Bedah Novel "Tanah Terbelah (1948)" Ajak Publik Memaknai Sejarah lewat Sastra
- 03 Agt 2026 08:53 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun- Bedah novel Tanah Terbelah (1948) dalam agenda Ngobrol Buku #6 yang digelar di Ruang Plat AE, Toko Buku NBS Edukasindo, Kota Madiun, mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. Tingginya jumlah peserta membuat kapasitas ruangan tidak mampu menampung seluruh pengunjung yang hadir. Penulis novel, Fileski Walidha Tanjung, mengatakan tingginya minat masyarakat menunjukkan bahwa sastra, sejarah, dan isu kemanusiaan masih mendapat tempat di tengah masyarakat.
"Saya menemukan harapan yang begitu besar. Ternyata masih banyak orang yang bersedia datang untuk mendiskusikan sastra, sejarah, dan kemanusiaan. Di tengah zaman yang mengukur segala sesuatu melalui kecepatan, masih ada orang-orang yang memilih duduk berjam-jam hanya untuk membicarakan sebuah novel," ujar Fileski beberapa waktu lalu.
Menurutnya, kegiatan bedah buku tersebut bukan sekadar membahas sebuah karya sastra, melainkan menjadi ruang pertemuan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pentingnya menjaga ingatan sejarah sebagai bagian dari peradaban. Acara tersebut turut menghadirkan Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Dr. Puji Retno H., S.S., M.Hum., sebagai narasumber. Kehadirannya dinilai memberikan perspektif akademis terhadap novel yang mengangkat latar peristiwa Madiun tahun 1948.

Fileski mengatakan pembahasan yang disampaikan narasumber memperlihatkan bahwa sastra tidak hanya menawarkan keindahan bahasa, tetapi juga menjadi sarana memahami manusia dan sejarah. "Ketika sebuah novel dibahas melalui perspektif ilmiah sekaligus kemanusiaan, karya itu tidak lagi menjadi milik pengarang, melainkan menjadi milik publik yang terus-menerus menafsirkannya," katanya.
Novel Tanah Terbelah (1948) mengangkat latar peristiwa sejarah Madiun tahun 1948 yang masih menyisakan berbagai catatan dalam perjalanan bangsa. Melalui kisah tokoh Darmawan dan Marni, novel tersebut berupaya menghadirkan refleksi mengenai kemanusiaan di tengah konflik dan perbedaan ideologi. Fileski menilai novel sejarah bukan hanya mengajak pembaca melihat masa lalu, tetapi juga menjadi pembelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik.
"Saya justru percaya bahwa novel sejarah adalah perjalanan menuju masa depan. Kita tidak membaca masa lalu untuk tinggal di dalamnya, melainkan agar masa depan memiliki kesempatan untuk tidak mengulang kesalahan yang sama," ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa keberanian mengangkat peristiwa 1948 merupakan upaya membuka ruang dialog yang sehat mengenai sejarah.
"Saya percaya bahwa masyarakat yang dewasa bukanlah masyarakat yang menutup rapat masa lalunya, melainkan masyarakat yang mampu memandang sejarah dengan keberanian sekaligus kebijaksanaan. Melupakan memang terasa lebih mudah, tetapi memahami jauh lebih menyembuhkan," katanya.
Fileski berharap novel Tanah Terbelah (1948) tidak hanya dikenang sebagai kisah tentang konflik, tetapi juga sebagai ajakan untuk mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
"Saya berharap Tanah Terbelah (1948) dikenang sebagai ajakan untuk memilih kemanusiaan ketika dunia kembali menawarkan kebencian," tuturnya.
Kegiatan tersebut terselenggara berkat kolaborasi Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, MNC Publishing, Forum TBM Jawa Timur, IBP Madiun, NBS Edukasindo, Madioen AE, Selintas Madiun, komunitas literasi, sekolah, perguruan tinggi, relawan, serta dukungan aparat kepolisian dalam pengamanan acara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....