Pranata Mangsa Dinilai Tetap Relevan Hadapi Krisis Iklim dan Masa Depan Pertanian
- 03 Agt 2026 09:06 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun- Pranata Mangsa dinilai masih relevan sebagai pedoman membaca kondisi alam dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan pembangunan pertanian berkelanjutan. Hal itu mengemuka dalam diskusi budaya Mandapan Akad Legen bertema "Membaca Bahasa Alam, Pranata Mangsa dan Organisme Pengganggu Tanaman, serta Masa Depan Pertanian Indonesia dari Sisi Budaya dan Teknologi Modern" yang digelar di Pendopo Tedjo Kusuman, Punden Lancursari, Desa Sirapan, Kabupaten Madiun, Minggu,2 Agustus 2026.
Koordinator Penyuluh Pertanian BPP Madiun, Dian Nirmalasari, S.P., selaku narasumber menjelaskan, Pranata Mangsa tidak hanya dipahami sebagai kalender pertanian tradisional Jawa, tetapi juga merupakan pengetahuan masyarakat dalam membaca tanda-tanda alam sebagai dasar pengambilan keputusan di bidang pertanian.
Menurut Dian Nirmalasari, Pranata Mangsa merupakan cara manusia membangun hubungan dan memahami perubahan alam sehingga tetap memiliki nilai dalam mendukung sistem pertanian di tengah perkembangan teknologi modern.

Penulis sekaligus peserta diskusi, Fileski Walidha Tanjung, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang dialog antara pengetahuan tradisional dan perkembangan ilmu pengetahuan modern untuk menjawab tantangan pertanian masa kini.
"Di hadapan para pegiat budaya, petani, dan masyarakat yang hadir, tema ini menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa depan. Saya menyadari bahwa yang sedang kita bicarakan sesungguhnya bukan sekadar musim, melainkan nasib sebuah peradaban," ujar Fileski.
Ia menilai Pranata Mangsa merupakan bentuk kecerdasan ekologis yang lahir dari pengamatan masyarakat terhadap perubahan alam selama berabad-abad.
"Sesungguhnya Pranata Mangsa merupakan bentuk kecerdasan ekologis yang lahir melalui observasi panjang selama berabad-abad. Pengetahuan semacam ini menunjukkan bahwa nenek moyang kita telah mengenal sains berbasis pengalaman jauh sebelum istilah ekologi menjadi bahasa akademik," katanya.
Dalam diskusi tersebut juga dibahas mengenai organisme pengganggu tanaman yang dipandang tidak semata-mata sebagai hama, tetapi dapat menjadi indikator terganggunya keseimbangan ekosistem.
Fileski mengatakan pendekatan pengendalian hama perlu disertai upaya memahami penyebab munculnya gangguan lingkungan, bukan hanya mengatasi dampaknya.
"Selama ini hama sering dipahami sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Padahal, dalam perspektif ekologi, kehadiran organisme tertentu sering kali merupakan tanda bahwa keseimbangan lingkungan sedang terganggu," ujarnya.
Menurutnya, pengetahuan lokal dan teknologi modern tidak perlu dipertentangkan karena keduanya dapat saling melengkapi dalam mendukung ketahanan pangan.
"Pranata Mangsa mampu memberi pemahaman tentang ritme ekologis, sementara teknologi modern menyediakan data cuaca, pemetaan satelit, hingga kecerdasan buatan untuk meningkatkan akurasi pengambilan keputusan. Masa depan pertanian Indonesia tidak akan lahir dari pertentangan antara tradisi dan teknologi, melainkan dari kemampuan mempertemukan keduanya dalam satu kebijaksanaan baru," katanya.
Diskusi Mandapan Akad Legen di Punden Sirapan diharapkan menjadi ruang edukasi bagi masyarakat untuk menghidupkan kembali pengetahuan lokal sekaligus memperkuat pemanfaatan teknologi dalam mewujudkan pertanian yang berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....