Mengenal Cortisol Face, Benarkah Wajah Membulat akibat Stres?

  • 24 Jul 2026 19:16 WIB
  •  Madiun

RRI.CO.ID, Madiun - Belakangan ini istilah cortisol face ramai diperbincangkan di media sosial. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kondisi wajah yang tampak lebih bulat atau bengkak dan sering dikaitkan dengan tingginya kadar hormon kortisol akibat stres.

Meski banyak konten yang mengaitkan perubahan bentuk wajah dengan stres sehari-hari, para ahli mengingatkan bahwa istilah cortisol face bukan merupakan diagnosis medis resmi. Perubahan bentuk wajah dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, sehingga tidak bisa langsung disimpulkan sebagai akibat dari stres semata.

Kortisol merupakan hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal dan berperan penting dalam mengatur respons tubuh terhadap stres, metabolisme, tekanan darah, hingga sistem kekebalan tubuh. Dalam kondisi normal, hormon ini membantu tubuh beradaptasi dengan tekanan fisik maupun emosional.

Namun, kadar kortisol yang terus-menerus tinggi dalam jangka panjang, seperti pada penderita sindrom Cushing atau akibat penggunaan obat kortikosteroid dosis tinggi dalam waktu lama, dapat menyebabkan penumpukan lemak di area wajah sehingga muncul tampilan wajah membulat atau yang dikenal sebagai moon face.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet menjelaskan bahwa paparan kadar glukokortikoid atau kortisol yang berlebihan dalam waktu lama dapat menimbulkan perubahan fisik yang khas, termasuk wajah membulat (moon facies), penumpukan lemak di leher, serta peningkatan berat badan. Dalam artikel berjudul The Diagnosis and Differential Diagnosis of Cushing's Syndrome and Pseudo-Cushing's States menunjukkan bahwa perubahan bentuk wajah umumnya berkaitan dengan kondisi medis yang menyebabkan kelebihan kortisol secara kronis, bukan semata-mata akibat stres harian.

Karena itu, anggapan bahwa wajah yang tampak lebih penuh setelah mengalami tekanan pekerjaan atau kurang tidur merupakan cortisol face belum memiliki bukti ilmiah yang kuat. Wajah dapat terlihat lebih bengkak akibat berbagai penyebab, seperti retensi cairan, kurang tidur, pola makan tinggi garam, perubahan berat badan, konsumsi alkohol, hingga kondisi kesehatan tertentu.

Jika perubahan bentuk wajah disertai gejala lain seperti kenaikan berat badan yang tidak biasa, tekanan darah tinggi, atau kelemahan otot, pemeriksaan ke dokter diperlukan untuk mengetahui penyebab yang mendasarinya.

Menjaga kadar kortisol tetap seimbang dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti tidur yang cukup, rutin berolahraga, mengelola stres, serta mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Meski istilah cortisol face populer di media sosial, masyarakat perlu lebih bijak menyaring informasi kesehatan yang beredar.

Memahami perbedaan antara tren di internet dan bukti ilmiah menjadi langkah penting agar tidak mudah menyimpulkan kondisi kesehatan hanya berdasarkan perubahan penampilan wajah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....