Jangan Mau Menjadi Umat Nabi Muhammad SAW yang Bangkrut
- 23 Jul 2026 13:45 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Setiap manusia tentu ingin menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan membawa amal terbaik. Kita berlomba-lomba mendirikan salat, berpuasa, bersedekah, membaca Al-Qur'an, bahkan menunaikan ibadah haji dan umrah. Namun, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa banyaknya ibadah belum tentu menjamin keselamatan seseorang apabila selama hidup di dunia ia masih gemar menzalimi sesama.
Inilah yang menjadi pokok pembahasan dalam kajian Mutiara Pagi bertema "Jangan Mau Menjadi Umat Nabi Muhammad SAW yang Bangkrut", yang disampaikan oleh Ustadz Dr. H. Moh. Miftachul Choiri, S.Ag., M.A.
Dalam pemaparannya, Ustaz Choi panggilan akrabnya menjelaskan bahwa kehidupan di dunia bukanlah akhir dari segala-galanya. Setiap amal, ucapan, dan perbuatan manusia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah pada hari hisab. Tidak ada satu pun yang luput dari perhitungan-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
| Baca juga: Hikmah Hijrah Bersama Sahabat Nabi |
"Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (QS. Az-Zalzalah: 7–8)," kutipnya, Kamis, 23 Juli 2026.
Ayat ini menegaskan bahwa seluruh amal, baik maupun buruk, akan diperlihatkan pada hari kiamat. Tidak ada kesalahan yang tersembunyi dan tidak ada kebaikan yang sia-sia.
Menurut Ustadz Dr. H. Moh. Miftachul Choiri, salah satu bentuk kerugian terbesar yang akan dialami manusia di akhirat adalah kebangkrutan amal. Kebangkrutan ini bukan karena kekurangan ibadah, melainkan karena pahala yang telah dikumpulkan selama hidup habis untuk membayar kezaliman kepada sesama manusia.
Rasulullah SAW bersabda:
"Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut?" Para sahabat menjawab, "Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan harta benda." Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala salat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang karena pernah mencaci orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Maka pahala-pahalanya diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya. Jika pahalanya habis sebelum seluruh hak mereka terpenuhi, dosa-dosa mereka dipindahkan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka."
(HR. Muslim No. 2581).
Ustaz Choi menegaskan bahwa hadis ini memberikan pelajaran yang sangat mendalam. Banyak orang merasa telah cukup dengan ibadah ritual, seperti salat lima waktu, puasa Ramadan, zakat, sedekah, hingga berbagai amal kebajikan lainnya. Akan tetapi, jika lisan masih menyakiti orang lain, tangan masih mengambil hak yang bukan miliknya, hati masih dipenuhi kedengkian, atau jabatan digunakan untuk berbuat zalim, maka seluruh amal tersebut dapat habis pada hari hisab.
Lebih lanjut, Ustaz Choi menjelaskan bahwa proses hisab bukan sekadar menghitung jumlah amal, tetapi juga menyelesaikan seluruh hak manusia yang pernah dilanggar selama hidup di dunia. Orang yang pernah difitnah akan memperoleh haknya. Orang yang pernah dirampas hartanya akan memperoleh keadilan. Orang yang pernah dihina akan menerima penggantian dari pahala pelaku. Ketika pahala pelaku habis, dosa-dosa orang yang dizalimi dipindahkan kepadanya. Inilah yang disebut Rasulullah ﷺ sebagai kebangkrutan yang sesungguhnya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga mengingatkan:
"Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Allah lalai terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah hanya menangguhkan mereka sampai hari ketika mata mereka terbelalak." (QS. Ibrahim: 42).
Karena itu, setiap muslim dituntut untuk menjaga hubungan dengan Allah sekaligus menjaga hubungan dengan sesama manusia. Kesalehan tidak cukup hanya terlihat di masjid, tetapi juga harus tampak dalam kejujuran, amanah, kesantunan berbicara, menghormati hak orang lain, menjaga keluarga, berlaku adil dalam pekerjaan, serta menjauhi ghibah, fitnah, dan berbagai bentuk kezaliman.
Ustadz Dr. H. Moh. Miftachul Choiri mengajak umat Islam untuk memperbanyak muhasabah sebelum datang hari ketika penyesalan sudah tidak lagi bermanfaat. Selama masih diberi kesempatan hidup, hendaknya setiap orang segera bertobat kepada Allah, mengembalikan hak yang pernah diambil, melunasi utang, meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti, serta memperbaiki akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Ustaz Choi menegaskan bahwa keberhasilan seorang mukmin bukan hanya ketika mampu memperbanyak ibadah, tetapi juga ketika mampu menjaga agar pahala ibadah tersebut tetap utuh hingga menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebab, kebangkrutan yang paling mengerikan bukanlah kehilangan harta di dunia, melainkan kehilangan seluruh pahala di akhirat hingga berujung pada siksa neraka.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....