BMKG Nganjuk Jelaskan Soal El Nino Kuat dan Dampaknya bagi Warga Madiun Raya

  • 30 Jul 2026 16:38 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Indonesia saat ini disebut telah memasuki fase El Nino kuat. Kondisi tersebut diperkirakan menyebabkan penurunan curah hujan selama musim kemarau dan meningkatkan potensi kekeringan di sejumlah wilayah.

Prakirawan Stasiun Geofisika BMKG Nganjuk, Setiyaris, menjelaskan suatu kondisi dinyatakan sebagai El Nino apabila anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur berlangsung selama tiga bulan berturut-turut. El Nino sendiri terbagi dalam empat kategori, yakni lemah, moderat, kuat, dan sangat kuat, berdasarkan nilai anomali menghangatnya suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.

Setiyaris menyampaikan hasil pemantauan BMKG menunjukkan Indonesia saat ini telah memasuki fase El Nino kuat.

"Hasil monitoring dari BMKG di periode Mei, Juni, Juli 2026. Jika di rata-rata anomali di Samudra Pasifik mencapai 1,5 derajat Celcius, bahkan ini menunjukkan tren naik terus. Sehingga sudah bisa dikatakan saat ini kita sedang mengalami yang namanya El Nino dengan intensitas kuat," jelas Setiyaris, Kamis (30/7/2026).

Setiyaris menambahkan El Nino kuat menyebabkan suhu udara terasa lebih hangat dibandingkan suhu normal. Selain itu, fenomena ini juga membuat curah hujan selama musim kemarau menurun. Namun, tambah Setiyaris, dampak El Nino berbeda di setiap wilayah.

"Dampak dari El Nino yang utama adalah penurunan dengan curah hujan. Tetapi perlu juga dipahami tidak semua wilayah memiliki dampak yang sama. Ada beberapa wilayah yang memang sangat terpengaruh, tapi ada juga yang pengaruhnya tidak terlalu signifikan," lanjutnya.

Ia menambahkan kondisi berkurangnya curah hujan dapat menyebabkan pasokan air berkurang. Cuaca yang lebih kering, suhu yang panas, dan angin yang relatif lebih kencang juga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

"Untuk di Madiun memang yang lebih berpengaruh adalah kekeringan. Imbasnya, biasanya akan menyebabkan kebakaran hutan karena kondisi yang kering kemudian suhu yang panas, di musim kemarau juga anginnya relatif lebih kencang. Ini menyebabkan potensi kebakaran juga akan meningkat," jelas Setiyaris.

Meski demikian, Setiyaris menyampaikan El Nino tidak selalu berdampak negatif. Ia menyebut kondisi cuaca yang lebih kering justru dapat meningkatkan produktivitas bawang merah. Selain itu, petani garam di sejumlah daerah juga berpotensi memperoleh hasil dan kualitas garam yang lebih baik.

Setiyaris menyebut pihaknya memprediksi pengaruh El Nino paling signifikan terjadi pada Juli hingga November 2026. Kondisi tersebut juga diperkirakan menyebabkan awal musim hujan mundur, sehingga hujan baru mulai turun pada Desember di sejumlah wilayah.

"Tahun 2026 ini pengaruh El Nino yang signifikan itu di bulan Juli, Agustus hingga November. Kemudian di Desember sudah mulai masuk musim hujan lagi," tutur Setiyaris.

Masyarakat diimbau tidak perlu terlalu khawatir, namun tetap waspada terhadap dampak El Nino. Masyarakat di wilayah rawan kekeringan diminta mulai menghemat penggunaan air dan melakukan penyesuaian. Setiyaris juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan secara sembarangan karena berpotensi memicu kebakaran saat musim kemarau.

Selain itu, para petani diimbau menyesuaikan pola tanam dan memilih jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi cuaca yang lebih kering. "Para petani harus sudah bisa beradaptasi, menyesuaikan pola tanamnya dan memilih jenis tanaman apa yang akan ditanam terutama dalam menghadapi cuaca yang kering," pungkasnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....