kepada Allah dan hari akhir. Artinya, seorang Muslim perlu menyadari bahwa setiap perkataan dan perbuatan memiliki konsekuensi di hadapan Allah SWT.
“Jangan ukur kebaikan hanya dari apa yang kita berikan. Ukur juga dari apa yang berhasil kita tahan: berapa banyak perkataan buruk yang kita tahan, berapa banyak kemarahan yang kita redam, berapa banyak kesempatan untuk menyakiti orang yang kita tinggalkan,” tutur Ustadzah Nanik. Ia mengingatkan agar setiap orang berusaha menjadi pribadi yang menghadirkan rasa aman bagi lingkungan sekitarnya.
“Kalau belum bisa menjadi orang yang membantu banyak orang, jadilah orang yang tidak menyusahkan. Kalau belum bisa membahagiakan, jangan membuat menangis. Kalau belum mampu memberikan solusi, jangan menambah masalah,” pungkasnya. Pesan tersebut menjadi refleksi penting di tengah kehidupan masyarakat yang semakin padat interaksi. Baik di rumah maupun di kantor, setiap orang pada hakikatnya memiliki ruang untuk memilih: menjadi sumber ketenangan atau menjadi sumber kegelisahan bagi orang lain.
Karena itu, menjadi Hayyin, Layyin, Qorib, dan Sahl bukan sekadar menghafal istilah dari hadis, melainkan berusaha menghadirkannya dalam perilaku sehari-hari. Sebab, sebagaimana peringatan Rasulullah SAW, seorang Muslim tidak boleh menjadikan orang-orang di sekitarnya merasa tidak aman dari gangguan yang berasal dari dirinya. Kalau tidak bisa membantu, jangan menyakiti. Kalau tidak bisa meringankan, jangan menambah beban. Dan kalau belum mampu membuat orang lain tersenyum, setidaknya jangan menjadi sebab mereka menangis.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....