Menasihati dengan Hikmah Menjadi Ikhtiar Mengobati Sifat Hasad

  • 04 Agt 2026 07:21 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun- Penyakit hati berupa hasad atau iri dengki tidak hanya menjadi persoalan pribadi, tetapi juga dapat merusak hubungan sosial di tengah masyarakat. Karena itu, upaya mengobati sifat hasad tidak hanya dilakukan oleh individu yang mengalaminya, melainkan juga membutuhkan kepedulian dari orang-orang di sekitarnya melalui nasihat, teguran, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Darul Madinnah Madiun, Ustaz Amir Abdullah, M.Pd., mengatakan bahwa Islam mengajarkan setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk saling menasihati ketika melihat saudaranya terjerumus dalam perilaku yang dapat merusak akhlak, termasuk sifat hasad.

"Hasad bukan sekadar masalah batin seseorang, tetapi dapat melahirkan fitnah, permusuhan, bahkan memutus tali persaudaraan. Karena itu, orang-orang di sekitarnya memiliki kewajiban untuk mengingatkan dengan cara yang baik agar ia segera kembali kepada jalan yang benar," ujarnya.

Menurut Ustaz Amir, langkah pertama yang dapat dilakukan dari sisi orang lain adalah memberikan nasihat secara bijaksana (mau'izhah hasanah). Nasihat hendaknya disampaikan dengan penuh kasih sayang, tidak mempermalukan, dan bertujuan mengajak kepada kebaikan, bukan menghakimi.

Hal tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah An-Nahl ayat 125: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik..." (QS. An-Nahl: 125)

"Ajaklah dengan hikmah. Jangan langsung menyalahkan atau mempermalukan orang yang sedang memiliki penyakit hati. Bisa jadi, ia belum menyadari bahwa dirinya sedang dikuasai rasa iri. Nasihat yang lembut sering kali lebih mudah diterima daripada kata-kata yang keras," jelasnya.

Selain memberikan nasihat, Ustaz Amir menilai pentingnya menciptakan lingkungan yang saling mengingatkan dalam kebaikan. Menurutnya, keluarga, sahabat, guru, maupun tokoh masyarakat memiliki peran besar dalam menjaga seseorang agar tidak terjerumus ke dalam penyakit hati.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-'Ashr ayat 1–3: "Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran." (QS. Al-'Ashr: 1–3)

"Islam mengajarkan budaya saling menasihati. Ketika melihat saudara kita mulai menunjukkan tanda-tanda iri, tidak senang melihat keberhasilan orang lain, atau gemar menjatuhkan sesama, jangan dibiarkan. Rangkul dan ingatkan dengan penuh kasih sayang," katanya.

Namun demikian, Ustaz Amir mengingatkan bahwa nasihat tidak selalu langsung diterima. Ada kalanya seseorang tetap mempertahankan sifat hasad meskipun telah diberikan masukan, teguran, bahkan contoh yang baik.

"Kalau seseorang sudah diajak bermuhasabah, disarankan memperbanyak istighfar, diberikan ilmu, dinasihati oleh keluarga, sahabat, maupun guru, tetapi tetap menolak semua itu, maka sebagai manusia kita telah menjalankan kewajiban. Hidayah tetap berada di tangan Allah SWT," tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam kondisi seperti itu, seorang Muslim tidak diperkenankan membalas keburukan dengan keburukan. Sebaliknya, ia dianjurkan tetap mendoakan agar orang tersebut memperoleh petunjuk dan kesadaran.

Lebih lanjut, Ustaz Amir mengatakan bahwa apabila seseorang terus-menerus menolak kebenaran dan mempertahankan penyakit hatinya, Allah SWT memiliki cara untuk menyadarkan hamba-Nya. Bentuknya bisa berupa ujian, musibah, kesempitan hidup, atau berbagai peristiwa yang membuat seseorang melakukan introspeksi.

"Kadang-kadang manusia baru sadar ketika Allah memberikan ujian. Musibah bukan selalu bentuk murka Allah, tetapi bisa menjadi teguran, pendidikan, dan jalan agar seseorang kembali kepada-Nya. Ketika semua nasihat manusia tidak lagi didengar, Allah memiliki cara sendiri untuk membuka hati hamba-Nya," ujarnya.

Ia mengaitkan hal tersebut dengan firman Allah SWT: "Dan sungguh, Kami akan merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. As-Sajdah: 21)

Menurut Ustaz Amir, ayat tersebut menunjukkan bahwa berbagai ujian yang Allah berikan dapat menjadi sarana penyadaran agar manusia meninggalkan kemaksiatan dan kembali kepada jalan yang diridhai-Nya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar umat Islam tidak mudah menghakimi bahwa setiap musibah yang menimpa seseorang pasti merupakan hukuman akibat sifat hasad atau dosa tertentu.

"Kita tidak boleh memastikan bahwa musibah seseorang adalah hukuman atas dosa tertentu. Itu adalah urusan Allah SWT. Yang dapat kita pahami dari Al-Qur'an adalah bahwa Allah bisa menjadikan ujian sebagai pelajaran dan pengingat agar manusia kembali kepada-Nya. Tugas kita adalah mengambil hikmah, memperbaiki diri, dan mendoakan sesama," tegasnya.

Ustaz Amir juga mengajak masyarakat untuk memperkuat budaya saling mengingatkan dalam keluarga, lingkungan pendidikan, maupun kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, nasihat yang disampaikan dengan ikhlas dapat menjadi penyelamat bagi seseorang dari penyakit hati yang berbahaya.

"Jangan bosan menebarkan nasihat dan kebaikan. Jika hari ini belum diterima, bukan berarti sia-sia. Bisa jadi suatu saat Allah membukakan pintu hidayah melalui nasihat yang pernah kita sampaikan. Yang terpenting, lakukan dengan ikhlas, penuh kasih sayang, dan tidak merasa lebih baik daripada orang lain," pungkasnya.

Dengan demikian, penyakit hati seperti hasad dapat dicegah sejak dini sehingga ukhuwah Islamiyah tetap terjaga, kehidupan sosial menjadi harmonis, dan setiap Muslim semakin dekat kepada Allah SWT.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....