Broken Home Tak Selalu Perceraian, Inilah Tiga Kategori Kondisi Keluarga

  • 25 Jul 2026 15:38 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun – Istilah broken home kerap digunakan masyarakat untuk menggambarkan keluarga yang mengalami perceraian. Namun, dalam kajian psikologi, kondisi tersebut memiliki pengertian yang lebih luas dan terdiri atas beberapa kategori yang berbeda.

Dosen Program Studi Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Kampus Madiun, David Ary Wicaksono, M.Si, menjelaskan bahwa masyarakat sering kali menyamakan semua bentuk ketidakutuhan keluarga sebagai broken home. Padahal, psikologi membedakannya ke dalam beberapa tingkatan berdasarkan kondisi yang dialami keluarga.

"Ketika kita berbicara terkait dengan broken home, dalam psikologi sebenarnya ada beberapa tingkatan atau kategori," ujar David, kemarin.

Ia menjelaskan, kategori pertama adalah broken home itu sendiri, yaitu kondisi ketika keluarga tidak lagi berfungsi secara utuh akibat adanya disfungsi dalam hubungan antaranggota keluarga. Situasi ini membuat keluarga kehilangan peran dan fungsi idealnya sebagai tempat tumbuh kembang yang sehat bagi setiap anggota.

Menurut David, kondisi tersebut tidak selalu ditandai dengan perceraian, tetapi dapat berupa konflik berkepanjangan, komunikasi yang buruk, hingga hilangnya keharmonisan dalam keluarga.

Selain itu, terdapat kategori kedua yang dikenal sebagai parental loss atau kehilangan figur orang tua.

Kondisi ini terjadi ketika salah satu orang tua meninggal dunia sehingga keluarga mengalami perubahan besar dalam dinamika pengasuhan.

"Parental loss terjadi ketika salah satu anggota keluarga, khususnya orang tua, meninggal dunia. Misalnya kehilangan ibu atau ayah, sehingga struktur pengasuhan dalam keluarga ikut berubah," jelasnya.

Sementara kategori ketiga berkaitan dengan perubahan struktur keluarga, misalnya keluarga dengan orang tua tunggal (single parent). Menurut David, kondisi ini merupakan bentuk perubahan struktur keluarga yang memiliki karakteristik berbeda dengan broken home maupun parental loss.

Ia menambahkan, ketiga kondisi tersebut memiliki dampak psikologis yang berbeda sehingga tidak bisa disamaratakan.

David juga menyoroti masih banyaknya anggapan di masyarakat yang menganggap setiap keluarga yang kehilangan salah satu orang tua otomatis termasuk broken home.

Menurutnya, pemahaman tersebut perlu diluruskan agar masyarakat tidak memberikan label yang kurang tepat kepada seseorang atau sebuah keluarga.

"Sering kali orang awam menyebut ketika salah satu anggota keluarga meninggal dunia, itu sudah disebut broken home. Padahal dalam psikologi, kondisi tersebut memiliki kategori tersendiri," jelasnya.

Melalui pemahaman yang lebih tepat mengenai istilah-istilah tersebut, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam memandang kondisi keluarga serta memberikan dukungan yang sesuai kepada individu yang sedang menghadapi perubahan dalam kehidupan keluarganya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....